INFOGRAFIS

header ads

Ini Panggung Gerakan Man, Bukan Panggung Indonesian Idol


Memasuki Minggu kedua Januari 2018, masyarakat Sulawesi Tenggara (SulTra) digegerkan dengan aksi heroik sejumlah warga Laonti yang bermodalkan perahu kayu menghadang kapal pembawa alat berat milik sebuah perusahaan tambang di Konawe Selatan. Bentrokan pun tak terhindarkan hingga memakan korban timah panas dari pihak masyarakat. Sang korban akhirnya terpaksa dilarikan di rumah sakit propinsi Sulawesi Tenggara untuk mendapat penanganan medis.

Pasca kejadian, beberapa media online lokal tidak lupa memuat berita penembakan salah satu warga Laonti di halaman utamanya. Sontak hal ini mengundang rasa simpati para mahasiswa terkhusus mahasiswa UHO kendari untuk sekali lagi turun ke jalan meneruskan semangat api perjuangan masyarakat Laonti. Tepatnya hari senin 22 januari 2018, atas nama Keluarga Besar Mahasiswa (KBM) UHO sejumlah mahasiswa keluar kandang menyambangi Kantor DPRD Propinsi sekaligus POLDA Sultra dalam bingkai memperjuangkan hak-hak masyarakat Laonti sekaligus mengusut tuntas tindakan represif kepolisian yang telah memakan korban dari pihak warga Laonti.

Sejak gerakan KBM UHO bermula telah muncul benih-benih keanehan, KBM UHO merupakan representasi dari seluruh mahasiswa UHO. Mahasiswa UHO yang jumlahnya puluhan ribu tapi kok, ketika aksi KBM hanya puluhan mahasiswa saja yang terlibat,,,! Memang berdasarkan pengalaman-pengalaman tahun sebelumnya aksi KBM UHO tidak sampai diikuti oleh ribuan mahasiswa tapi selalunya bertahan diangka ratusan. Jumlah puluhan adalah hal yang tidak wajar untuk masa aksi setingkat KBM. Ada apa dan kemana yang lainnya di …?

Sampai akhirnya gelap kebingungan tersentuh cahaya jawaban ketika aksi sampai di area POLDA SulTra. Rupanya ada tiga platform gerakan yang memperjuangkan hak-hak masyarakat Laonti kala itu. Diantaranya gerakan yang dibangun oleh Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan gerakan yang dibangun oleh KBM UHO. Tapi kan masih dua, katanya tiga,,,yang baca pasti bingung kan,,,? Jangankan yang baca, penulis saja sendiri yang buat ini tulisan bingung..!

Cek per cek,,,telah terjadi dualisme ditubuh KBM UHO itu sendiri. Kubu pertama KBM yang dimotori oleh BEM UHO melalui menteri Pergerakannya. Trus kubu satunya lagi KBM yang didalangi oleh MPM dan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) UHO. Kayak KNPI saja dua kubu pa…!

Penulis bersyukur ketika masyarakat Laonti mengalami ketertindasan mahasiswa UHO semangat untuk membelanya. Terbukti sampai ada perlombaan siapa sebenarnya yang punya hak untuk menggalang kekuatan gerakan membawa KBM UHO, bahasa kerennya BEM vs MPM dibantu UKM menuju tahta KBM UHO. Isu Laonti merupakan isu yang lagi viral di Sulawesi tenggara, logikanya siapa yang membelanya pasti akan ikut viral juga. Masih hangat dalam ingatan ketika Setia Novanto (Setnov) membuat heboh Indonesia dengan sikapnya yang coba lari dari jeratan KPK. Meskipun dimata masyarakat umum menganggapnya bersalah sebab selalu mangkir dari penyelidikan KPK tapi tetap saja seorang Fredrich Yunadi (Sang Pengacara) membela Setnov. Iapun (Fredrich Yunadi) akhirnya mendapat kepopuleran dengan selalu disorot media ketika peliputan tentang kasus Setia Novanto. Fredrich Yunadi sangat kontroversi ya,,,! Samami kune dengan kontroversinya dualisme KBM UHO dalam membela masyarakat Laonti.

BEM dan MPM merupakan kelembagaan mahasiswa yang masing-masing mempunyai fungsi eksekutif dan Legislatif. Kalau UKM sendiri, penulis kurang tahu mempunyai fungsi apa, terlebih lagi fungsi UKM di bidang gerakan Kemahasiswaan. Kemudian terkait siapa yang berwenang memotori gerakan atas nama KBM tinggal para pembaca simpulkan sendiri.

Dualisme KBM UHO mengindikasikan adanya hasrat menjadi artis utama dalam gerakan membela masyarakat Laonti. Derita masyarakat Laonti bukanlah jalan meraup kepopuleran. Terlebih lagi panggung gerakan bukanlah panggung mencetak artis. Jika ingin menjadi artis, stop jadi aktivis gerakan silahkan jajal panggung Indonesian Idol. Maka yakin dan percaya engkau akan jadi artis,,,itupun kalau lolos audisi..!


Penulis : Pena Hitam    

Post a comment

0 Comments