INFOGRAFIS

header ads

Melawan Stigma Horor Tanah Wawonii


Sebagai masyarakat Sulawesi Tenggara mendengar kata Wawonii, pasti secara umum yang ada digambaran mereka tidak jauh dari kata doti-doti. Sejak dulu masyarakat wawonii dianggap pandai doti-doti (semacam pelet atau guna-guna) katanya, pandai mengguna-gunai orang hingga sakit dan tak bisa diobati dengan cara medis. Karena hal itu Masyarakat luar Wawonii segan berteman, atau menjalin hubungan serius dengan orang Wawonii. Takut ancaman doti-doti jika sampai hati menyakiti orang wawonii. Sadar atau tidak sadar stigma negatif ini telah memarginil orang-orang yang berlabel wawonii.

Manusia itu makhluk sosial, makhluk yang selalunya membutuhkan orang lain. Sulawesi Tenggara  terdiri dari kumpulan manusia yang bersuku-suku,yang dalam keberlangsungan hidup mereka tercipta hubungan saling membutuhkan. Orang muna, tolaki, buton entah karena alasan ekonomi, politik ataupun masalah hati pasti ada kalanya membutuhkan interaksi dengan orang Wawonii. Interaksi lintas suku, Muna, Buton, Tolaki, ataupun Wawonii tak akan terhindarkan. Suatu interaksi yang baik akan tercipta atas dasar kepercayaan. Atas dasar penilain positif terhadap lawan interaksi bukan atas dasar sikap curiga bahwa salah satu etnis punya ilmu hitam dan jago doti-doti.

Penulis sendiri merupakan etnis Muna,  umumnya stigma tentang Wawonii di Muna seperti ungkapan diawal tulisan ini.  Stigma miring tentang Wawonii terbangun berkat cerita dari mulut kemulut yang kebenarannya belum pasti tapi masyarakat Muna menganggapnya sebagai kebenaran. Kebanyakan masyarakat Muna sungkan bergaul dengan orang Wawonii karena stigma miring tersebut. Jika sudah demikian masyarakat Muna yang masih merawat stigma  tersebut tidak akan mampu menciptakan interaksi yang baik dengan seseorang dari Wawonii.

Menjustis Wawonii dengan segala praduga bermodalkan cerita dongeng masyarakat adalah sebuah kekeliruan. Untuk mengenal jauh seseorang tentunya kita harus bertemu lebih dulu dengan orang tersebut. Fakta orang tersebut baik dan tidaknya akan diperoleh ketika sudah ada pertemuan.  Begitupun perihal Wawonii, ingin mengetahui Wawonii maka harus berkunjung ke Wawonii, kemudian membaur ke masyarakat. Penulis sudah membuktikannya, Wawonii sama seperti daerah lain. Pulaunya aman untuk dikunjungi, orang-orangnya bermasyarakat tak sungkan berbagi cerita dan sangat menyangsingan orang-orang yang masih memelihara stigma miringnya tentang Wawonii.

Wawonii sebuah daerah pemekaran baru, daerah yang terus berlari mengejar ketertinggalan dari daerah lain. Infrastruktur jalan, listrik dan telekomunikasi terus digenjot pembangunannya.   Jalan jalan di Wawonii masih dalam tahap pembangunan, sebagaian besar belum teraspal. Masyarakat Wawonii nanti ditahun 2017 baru bisa menikmati listrik siang malam. Sebelumnya mereka menikmati listrik hanya pada waktu malam saja. Namun tidak semua wilayah Wawonii mersakan listrik 24 Jam, masih ada daerah yang menikmati listrik hanya pada malam hari saja. Untuk jaringan telekomunikasi hanya wilayah sekitaran ibu kotanya saja yang tidak pelit signal, yakni sebagian daerah Wawonii Barat dan Wawonii Tengah serta Wawonii Selatan. Daerah-daerah ini sudah ada jaringan 4G.

Bagi yang suka berwisata, di Wawonii ada sebuah air terjun eksotis nan indah. Silahkan berselancar di google ketik Air Terjun Tumburano, itulah nama air terjunnya. Dari segi budaya,  ada sebuah budaya unik di Wawonii ketika ada pesta rakyat. Didaerah lain biasanya yang memasak nasi dan cuci piring itu adalah kelompok perempuan.  Beda halnya di Wawonii, disetiap acara pesta yang mencuci piring dan memasak nasi para lelakinya. Para perempuan hanya memasak lauk pauk beserta kue-kue yang perlukan. Dari segi penduduk, masyarakat Wawonii itu multi etnis. Selain pribumi, di Wawonii berdiam pula etnis Muna, Buton, Tolaki,  Menui (etnis dari Sulawesi Tengah), dan Bajo. Tidak heran kita bisa menemukan perkampungan yang didominasi para etnis tersebut. Salah satunya desa Mata Baho, Kecamatan Wawonii Barat, semua penduduknya adalah etnis Muna Buton.

Kepada setiap pembaca yang masih tidak beranjak dari stigma miring tentang Wawonii. Segerakan diri berkunjung ke Wawonii dan buktikan sendiri faktanya. Masyarakat Wawawonii tidak ingin dianggap jago doti-doti. Masyarakat Wawonii hanya ingin benar-benar melihat pembangunan itu nyata. Listrik 24 jam, jaringan seluler di semua desa dan jalan mulus di semua daratan Wawonii.

Penulis: La Ode Abdul Wahid (Mahasiswa KKN UHO 2018 wilayah Konawe Kepulauan)

Post a comment

0 Comments