INFOGRAFIS

header ads

Bagaimana Dunia Maya Dorong Politik Identitas



Kita melihat bahwa para elite cenderung pragmatis hanya memikirkan kemenangan semata. meskipun itu dilakukan dengan melakukan pembelahan yang tajam di tengah masyarakat. Alih-alih menjadi bagian penting dalam menyehatkan jalannya demokrasi, para elite justru menjadi bagian dalam menghancurkan demokrasi.

Politik identitas akan digunakan sebagai strategi politik karena kemanjurannya dalam menggalang simpati massa dalam waktu yang relatif singkat.

Arah Pemilihan Gubernur (Pilgup) Sulawesi Tenggara (Sultra) mencoba membuktikan bahwa kampanye menggunakan sentimen identitas dapat mendongkrak popularitas tokoh dalam waktu singkat.

Dalam protes terhadap kasus tersebut, narasi dominan yang muncul adalah isu etnis yang merupakan mayoritas terus menerus dipinggirkan oleh penguasa. Ketakutan akan "Terpinggirkan meskipun mayoritas" ini mungkin akan menjadi propaganda yang efektif untuk mendapatkan dukungan massa.

Penggunaan politik identitas akan semakin meningkat dalam tahun-tahun ke depan akibat imbas dari meningkatnya tingkat literasi digital masyarakat.

Dalam era digital saat ini, perdebatan politik publik telah berpindah ruang, dari ruang nyata ke ruang maya. Ruang maya memiliki karakteristik berbeda dengan dunia nyata, di mana akses publik lebih besar, siapapun dapat berpendapat dan lebih panjang dalam lingkup waktu. Sehingga perdebatan politik dalam ruang maya sebetulnya memiliki potensi untuk memiliki dampak lebih luas dan mendalam kepada publik.

Akibat kepraktisan dan daya jangkaunya yang luas, operasi politik menggunakan media sosial acap kali digunakan oleh simpatisan, relawan, bahkan tim siber yang dibangun oleh Parpol untuk menyebarkan kampanye politik.

Ada beberapa kasus yang sering ditemukan fakta, bahwa mereka seringkali menyebarkan berita Hoax, Black Campaign dan propaganda berbasis identitas.

Perkembangan media digital menghasilkan paradoks. Di satu sisi ia memperkuat demokrasi karena menjadi saluran untuk menyampaikan kritik yang efektif, menjadi saluran komunikasi publik yang egaliter dan mendorong transparasi pemerintah. Namun, di sisi lain, ia juga bisa dimanfaatkan untuk menyebarkan pesan, propaganda dan pendapat buruk yang mengancam demokrasi.

Penulis  :         Andi Luber, ( Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas
                       Muhammadiyah Kendari Sekaligus Anggota LMND Eksekutif Kota Kendari )

Post a comment

0 Comments