INFOGRAFIS

header ads

Ricky Elson Berbagi Pengalaman Bersama Mahasiswa Teknik

Foto Bersama Alumni Ciheras, Dosen Elektro, dan Pak Ricky Elson (ketiga dari kanan). Foto La Ode Abdul Wahid.


LPM URITA, Kendari – Himpunan Mahasiswa Elektro (HME FT-UHO) mengadakan diskusi bersama Ricky Elson dari Lentera Bumi Nusantara (LBN) yang dihadiri oleh puluhan mahasiswa Fakultas Teknik, Minggu malam (29/4/2018) di Aula Fakultas Teknik.

Dalam diskusi tersebut Ricky Elson yang merupakan perancang mobil listrik berbagi pengalamannya dari mulai ketika menempuh studi di Jepang, kerja di Jepang selama 14 tahun hingga memutuskan pulang ke Indonesia untuk mengembangkan Ilmu dan Teknologi.

Diawal Ricky sempat menyayangkan hampir disetiap kampus Indonesia kurangnya kolaborasi antara Mahasiswa Elektro dan Mahasiswa Mesin dalam proses pembuatan mobil listrik.

“Saya itu sedih ya berkunjung diberbagai kampus di Indonesia ini, ditanya ada mobil listriknya ngak? Ada! Siapa yang kerjakan? Teknik Mesin! Ada tidak mobil listriknya ngak? Ada!Siapa yang kerjakan? Teknik Elektro! Apa ngak ada ya yang dibuat kedua-duanya?” kata Ricky dalam diskusi.

Ricky Elson juga bercerita bagaimana pergulatan awalnya membenci elektro hingga akhirnya serius menekuni bidang elektro, mengingat beliau merupakan lulusan Teknik Mesin kala itu.

“Pada usia 26 tahun saya hanya mau menjadi engineer mesin, namun setelah lulus S2 semakin belajar semakin ngak tau apa-apa, lalu saya berpikir saya harus bekerja, masuklah saya di corporation, masuk di corporation ini ternyata adalah perusahan produsen mesin-mesin listrik dan mau ngak mau segala apa yang saya benci harus beradapan.” Ucap Ricky Elson saat bercerita pengalamannya waktu di Jepang.

“Saya baru belajar Elektro itu  diumur 26 tahun, tapi waktu itu perbedaannya apa? Perbedaannya pada waktu itu dengan kesadaran bahwa negeri saya butuh itu, bahwa diri saya butuh penegetahuan tentang elektro, tujuannya jelas, sehingga setelah itulah saya mendapatkan pengalaman merancang mesin-mesin listrik” lanjut Ricky.

Hingga tiba saatnya ia bercerita tentang keputusannya pulang di Indonesia dan meninggalkan pekerjaannya di Jepang pada tahun 2012. Kepulangan Ricky ke Indonesia tidak lepas dari campur tangan Dahlan Iskan (Menteri BUMN saat itu), ini juga merupakan fase yang cukup berat harus dipertimbangkan, bukan masalah akan meninggalkan zona nyaman di Jepang, tetapi apakah indonesia siap menerima segala perubahan besar ini.

Karena panggilan jiwanya untuk memajukan negerinya sendiri, pada akhirnya Ricky mengiyakan ajakan dari Dahlan Iskan. Dengan merelakan segala karier yang ada di Jepang, pada tahun 2012 Ricky kembali ke Indonesia untuk menjalankan proyek mobil listrik.

Di Indonesia Ricky berhasil menyelesaikan prototype mobil yang diberi nama Tucuxi, proyek ini dilakukan bersama tim dan didukung oleh Danet Suryatama, namun izin layak jalan tak kunjung diberikan oleh Kementerian terkait. Kemudian Ricky tak putus asa, ia membuat mobil listrik yang lain yaitu mobil yang beri nama Selo untuk tipe sport dan Gendhis untuk tipe mini bus.

Kedua mobil tersebut dipamerkan diajang KTT APEC pada tahun 2013 di Bali, namun lagi-lagi mendapat kebuntuan saat mobil tersebut tak kunjung diberi tanda lulus emisi dan tak diberi izin layak jalan, difase ini hampir membuat Ricky roboh. Tetapi ia kembali bangkit karena semangat pantang menyerahnya dari kecil yang salalu ia bawa sampai sekarang.

Masuk pada sesi tanya jawab, peserta diskusi sangat antusias, terbukti dari banyaknya pertanyaan-pertanyaan seputar proses atau tahap pembuatan mobil listrik, hanya saja Ricky Elson tidak menjawab secara mendetail mengingat waktu yang tidak akan cukup untuk menjelaskan.

Tetapi, beliau mengundang secara terbuka untuk mahasiswa yang tertarik belajar dan ingin membuat mobil listrik bisa datang ke Ciheras. Tidak hanya mobil listrik, tentang kehidupan/spirit juga dapat kita pelajari di sana.

Di Caheras tempat Ricky ia juga beternak kambing, budidaya lele, dan bertani. Ciheras yang secara geografis berada di selatan jawa barat, yang merupakan lahan tambang pasir dekat dengan bibir pantai dapat disulapnya menjadi lahan produktif.


Reporter          : Amal Buchari


Post a comment

0 Comments