INFOGRAFIS

header ads

Teknologi Ancam Budaya Gotong-Royong Petani dan Lahirkan Kelas Penindas Baru


Jika lingkungan hidup kita di pedesaan tentunya kita tidak akan asing dengan kata gotong royong. Budaya yang masih terjaga di desa-desa dimana proses menyelesaikan kerja yang selalunya dilakukan bersama demi kepentingan bersama. Tak terkecuali di bidang pertanian, budaya gotong royong dipraktekan dalam hal pembukaan/pembersihan lahan, penanaman/pembibitan hingga proses pemanenan. Berkat budaya gotong royong, biaya dan waktu produksi petani dapat terpangkas.

Demi menciptakan keadilan biasanya, budaya gotong royong dilaksanakan secara bergilir dan timbal balik. Misalnya jika Si A ingin dibantu sama si B, si C atau si D dalam mengelola lahan pertaniannya maka Si A wajib pula membantu si B, si C atau Si D. Begitupun yang lain harus melakukan hal tersebut. Para petani bahu membahu dan totalitas dalam melakukan Gotong royong meskipun luas lahan mereka berbeda-beda. Jika Si A memiliki lahan 1 Hektar dan Si B lahannya 2 Hektar, meskipun si A lahannya 1 hektar tetap saja si A akan sukarela membantu si B secara total.

Zaman terus berubah teknologi pertanian pun ikut berkembang. Dimasa lampau penemuan paling mutakhir adalah logam yang menggantikan batu sebagai alat pertanian. Kapak batu digantikan perannya oleh kapak logam dalam membuka lahan pertanian. Pergantian ini selain dapat mengurangi jumlah pekerja, bisa pula mengurangi waktu kerja. Berkat kerja otak manusia alat pertanian dari logam berhasil bermetamorfosis menjadi mesin-mesin pertanian. Untuk menggemburkan tanah petani tidak lagi menggunakan cangkul melainkan traktor. Untuk menebang pohon tidak membutuhkan lagi kapak, sudah ada mesin penebang pohon. Begitupun jika ingin menanam padi atau jagung, sekarang sudah ada mesin penanaman otomatis. Hadirnya teknologi tentu akan mengefisienkan kerja petani. Sebab teknologi dapat memangkas biaya serta waktu produksi. Namun disisi lain hadirnya teknologi akan mengikis budaya gotong royong petani dan menumbuh suburkan watak individualis. Karena petani yang memiliki teknologi merasa bisa mengerjakan sendiri proses produksi pertaniannya.   
    
Umumnya rata-rata petani di Indonesia merupakan rakyat yang putus sekolah. Rakyat yang masih kaku dengan pengetahuan terlebih masalah teknologi. Semua petani dapat menggunakan cangkul namun tidak semua petani dapat mengoperasikan traktor. Rata-rata petani dapat menggunakan kapak namun tidak semua akan mampu mengoperasikan mesin penebang pohon. Semua petani biasa menanam menggunakan tangan, tapi tidak semua mampu mengoperasikan mesin tanam otomatis. Dan yang terpenting biaya pengadaan teknologi pertanian tidaklah murah dan jelas tidak semua petani akan mampu membelinya.

Teknologi merupakan alat produksi petani, dalam analisis marx perbedaan penguasaan alat produksi akan menimbulkan pertentangan kelas. Ketidak mampuan petani memiliki teknologi pertanian dapat membuka peluang individu bermodal sebagai penyedia sewa teknologi pertanian. Ketika petani sudah menyewa teknologi pertanian namun tidak mampu mengoperasikannya, petani kembali membutuhkan individu yang mampu mengoperasikan teknologi tersebut. Dengan begitu tercipta rasa ketergantungan petani kepada Individu penyedia dan yang mampu mengoperasikan teknologi pertanian. Teknologi yang awalnya sebagai pemangkas biaya produksi petani, namun jika petani tidak menguasainya tetap akan memberbanyak biaya produksi sebab harus menyewa alat dan jasa.

Untuk itu teknologi pertanian harus menjadi kepemilikan bersama dan cara pengoperasiannya juga harus dikuasai bersama oleh petani. Dan semua, ada peluang akan terwujud jika saja Dana Desa pengelolaannya berpihak pada kesejahteraan Petani.

Hidup Petani Indonesia…!
Bangun Perstuan Nasional ...!
Hentikan Imperialisme ...!


Penulis: LAW

Post a comment

0 Comments