INFOGRAFIS

header ads

Mahasiswa Seharusnya Bersama Buruh dihari Buruh (May Day)

Sumber Gambar : auftaq.wordpress.com


Dunia yang makin cepat laju perkembangannya dalam bidang ilmu dan teknologi ikut melibatkan dua sektor pengting dalam masyarakat yaitu kaum terdidik formal dan rakyat pekerja. Jika secara kasat pandang kaum terdidik (mahasiswa) sekarang, memang salah satu tujuan utama memutuskan langkah paska lulus dari jenjang SMA/sederajat yaitu melanjutkan studi lanjutan yaitu perguruan tinggi dengan dalih selepas dari perguruan tinggi dengan galar sarjana/ahli muda madya dapat langsung mendapatkan pekerjaan yang selalu diidentikan jika sudah ‘kerja’ maka mapanlah hidup, memang tujuan ini tidak sepenuhnya salah sebab ini adalah salah satu dari tri dharma perguruan tinggi yaitu pengabdian masyarakat, tetapi ada yang sedikit bergeser dari esensi dari pengabdian masyarakat ini dikalangan mahasiswa nampak jelas dalam proses pendidikan kita lazim dengan kuliah kerja nyata (KKN), bagaimana bisa kita saksiskan skema ini banyak dipandang sebagai formalitas untuk dapat lanjut memenuhi syarat untuk mendapatkan gelar dan biasanya kesadaran akan pengabdian terhadap masyarakat terhenti paska telah habisnya masa KKN, yang sebenarnya KKN ini seharusnya dapat menjadi katalisasi terhadap pengabdian terhadap masyarakat paska selesai dari bangku kuliah.

Ditambah lagi serapan perusahaan yang standar kompetensi sesuai bidang keilmuan masih minim, hal inilah yang memaksa lulusan untuk mencari pekerjaan yang tidak menempatkan standar kompetensi tertentu untuk dapat memperolah pekerjaan agar dapat melanjutkan hidup. Relevansi antara mutu perguruan tinggi (PT) dengan kebutuhan dunia kerja masih rendah. Menurut dari Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi mencatat  proyeksi Peta Serapan Tenaga Kerja (TK) 5 tahun kedepan tetap dan stagnan. Proyeksi serapan TK antara lain diisi oleh tenaga kerja lulusan PT hanya terserap 17,5%, tenaga kerja lulusan SMK/SMA serapan mencapai 82%, dan tenaga kerja lulusan SD serapannya mencapai 60%. Meskipun dari angka tersebut angka pengangguran dari BPS turun diangka 5,32% pada Februari 2017, Bila dibandingkan pada tahun 2014, angka pengangguran masih 5,9%.  Range usia Angkatan Kerja (AK) 15-60 tahun per Februari 2017 mencapai 131,544,111 jiwa, sedangkan pengangguran 7,005,262 jiwa. Tentunya ini masih jadi PR besar buat pemerintah untuk menanggulangi angka pengangguran yang masih banyak yang impeknya secara umum mempengaruhi persoalan-persoalan dari akibat ekonomi; yaitu kriminalitas, stabital negara, dll.

Dari angka-angka tersebut hanya sebagai pengantar bagaimana masih sangat utopisnya pemikiran mahasiswa terhadap perguruan tinggi yang diharapkan sebagai jembatan mendapatkan pekerjaan, malah hanya menjadi produk-produk gagal berdasarkan paradigma yang dibentuk bahwa kami  (mahasiswa) adalah bahan baku, perguruan tinggi adalah pabrik yang siap mengolah bahan baku, dan sarjana/sejenisnya adalah produk yang siap dipasarkan atau sekali lagi saya katakan menjadi produk gagal. Mahasiswa tidak sepenuhnya salah atas paradigma ini, sebab stigma ini juga turut dibentuk lembaga-lembaga pendidikan sendiri yang memang lebih duluan mengorientasikan pendidikan pada mekanisme pasar bukan pada tujuan awalnya yaitu sebagai lembaga yang menciptakan masyarakat yang cerdas dan berkepribadian/berbudaya.

Inilah kemudian yang harus kita ubah paradigma bahwa perguruan tinggi bukanlah layaknya pabrik tapi melainkan sebagi labolatorium untuk bereksperimen dalam pengembangan ilmu pengetahuan (IPTEK) dan mengimplikasikannya untuk kepentingan umum. Tentunya semua mahasiswa harus mempunyai kesadaran/pemahaman yang sama terhadap kondisi nasional, ada beberapa hal yang harus secara tajam kita soroti yang pertama persoalan regulasi yang mengaturnya harus direvisi, kedua kemauan kita untuk mementukan visi juang memerangi kapitalisme, dan kemudian ketiga bergerak secara masif hingga terwujudnya tujuan.

Jika dilihat kapitalisme juga sebenarnya masuk dalam dunia pendidikan kita dan dari sektor buruh juga dibelenggu oleh kapitalisme, kalau kemudian kita sebagai mahasiswa yang nantinya juga sebagai buruh nantinya maka mahasiswa akan terus mengahadapi musuh yang sama, lantas bagaimana menyediakan payung sebelum hujan? Hemat saya mahasiswa seharusnya bersatu bersama buruh untuk menumbangkan kapitalisme sebab, kapitalisme yang dihadapi sama yaitu perlakuan penghisapan manusia oleh manusia.

Melalui momentum may day (hari buruh) sudah seharusnya sudah semestinya mahasiwa dan buruh bersama-sama turun kejalan menyuarakan tuntutan atas persoalan-persoalan (upah murah, sistem outsourcing, sistem kontrak, dll) yang kalau ini tidak 9diputus mata rantainya maka mahasiswa yang nantinya juga akan menjadi buruh akan mengahadapi persoalan yang sama bahkan mungkin akan bertambah lagi persoalan-pesoalan perburuhan.

1 Mei tahun ini mari bersama-sama kita turun ke jalan dengan masa penuh, semangat juang, dan konsistensi untuk menuntut terkabulnya tuntutan. Sebab idealnya buruh, tani, mahasiswa, rakyat miskin kota tidak boleh terkotak-kotak dalam perjuangan revolusi. Sebab, dalam sejarah membuktikan mahasiswa/pemuda selalu menjadi ujuk tombak perubahan peradaban. Sama halnya dalam soal perburuhan, mahasiswa tidak boleh alergi dan mestinya turut serta menjadi ujung tombak mewujudkan kesejahteraan buruh.

#BangunPersatuanNasional
#MayDay
#MahasiswaBersamaBuruh
#TumbangkanKapitalisme

Penulis : MAX PRAM

Post a comment

0 Comments