INFOGRAFIS

header ads

Strategi Membangun Industri Nasional Indonesia

Kondisi bangsa Indonesia hari ini semakin terjerumus ke jurang budaya konsutivisme. Indonesia yang memiliki penduduk 200 jutaan lebih menjadi wilayah pasar perebutan negera-negara produsen dunia. Hal ini dapat terlihat dengan semakin merajalelanya produk-produk luar negeri yang menguasai pasar Indonesia. Seperti Yamaha, Honda, Suzuki, Toyota, Mitsubishi yang mengusai pasaran otomotif. Begitupun di pasaran ponsel pintar, Samsung, OPPO, Vivo, Iphone, xiaomi masih setia mempertahankan hegemoninya. Di sektor telekomunikasi Amerika berkuasa lewat Facebook, Whatshap, Instagram, Google, Telegram Twiter. Dan yang terbaru di sektor transportasi online Malasya coba menancapkan kedikdayaannya melalui Grab.

Akibat budaya konsutivisme masyarakat Indonesia digiring untuk bergantung pada produk-produk luar negeri. Sadar atau tidak sadar prilaku ketergantungan ini telah membunuh bibit-bibit kreativitas masyarakat Indonesia. Barangkali Indonesia perlu sedikit berkaca pada Jepang yang coba bangkit dari kehancuran pasca meletusnya bom Atom di Nagasaki dan Hiroshima. Dan Bagaimana Jepang membangun Industri dalam negerinya sampai akhirnya bisa menguasai pasar global ?

Jepang adalah salah satu negara macan Asia yang hidup dengan keterbatasan sumber daya alam. Peristiwa bom atom sempat menggoyahkan ekonominya. Namun perlu diketahui demi  memulihkan diri, hal pertama yang dilakukan Jepang bukanlah membenahi infrastuktur fisiknya melainkan yang dibenahi pertama adalah Infratuktur sosialnya yakni pendidikan masyarakatnya. Sesuai amanat Restorasi Meiji yang mengploklamirkan “Sumpah Setia” dan salah satu isinya “Kesempatan memperoleh pendidikan seluas mungkin untuk kemajuan negara”, Pasca Perang dunia II Jepang mengirim anak negerinya belajar ke Barat namun ketika selasai harus pulang, serta menggunakan ilmunya untuk membangun negeri. Hal serupa juga pernah dilakukan oleh Indonesia di era Orde Lama, sungguh sangat disayangkan buah program Indoktrinisasi Orde Lama belum memasuki masa panen Soekarno sudah di kudeta. Dan ketika para pelajar Indonesia yang berdiaspora keluar negeri sudah menyelesaikan studi, banyak yang tidak kembali sebab rezim baru tidak menjamin mereka. Sedikit kisah pelajar Indonesia yang mengikuti program indoktrinisasi Orde Lama sempat di muat dalam film “Surat dari Praha”. Ada kemungkinan jika program Indoktrinisasi Orde lama berhasil, bangsa Indonesia barangkali bisa bersanding dengan Jepang sebagai Macan Asia.

Kenyataan sekarang seperti di gambarkan sebelumnya, budaya konsutivisme telah melanda bangsa Indonesia. Dalam analisis Marxis, budaya konsutivisme adalah salah satu strategi Kapitalisme untuk  mengatasi over (kelebihan) produksi di negaranya atau dengan kata lain perluasan pasar produk kapitalisme. Kapitalisme berkuasa di Indonesia dengan metode penjajahan gaya baru melalui sendi ekomomi. Hal ini sangat jauh melenceng dari cita-cita kemerdekaan Indonesia yang anti penjajahan dalam bentuk apapun. Indonesia harus mandiri, untuk menuju kemandirian tersebut, bangsa Indonesia harus memiliki Industri nasional sendiri. Dan untuk mengembangkan Industri Nasional ada tiga hal yang harus disiapkan Bangsa Indonesia yakni :

1.    Lembaga Riset
Lembaga riset bertujuan sebagai sarana untuk meneliti teknologi apa yang dibutuhkan pasar, mencipta dan melakukan inovasi teknologi, serta penilitian untuk produksi masal. Lembaga riset dapat diupayakan langsung oleh pemerintah atau bisa melalui perguruan tinggi. Lembaga riset menjadi wilayah kerja utama Engineer.

2.    Modal
Untuk keperluan riset maupun produksi tentunya memerlukan modal. Modal tidak boleh dari pihak asing. Jika negara belum mampu menyediakan modal, negara bisa melibatkan masyarakatnya secara kolektif dalam mengumpulkan dana. Seperti yang sudah dipraktekan pada proyek pembuatan pesawat R80 rancangan BJ Habibie.   

3.    Regulasi Pemerintah
Regulasi pemerintah bertujuan untuk mendorong adanya industri nasional atau melindungi produk industri nasional/lokal. Melalui regulasi, pemerintah dapat membatasi merajarelanya produk asing di dalam negeri. Seperti halnya yang dilakukan jepang dalam merintis industri otomotifnya di masa lampau, demi berkembangannya produk otomotif dalam negeri pemerintah jepang membatasi masuknya produk mobil Amerika.

Saat ini hal yang paling sulit diwujudkan di Indonesia dalam membangun industri nasional yakni regulasi pemerintah. Pemerintah seakan belum mendukung adanya industri nasional di Indonesia. Hal ini membuat banyak Engineer Indonesia yang hebat-hebat nyaman bekerja di luar negeri sebab di Indonesia sendiri mereka tidak di hargai sedangkan di luar, karya mereka sangat dihargai. Masih hangat dalam ingatan di tahun 2015 silam terjadi kehebohan, salah satu mobil listrik karya anak bangsa dinyatakan tidak lulus uji emisi padahal faktanya mobil listirk tidak memiliki emisi gas buang sebab tidak menggunakan BBM. Yang terbaru ditahun 2017 pemerintah menyatakan bahwasannya Indonesia belum mampu membuat mobil listrik oleh karena itu Indonesia harus mengimpor dulu mobil listrik dari luar. Hal ini sangat kontradiksi dengan fakta lahirnya “SELO” mobil listrik murni buatan anak bangsa.

Untuk itu masyarakat harus mendorong pemerintah segera membuat regulasi sebagai penunjang industri nasional Indonesia. Sebab tidak seperti di era Orde lama, kini banyak SDM Indonesia yang benar-benar sudah mampu mewujudkan adanya industri nasional tersebut.  

Penulis : LAW

Referensi :
-         -  Buku Mono Zukuri Rahasia Mencapai Produk Berkelas Dunia, Penulis Enjinia Nusantara

-          - Buku Trisakti Bung Karno Untuk Golden Era Indonesia, Penulis Paharizal, S.Sos.,MA.

-          - Hasil diskusi pribadi penulis dengan Saudara Ivan mahasiswa Indonesia S2 Jurusan Manajemen      Teknologi yang kuliah di Belanda. Diskusi berlangsung di Ciheras, Jawa Barat (15/09/2017)

Post a comment

0 Comments