INFOGRAFIS

header ads

Bobroknya Demokrasi dan Hilangnya Politik Etis di Indonesia



Indonesia merupakan Negara demokrasi, dimana sistem pemerintahannya dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Sistem demokrasi sendiri berasal dari Yunani Kuno yang diterapkan pada abad ke-6 sampai ke-3 sebelum masehi di mana  jenis demokrasinya adalah demokrasi langsung. Demokrasi langsung adalah suatu bentuk pelaksanaan pemilihan pemerintahan secara langsung oleh seluruh warga Negara. Hadirnya demokrasi sendiri di Indonesia di harapkan mampu menciptakan konstelasi yang egaliter di mana seluruh rakyat memiliki persamaan hak dengan tidak melihat status sosial yang di sandang oleh setiap individu. Dengan terciptanya  masyarakat yang egaliterian TOH diharapkan mampu menciptakan kesejahteraan rakyat dan situasi Negara yang kondusif dengan masyarakat yang partisipasi aktif dan peduli dalam penyelenggaraan pemerintahan Negara.

Namun jika melihat hiruk pikuk politik yang ada di Indonesia di zaman kontemporer ini, sangat miris sekali. Tidak adanya politik etis, yang ada hanyalah demoralisasi politik.  Kawan jadi lawan, bahkan darah daging bukanlah suatu ukuran. Sehingga tercipta rasialisme yang berimbas lahirnya disintegrasi antar kelompok,  keluarga, suku, agama. Benar kata soe hok gie bahwa “patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan”. Rasa cinta terhadap tanah air tidak akan  lahir dari slogan-slogan cantik  yang digunakan sebagai alat figuritas public seorang calon dan juga hipokrisi/kemunafikan. Banyak pemimpin kita yang sepak awalnya selalu mengumbar janji-janji politiknya dan juga slogan-slogan cantikya. Namun secuilpun tidak ada manifestasi yang real, Yang ada hanyalah kebohongan belaka.  Tidak ada jiwa patriotisme, kepentingan dan eksploitasi adalah prioritas utama. Munafik bukan?

Dampak lain dari bobroknya system demokrasi di Indonesia adalah terjadinya perpecahan antara suku, agama, bahkan keluarga sekalipun. Ini perlu kita renungkan ada apa sebenarnya dengan system demokrasi kita. Adian Napitupulu juga mengatakan bahwa “ Musuh kita bukanlah suku atau agama yang berbeda, melainkan kekuasaan yang menindas”. Tapi sayang perkataan itu sekarang Ibarat Balon-balon sabun yang terbang keatas udara. Ini jelas sekali sutu kegagalan nyata dari Demokrasi Kita.

Jika kita menilik pergolakan politik di Indonesia, cara yang paling marak di gunakan oleh para calon pemimpin bangsa baik itu tingkat daerah, provinsi ataupun pusat adalah politik Uang/money politic atau politik daging sapi. Seluruh rakyat hanya di jadikan komuditas politik, Dengan membagi-bagikan uang yang diharapkan mampu meninggkatkan figuritasnya sebagai pemimpin, sebut saja Serangan Fajar.  Setelah mereka berhasil menduduki kursi kekuasaannya, rakyat dilupakan dan yang terpenting adalah menghisap uang sebanyak-banyaknya untuk memperkaya diri ataupun mensejahterakan anjing-anjing  kaki tangannya. Tidak ada transparansi anggaran, tidak ada partisipasif masyarakat dan mewariskan beban berupa  meningkatnya utang Negara, naiknya nilai tukar rupiah, pembangunan yang setengah matang dan sebagainya. Mereka yang menjunjung tinggi demokrasi justru mereka sendiri yang mencederainya.

Banyak sekali Pemimpin bangsa, pejabat Negara yang muncul di social media dengan Indikasi Korupsi, penyalahgunaan anggaran, Penyalahgunaan wewenang dan sebagainya. System pemerintahan di Indonesia tidaklah amat sekali di katakana Demokrasi, Melainkan Sistem Kleptokrasi. Mengapa saya katakana demikian? Kleptokrasi adalah system pemerintahan dimana pemimpinnya adalah seorang pencuri, perampok, Bandit berdasi, yang intinya dia suka korupsi. System kleptokrasi sendiri berawal dari Revolusi Industri di eropa dan pasti kata kleptokrasi ini masih terdengar asing di telinga masyarakat ataupun orang-orang Intelektual. Tapi inilah pandangan saya terhadap situasi perpolitikan di Indonesia. Pemimpin-pemimpinya banyak yang melakukan tindakan menjijikan (korupsi) . Sebut saja Akil mukhtar  dan CS terkait kasus Bank Century yang merugikan uang negra sebesar 6,7 Triliun, angka yang amat besar bukan. Lantaran Marahnya, sebagian Para Ulama mengakatan “ kalau mimpi basah akil balig, tetapi kalau ketangkap basah Akil mukhtar “. Kegagalan demi kegagalan  yang sama terus terjadi berulang kali spesifiknya adalah Pemimpin yang kecanduan korup. Mungkin ini barangkali sehingga dikatakan sejarah pasti berulang. Dan kita masih saja gagal dalam mengambil pelajaran dari sejarah pengalaman kita seperti pernytaan bahwa “orang-orang yang gagal mengambil pelajaran dari sejarah maka orang-orang tersebut akan mengulang pengalaman pahit dari sejarah kegagalanya tersebut “. Begitulah keadaan kita , keadaan Negara kita sekarang ini yang tidak bisa tertepiskan.

Masih banyak lagi kegagalan dari system demokrasi kita dan juga hilangnya poilitik etis masyarakat. Pendidikan politik kepada masyarakat mestinya perlu di lakukan di setiap kalangan masyarakat agar terciptanya masyarakat cerdas politik, begitu saya menyebutnya. Masyarakat yang anti sogok, masyarakat yang cerdas memilih sesuai dengan hati nurani, masyarakat yang tangguh dari intervensi luar. Kalimat yang perlu di ingat dalam menyikapi politik uang adalah “ Ambil saja uangnya, tapi jangan pilih orangnya atau lebih baik jangan ambil uangnya juga jangan pilih orangnya”. Jika kalimat tersebut bisa di Indahkan oleh kalangan masyarakat menurut saya akan lebih baik di banding sebelumnya.

Saya sendiri memiliki opini bahwa pemerintahan yang baik adalah pemerintahan yang dijalankan  dengan T P A( Transparansi, Partisipasi, dan Akuntabilitas ). Jika pemerintahan telah Tranparansif atau adanya keterbukaan public terkhusus dalam hal  pengelolaan anggaran, yang kemudian  dalam pengambilan kebijakan adanya Partisipasif/keikutsertaan rakyat, dan setelah itu segala sesuatu output yang di hasilkan adalah Akuntabilitas/ pertanggung jawaban pemerintah dan rakyat. Baik dan buruknya di elaborasi bersama oleh keduanya sehingga terciptalah kesetaraan atau keseimbangan antara pemerintah dan rakyatnya.

Bangun Persatuan Nasional,
Hentikan Imperialisme.
Menangkan Pancasila!


Penulis : Kawan Hafiz (DPO EK-WIL LMND SULTRA)

Kawan Hafiz (Mahasiswa PKN 014 FKIP UHO)

Post a comment

0 Comments