INFOGRAFIS

header ads

MENGENAL INDUSTRI 4.0 DAN KESIAPAN KITA DALAM MENYAMBUTNYA



Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah mengubah dunia sebagaimana revolusi generasi pertama melahirkan sejarah ketika tenaga manusia dan hewan digantikan oleh kemunculan mesin.
Salah satunya adalah kemunculan mesin uap pada abad ke-18. Revolusi ini dicatat oleh sejarah berhasil meningkatkan perekenomian secara dramatis dimana selama dua abad setelah revolusi industri terjadi peningkatan rata-rata pendapatan perkapita  Negara-negara di dunia menjadi berkali lipat.

Berikutnya pada industri generasi kedua ditandai dengan kemunculan pembangkit tenaga listrik dan motor pembakaran dalam(mesin diesel). Akibat penemuan ini memicu adanya pesawat telepon, mobil, pesawat terbang, dll yang mengubah wajah dunia. Setelahnya, muncul industri generasi ketiga ditandai dengan kemunculan internet dan teknologi digital. 

Selanjutnya, Industri generasi keempat atau Industri 4.0 adalah nama tren otomasi dan pertukaran data terkini dalam teknologi pabrik. Istilah ini mencakup sistem siber dan fisik, Internet  of Things (IoT), komputasi awan dan komputasi kognitif (wikipedia).

Istilah “industri 4.0” berasal dari sebuah proyek dalam strategi teknologi canggih pemerintah jerman yang mengutamakan komputerisasi pabrik.

Revolusi industri generasi keempat ini ditandai dengan kemunculan superkomputer, robot pintar, kendaraan tanpa pengemudi, editing genetik dan perkembangan neuroteknologi yang memungkinkan manusia untuk lebih mengoptimalkan fungsi otak.(Klaus Schwab- The Fourth Industrial Revolution)

Ada empat prinsip rancangan dalam industri 4.0 prinsip-prinsip ini membantu perusahaan mengidentifikasi dan mengimplementasikan Skenario-Skenario Indsutri 4.0 (Wikipedia)

Pertama, Interoperabilitas (Kesesuaian) yakni kemampuan mesin,perangkat , sensor dan manusia untuk berhubungan dan berkomunikasi dengansatu sama lain lewat internet untuk segala (IoT) atau Internet untuk Khalayak (IoP). IoT akan mengoptimalkan proses ini secara besar-besaran.

Kedua, Transparansi Informasi yakni kemampuan sistem informasi untuk menciptakan salinan dunia fisik secara virtual dengan memperkaya model pabrik digital dengan data sensor. Prinsip ini membutuhkan pengumpulan data sensor mentah agar menghasilkan informasi konteks benrilai tinggi.

Ketiga, bantuan teknis meliputi pertama,kemampuan sistem bantuan untuk membantu manusia dengan mengumpulkan dan membuat visualisasi informasi secara menyeluruh agar bisa membuat keputusan bijak dan menyelesaikan masalah genting yang mendadak. Kedua, kemampuan sistem siber-fisik untuk membantu manusia secara fisik dengan melakukan serangkaian tugas yang tidak menyenangkan, terlalu berat atau tidak aman bagi manusia.

Keempat, keputusan mandiri yakni kemampuan sistem siber-fisik untuk membuat keputusan sendiri dan melakukan tugas semandiri mungkin. Bila terjadi pengecualian, gangguan, atau ada tujuan yang berseberangan, tugas dilegasikan ke atasan.

Arus globalisasi yang sudah tidak terbendung lagi, disertai dengan perkembangan teknologi yang semakin canggih membuat perguruan tinggi di Indonesia harus berbenah, termasuk dalam menghasilkan dosen berkualitas bagi generasi masa depan.

Jika meihat secara luas, kondisi dosen di Indonesia saat ini masih didominasi generasi X yang merupakan digital immigrant. Sementara mahasiswa yang dihadapi adalah generasi milennial atau digital native.

Di era  revolusi industri 4.0 ini, persaingan sudah bukan lagi antara manusia dengan manusia melainkan manusia dengan sistem yang terinterkoneksi. Oleh karena itu dalam menjawab tantangan tersebut pemerintah melalui menteri Ristek menyebutkan lima kulifikasi dosen yang dibutuhkan dalam mempersiapkan SDM yang berkualitas meliputi (1) educational competence, kompetensi berbasis Internet of Thing  (IoT) sebagai basic skill di era saat ini; (2) comptence in research, kompetensi membangun jaringan untuk menumbuhkan ilmu,arah riset dan terampil mendapatkan grant international; (3) competence for technological commercialization, punya kompetensi membawa grup dan mahasiswa pada komersialisaso dengan teknologi atas hasil inovasi dan penelitian; (4) competence in globalization, dunia tanpa sekat, tidak gagap terhadap berbagai budaya, kompetensi hybrid, yaitu global competence dan keunggulan memecahkan masalah bangsa; (5) comptence in future strategies, dimana dunia mudah berubah dan berjalan cepat, sehingga punya kompetensi memprediksi dengan tepat apa yang terjadi di masa depan dan strateginya.

Selain itu, Perguruan tinggi juga harus menyesuaikan kurikulum dengan industri 4.0 , fasilitas dan sarana kampus yang ditambah dan ditingkatkan.

Sementara, kemenprin juga terus mendorong kesiapan industri nasional menghadapi babak Industri 4.0 dengan berbagai upaya, yaitu; (1) Pemeberian insenstif kepada pelaku usaha padat karya berupa infrastruktur industri (2) kolaborasi dengan kementrian komunikasi dan optimalisasi bandwidth (3) Penyediaan Sistem informasi Industri Nasional (SIINAS) yang memudahkan integrasi data untuk membangun industri elektronik (3) Penyiapan SDM indsutri melalui pendidikan vokasi yang mengarah pada high skill (engineer) (4) Meningkatkan keterampilan SDM industri yang dominan low/middle ke level high skill.

Oleh karena, mahasiswa juga harus bersiap menghadapi tantangan besar yang terjadi di era revolusi indsutri 4.0. perubahan pola baru ini membawa dampak terciptanya jabatan dan keterampilan kerja baru dan hilangnya beberapa jabatan lama.
Mahasiswa harus terampil dan terus-menerus belajar dengan hal-hal baru, melakukan inovasi agar terjadi peningkatan keterampilan agar mampu bersaing di dunia kerja yang sudah tidak menegenal batas Negara.



Penulis : Sahrul Husu

Post a comment

0 Comments