INFOGRAFIS

header ads

PENTINGKAH ORGANISASI SAAT KULIAH ?



Masih terekam di ingatan saya tentang khotbah yang disampaikan ketua demisioner hme periode 2013-2014 dalam rapat umum anggota tiga tahun silam. Sesuatu tentang mahasiswa “KUPU-KUPU” dan Mahasiswa “KURA-KURA”. Mungkin tidak ingat pasti, yang jelas intinya seperti itu. Pak ketua menyampaikan kepada adik-adik panitia RUA jikalau jadi mahasiswa jangan hanya jadi mahasiswa kupu-kupu (kuliah pulang – kuliah pulang ) jadilah manusia yang siap mengemban tanggung jawab mengharumkan organisasi kerjaannya KURA-KURA (Kuliah Rapat-Kuliah Rapat ). Mahasiswa kupu-kupu di interpretasikan seperti kupu-kupu, cantik (nilainya) dan bisa terbang cepat (lulus). Mahasiswa kura-kura di interpretasikan seperti kura-kura yang lambat (lulusnya). Namun walau lambat, menjadi mahasiswa kura-kura dapat manfaat lebih banyak dan berharga daripada mahasiswa kupu-kupu (katanya). Dan ternyata, sepanjang perkuliahan dikotomi ini sering disampaikan dalam pelbagai kesempatan terutama para mahasiswa aktivis organisasi.

Kupu-kupu dan kura-kura rasanya sudah mengalahkan kucing-anjing atau kucing-tikus. Yang sering menyampaikan dikotomi kura-kura ini adalah mahasiswa kura-kura, penyampaian yang mengarah ke sarkas dan senyum nyinyiran atau menjudge terhadap golongan kupu-kupu. Tujuannya tidak lain adalah menekan pentingnya berorganisasi.

Sudah menjadi hal yang pasti jika memilih untuk berorganisasi ada hal yang harus dibayar, yakni tenaga dan waktu, dimana keduanya bisa digunakan untuk hal-hal lainnya, termasuk mengerjakan tugas-tugas kuliah dan kepentingan akademik lainnya. Inilah yang menjadi pertimbangan utama orang memilih untuk malas berorganisasi, takut akademiknya terganggu.

Tak bisa disalahkan juga karena ada kalanya IPK yang cantik (3,0) menjadi prasyarat misalnya penerimaan beasiswa. Langsung pulang setelah kuliah ( tidak ikut kumpul dengan rekan-rekan organisasi) juga sebenarnya tidak selamanya buruk dan nirfaedah. Bisa saja Ode terlihat langsung pulang setelah kuliah, tapi siapa yang tahu kalau dia kerja misal nge-Grab buat mencukupi kebutuhannya. Bisa saja i Sanak tak minat organisasi, tapi kerjanya di kos atau rumah adalah desain grafis mendapat pesanan yang banyak melalui akunnya banggona Art and design. Boleh jadi andi daen tidak terlibat kepanitian tapi dia sudah cukup sibuk dengan usaha yang dirintisnya dan sering jadi keynote speaker di acara kewirausahaan. Di zaman Now seperti saat ini, banyak sekali hal yang bisa dikerjakan dari rumah. Banyak pekerjaan yang bisa dikendalikan dengan jempol dan tidak terpikirkan sebelumnya.

Mungkin zaman old wajarlah kita menganggap orang yang langsung pulang tidak punya apa-apa selain akademis, tapi di era informasi dengan segala keajaibannya dan kesempatan yang terbuka luas ini, langsung menghakimi si kupu-kupu rasanya sudah tak relevan lagi. Dari aspek sosial yang sering dibanggakan anak ‘kura-kura’pun jangan sangka anak ‘kupu-kupu’ era digital tidak bisa mendapatkanya lewat media sosial, komunitas daring, bertemu dengan teman-teman sehobi dengan berbagai latar belakang. Bahkan kegiatan sosial seperti penggalangan dana dan relawan, kerap kali diawali dengan petisi online.

Namun selama hampir empat tahun kuliah, saya melihat terkadang  tidak selalu demikian. Logikanya jika kita tidak mengikuti organisasi kita akan memiliki banyak waktu untuk mengerjakan tugas. Namun nyatanya, mereka yang tidak ikut organisasipun juga masih banyak yang tugasnya kacau balau alias keteteran. Ada beberapa kali saya melihat kawan-kawan saya berucap “tahun(semester) depan tidak mau ikut apa-apa, fokus perbaiki nilai”. Dan ketika mereka sudah tidak ikut apa-apa pun, tetap saja masih suka berpangku tangan dan tugasnya sering keteteran. Menghilangkan variabel organisasi atau kegiatan non-akademik dalam kehidupan kemahasiswaan kita, ternyata tidak serta-merta akan menaikkan aspek akademiknya. Sebaliknya, banyak juga yang aktif berorganisasi, memegang posisi-posisi penting di lembaga atau kepanitiaan, tapi tetap prima di sisi akademik, tugas selalu selesai, IPK tinggi serta kulit berseri-seri tanpa kantong mata sama sekali.

Sejatinya ini konsisten dengan apa yang disebut sebagai Parkinson’s Law yakni, “Suatu pekerjaan akan membengkak (dalam persepsi) untuk memenuhi waktu yang tersedia untuk mengerjakannya”. Jadi jika kita dikasih tugas kuliah dan memiliki waktu tiga hari  untuk mengerjakannya, pekerjaan itu akan membengkak sedemikian rupa sehingga akhirnya diselesaikan dalam waktu tiga hari, walaupun sebetulnya dapat dikerjakan dalam waktu 3 jam saja. Pada akhirnya akan sama dengan orang yang mengerjakan 3 jam sebelum deadline.

Bentuk dari pembengkakan itu bisa berupa penunda-nundaan, keasikan nonton serial naruto vs one piece, atau sibuk menjelajahi dunia maya. Kalau akhirnya pekerjaan yang dialokasikan dengan waktu tiga hari pun sama saja dengan yang alokasi waktu tiga jam, bukankah dua hari 19 jam sisanya lebih baik dimanfaatkan untuk hal lain ? ikut organisasi atau jadi kepanitiaan, misalnya. Akhirnya cara memanfaatkan waktu  semaksimal mungkin bukannya dengan mengurangi kegiatan, tapi malah  mengalokasikan waktu yang pas untuk tiap kegiatannya.

Bersosial di organisasi juga memberi kita keuntungan dibanding hanya bersosial melalui internet. Internet memberi kemerdekaan pada kita untuk memilih sendiri lingkaran pergaulan yang ingin kita masuki. Menyukai hal-hal yang  kita gemari membuat sistem internet mempelajari dan menampilkan hal-hal yang serupa dengan kegemaran kita, yang sepemikiran dengan kita. Tentu pengaruhnya positif, bahkan bisa membuat kita bahagia. Yang perlu kita ketahui bahwa, dunia nyata tidak selalu seperti itu. Ia beragam, berwarna-warni, dan penuh dengan orang-orang yang pemikirannya berbeda-beda. Orang yang tidak terbiasa berhadapan dengan orang yang berbeda pandangan dengannya, akan kesulitan menangani perbedaan itu.

Walaupun memiliki tujuan yang sama, orang-orang didalam organisasi pastinya memiliki pemikiran yang berbeda-beda untuk mencapai tujuan tersebut. Di dalam organisasi yang sehat, pemikiran tersebut akan dibenturkan satu sama lain lewat diskusi-diskusi atau rapat. Ini sangat baik untuk berlatih berhadapan dengan orang-orang yang memiliki pemikiran berbeda, menjadi pendengar yang baik, mencoba memandang sesuatu lewat perspektif orang lain, sampai akhirnya mempertimbangkan kembali pendapat kita berdasarkan informasi tersebut. Tentu saja dalam prosesnya, sering kali diskusi menjadi panas dan tensi menjadi tinggi, tapi semua itu akhirnya menjadi bagian dari pembelajaran bagaimana mengkomunikasikan perbedaan itu dengan apik.

Salah satu kemewahan dalam mengikuti organisasi adalah kita bisa bertengkar tanpa rasa benci. Artinya, dalam rapat dan diskusi boleh saja berdebat panas dengan orang yang berbeda pandangan dengan kita, tapi tidak sampai menimbulkan kebencian terhadap orang tersebut. Urusan dalam forum diselesaikan dalam forum. Diluar kita ketawa bareng sambil ngopi. Kita sadar bahwa yang kita adu adalah gagasan bukan pribadi. Pendewasan seperti inilah yang akhirnya akan membentuk pola sikap kita jika berhadapan dengan orang yang berbeda pemikiran.

Oleh sebab itu, saat inggumiu berhadapan dengan orang yang berbeda pendapat dan langsung menganggap orang itu salah, melabeli ini itu, saya pikir inggumiu bukanlah orang yang jahat. Mungkin saja itu bentuk “gagap”-nya karena tidak terbiasa masuk ke dalam perspektif orang lain, dan tidak terbiasa menghormati pendapat yang berbeda dengan pedapatnya. Karena inggumiu terlalu nyaman berada dalam suasana dimana semua sependapat dengannya.

Ironisnya yang seperti ini sempat diulas di awal, masih ada diantara anak-anak organisasi yang menjudge orang yang tidak ikut organisasi alias para kupu-kupu. Keorganisasian malah menjadi orang yang hanya sepemikiran yang mensirkulasikan suara-suara seragam dari para aktivis ini. Bahkan suara dari kupu-kupu pun jarang di dengar karena bebeda dengan si kura-kura tadi dan semua di pukul rata sebagai “apatis”. Pendapat apatis kurang relevan dengan karena dia sendiri saja tidak mau terjun langsung.

Nilainya adalah, mengurangi kegiatan non akademis belum tentu akan membuat nilai akademis meningkat dan mengikuti kegiatan organisasi bisa mengasah aspek sosial dalam membiasakan diri menghadapi orang dengan pandangan yang berbeda-beda.


Penulis : Pena Buram

Post a comment

0 Comments