INFOGRAFIS

header ads

Mobile Legends Adalah Candu ?


Sekarang ini bukanlah zaman batu, yang dipenuhi serba keterbatasan. Kita hidup di era serba teknologi, kedepannya bukan hanya tenaga kerja asing yang akan merebut piring pekerja Indonesia, melainkan akan tiba masanya robot-robotlah yang akan menggantikan peran manusia di dunia kerja. Lebih jelasnya barangkali, telah termuat dalam artikel LPM Urita sebelumnya yang berjudul "Mengenal Industri 4.0 dan Kesiapan Kita Menyambutnya". 

Negara-negara luar beradu siapa yang paling maju menemukan teknologi baru paling muktahir. Anehnya masyarakat Indonesia terkhusus mahasiswa berlomba siapa yang paling jago menggunakan teknologi hasil karya negara luar tersebut. Salah satu contohnya game online "Mobile Legends", teknologi ini akhirnya sedikit membantah kalimat kontoversial Karl Marx. Dulu Om Marx berucap " Agama itu adalah Candu". Namun kalau Om Marx hidup di zaman Now, pasti akan berucap ternyata bukan hanya agama yang menjadi candu tapi mobile Legends pun menjadi candu. 

Lihat saja, kantin-kantin fakultas kini tidak lagi bersahabat. Sebelum era android lahir kantin fakultas merupakan wadah diskusi mahasiswa yang banyak mengulas segala persoalan entah itu persoalan kuliah ataupun persoalan rakyat. Berbeda dengan kini, kantin fakultas tetap menjadi wadah diskusi tetapi arah pembahasannya banyak menjurus ke Mobile Legends.

Sebenarnya Mobile Legends itu tak ubahnya kaum borjuis Prancis di masa lampau, yang berhasil menjungkilkan kekuasaan Raja Louis XVI sehingga Revolusi Prancis terjadi. Dalam sejarah game, Mobile Legends berhasil menjungkilkan kedigdayaan game COC yang berkuasa lama di hati Gamer Indonesia sebelumnya dan game Pokemon Go yang sempat merenggut kekuasaan COC. Bisa dikatakan ini adalah Revolusi ML. Saat Revolusi Prancis terjadi kaum borjuis prancis memanfaatkan kekuatan buruh sedang revolusi ML ditunjang oleh akses internet yang mudah, baik itu jaringan 4G hp sendiri, tempat nongkrong berwife dan Wife gratis dalam kampus. 

Akses internet yang mudah diperoleh sepatutnya dapat menjadi penunjang utama dalam mengembangkan pengetahuan mahasiswa. Lewat internet mahasiswa dapat menemukan banyak referensi untuk berinovasi. Lewat internet pula kita bisa melihat betapa gesitnya perkembangan teknologi seperti di Jepang, Amerika, Jerman, bahkan perkembangan teknologi di Malasya kita bisa tahu. Internet begitu mubazir jika hanya digunakan untuk beradu jago bermain Mobile Legends. Sebab kebiasaan ini akan melanggengakan istilah bahwa kita sebagai generasi yang cuma tahu pakai saja, generasi yang cuma tahu bagaimana cara memainkan Mobile Legends tapi tidak pernah mencoba tahu bagaimana cara membuat Game Mobile Legends. 

Mau dibilang generasi zaman Now tidak mesti ikut-ikut bekecimpung di permainan Mobile Legends. Apa lagi kita sebagai mahasiswa, yang kata orang sering disebut juga sebagai kalangan intelektual mestinya harus menghindari segala aktivitas bermain Mobile Legends maupun game-game lainnya. Sebab yang namanya game tentu akan menguras waktu dan memicu keterlenaan yang ujung-ujungnya menjadi candu. Kalau sudah candu sangat sukar untuk ditinggalkan dan akan membuat aktivitas lain terbengkalai. Entah itu urusan akademik, urusan organisasi dan yang lebih ekstrimnya urusan asmara akan dikorbankan hanya karena Mobile Legends. 

Dari segi ekonomi, semakin banyak yang bermain Mobile Legends semakin membuncitkan kas dolar si pembuat game tersebut. Dan perlu diketahui Mobile Legends adalah Produk Asing. Yang main orang Indonesia, yang kaya orang asing. Dari segi Gerakan Mahasiswa, Mobile Legends telah menjauhkan mahasiswa dari persoalan rakyat. Sebab konsumsi diskusi mahasiswa bukan lagi persoalan rakyat melainkan banyak menjurus keseputaran Mobile Legend. Dengan kata lain Mobil Legends membunuh watak sosialis mahasiswa dan menggantinya menjadi watak individualis. Dari segi pengembangan keilmuan, Mobile legends akan menurunkan tingkat kemauan belajar mahasiswa dibidang keilmuan jurusan yang saat ini ditempunya. Tentunya kebiasaan  ini akan menghambat penyelesaian studi mahasiswa dikampus. 

Proses  bermahasiswa adalah proses belajar menempa diri dan mengembangkan potensi sebagai bekal untuk terjun kemasyarakat kedepannya. Proses belajar dapat diperoleh dalam proses perkuliahan maupun dari dunia organisasi kemahasiswaan. Akan sia-sia waktu kita bermahasiswa jika hari-hari hanya dihabiskan untuk menyelesaikan tantangan dalam dunia Mobile Legends. Kebanyakan alumni mahasiswa senada berucap bahwa " tantangan di masyarakat itu begitu kompleks", jadi dalam mempersiapkan diri menghadapinya tiada alasan untuk kita berhenti belajar selama label mahasiswa masih melekat pada diri kita. Dan belajar ala mahasiswa itu bukanlah belajar bermain Mobile Legends. 


Penulis : Komarobheano

Post a comment

0 Comments