INFOGRAFIS

header ads

IDEOLOGI YANG TERPELINTIR


Dahulu, kini, dan nanti ialah sebuah garis waktu dimana selalu terjadi perubahan mabda(ideologi) tidak jarang perubahan ini menimbulkan polemik ataupun masalah baru. Adaptasi menjadi hal yang sulit dilakukan bahkan harus menerapkan pola ‘negasi ke negasi’ agar bisa terlepas  dari ideologi/paham lama, pola ini dikerjakan oleh pembawa paham baru atau kawan seideologi yang tidak paham inilah yang kemudian akan melanggengkan praktik pemelintiran paham karena hanya mengerti tanpa pemahaman, apalagi jika si pemelintir berada diposisi strategis kemudian dengan bangga menginterpretasikan jauh dari nilai sebenarnya.

Ideologi negara (pancasila) pernah terpelintir pada masa orba dengan nama asas tunggal untuk semata-mata memuluskan politik pemegang kuasa keluarga cemara, imbasnya kehidupan yang heterogen sebagai satu kelebihan indonesia dalam menampung berbagai macam paham harus patuh pada satu komando yaitu asas tunggal. Lantas apakah nilai-nilai pancasila tidak terakomodir dalam konsep asas tunggal itu? Dengan lantang harus dikatakan tidak! Untuk perbandingan dapat dibaca dalam pidato 1 juni bung karno dan baca literatur kritik atas pemerintahan orba dari berbagai sumber. Pancasila yang terbukti dapat mengakomodir berbagai paham dari kaum seperti nasionalis, komunis, dan agamais dll yang kemudian muncul akronim (nasakom) sebagai bentuk pengamalan nilai-nilai pancasila atas semboyan bineka tunggal ikha(berbeda-beda tapi tetap satu), pancasila hadir sebagai konsensus atas konteks Indonesia dahulu, kini, dan nanti.

Berbicara tentang paham yang pernah dibumi hanguskan karena tidak sepemahaman dengan pancasila versi orba karena dicap ‘kiri’, kaum kiri lekat akan aktivitas krtik/perlawanan atas ketidak adilan maka nahkoda orba menggaungkan penghapusan paham kiri sampai keakar-akarnya dengan dilegitimasinya TAP MPRS nomor XXV/MPRS/1966 yang sampai sekarang belum dicabut, seperti yang diketahui siapa pun yang berusaha mengkritik pemerintahan orba akan diantarkan ke rahmatullah atau setidak-tidaknya akan dipenjara bahkan pendidikan sejarah harus sesuaikan dengan versi nahkoda orba, ini mencederai sejarah dan dunia pendidikan Indonesia sebegitu alerginya pada paham kiri padahal pancasila terbentuk karena peran serta paham-paham kiri, bahkan sukarno pernah menyatakan bahwa pancasila itu kiri sebagaimana terkandung dalam 5 silanya yang memperjuangkan kesamaan nasib tanpa diskriminasi.

Masuk pada era reformasi yang masih melanggengkan bahaya laten paham-paham kiri belum sepenuhkan mereformasi pemikiran anak bangsa sebab, kejadian tumbangnya orba tidak coba mematakan stigma-stigma yang sudah tumbuh subur sampai sekarang, pola negasi ke negasi tidak diterapkan meskipun kepala orba sudah terpotong tapi masih memiliki jiwa, disisi lain aktivis/mahasiswa pada saat itu hanya fokus memutus rantai kepemimpinan suharto dan menyerahkan pada kaum tua mengurus negara dan mahasiswa pulang ke kampus untuk fokus berkuliah yang katanya biar pintar dunia akhirat, karena kembali fokus berkuliah tidak sedikit mahasiswa kemudian asing dengan marxis, lenin, mao, tan malaka, kartosoewirjo, adi tirto surjo, bahkan sukarno hanya dikenal sebagai presiden pertama RI tidak lebih dari itu. Maka berhasillah rezim orba menjauhkan penjiwaan pancasila yang sesungguhnya dan sejarah Indoneisa sebenarnya, mahasiswa/pemuda kemudian hanya memikirkan bagaimana cara memuaskan kampung tengah dan kampung bawah saja urusan kemanusian, ekonomi, dan negara itu urusan pihak eksekutif, legistatif, dan yudikatif negara. Pendidikan juga sukses mengindividualisasi civitas akedemika dan memprivatkan diri dari dunia luar padahal pendidikanlah seharusnya menjadi ujung tombak pembentukan insan berbudi pekerti bukan sebagai sebuah produk dagang pasar bebas (liberal).

Neoorba menurut saya adalah istilah yang pas untuk mengambarkan kondisi era reformasi ini semakin dikuatkan dengan korupsi yang merajalela, pendidikan masih untuk yang berduit, krisis HAM menjamur, dan baru-baru ini keluarnya perpu ormas mengindikasikan ruang demokrasi perlahan-lahan mulai ditutup nyaris kembali pada zaman orba dengan wajah baru dan masih banyak lagi masalah di negeri ini.  Mata rantai ini hanya bisa diputus jika kita kembali menanamkan nilai-nilai pancasila sesuai dengan pidato 1 juni sukarno dalam sanubari tiap-tiap insan bumi pertiwi, mahasiswa harus mau membaca Nusantara ini secara menyeluruh serta jangan anti dengan paham-paham kiri, mahasiswa jangan buta politik, dan menjadi pelajar timur yang baik mau belajar dari barat. Kenapa pemuda/mahasiswa sebab ditangan merekalah dapat mempelopori perubahan bersama rakyat Indonesia.

JIKA ADA 1000 ORANG YANG MEMPERJUANGKAN KEBENARAN, MAKA PASTIKAN AKU SATU ANTARANYA.

JIKA ADA 100 ORANG YANG MEMPERJUANGKAN KEBENARAN, MAKA PASTIKAN AKU SATU ANTARANYA.

JIKA ADA 10 ORANG YANG MEMPERJUANGKAN KEBENARAN, MAKA PASTIKAN AKU SATU ANTARANYA.

JIKA ADA 1 ORANG YANG MEMPERJUANGKAN KEBENARAN, MAKA PASTIKAN DAN SAKSIKAN ITULAH AKU!!!


Penulis : MAX PRAM

Post a comment

0 Comments