INFOGRAFIS

header ads

Wisuda, Akhir Bermahasiswa Atau Awal Menjadi Pengangguran Bertitel ?

Sumber Foto : radarsultra.co.id

Memasuki minggu ke-4 bulan April 2018, Universitas Halu Oleo kembali berhasil mengwisudakan sebanyak 1.231 mahasiswanya (Sumber Data : www.zonasultra.com). Prosesi wisuda dilakasanakan selama dua hari yakni pada tanggal 25-26 April 2018. Nampak Expresi haru dan bahagia bertumpah ruah, baik dari wajah-wajah para wisudawan sendiri maupun para kerabat yang ikut mendampingi mereka saat prosesi wisuda berlangsung.

Tak luput serangan pertanyaan menyakitkan bagi mahasiswa semester tua silih berganti datang membombardir. Kamu Kapan Let ...? Kita Kapan Bang ? Dia satu angkatanmu sudah wisuda ni hari kamu kapan ya ...? . Beragam pertanyaan yang turut memukul keras hati penulis sebab penulis sendiri termasuk kategori mahasiswa semester Tua.  

Berkat proses wisuda seseorang dapat berganti status, yang tadinya berstatus mahasiswa berganti menjadi seorang sarjana. Tak akan ada lagi proses perkuliahan, tak ada lagi pengerjaan tugas-tugas dari dosen, tak ada lagi kiriman bulanan bagi mereka yang ngekos sembari disuplai bulanan oleh orang tua/keluarganya. Tak ada lagi uang jajan harian/mingguan/bulanan bagi mereka yang tinggal dengan orang tuanya. Takan ada lagi kata ini : Oma/Opa Uangmu  dulu eeeee.....!!!  Bagi mereka yang tahu diri, pasca wisuda tentunya akan malu apabila terus mengharapkan suplai ekonomi dari orang tua.

Awal wisuda memang penuh dengan keceriaan, namun keceriaan tersebut tak berlangsung lama. Akan tiba masanya seorang sarjana baru diresahkan oleh perihal pencarian kerja. Tak beda jauh dengan apa yang dituliskan oleh Iwan Fals dalam syair lagunya “ Engkau Sarjana Muda, Resah Mencari Kerja, Mengandalkan Ijazahmu”.  Penulis berani berasumsi, Iwan Fals menciptakan syair lagu tersebut pasti terinspirasi oleh banyaknya sarjana nganggur di Indonesia.

Terdapat 630.000 sarjana nganggur Indonesia  saat ini, jumlah yang memakan porsi 8,8 % dari total jumlah pengangguran Indonesi sejumlah 7 jutaan (sumber data : www.pikiran-rakyat.com). Hal ini mengindikasikan bahwa menjadi seorang sarjana tak selamanya menjaminkan kita akan sukses dimasyarakat. Apa lagi bagi mereka yang sarjananya hanyalah sebuah gelar abal-abal. Lantas apa guna bersekolah tinggi kalau hanya nantinya akan menjadi sampah-sampah intelektual di masyarakat serta menambah jumlah daftar pengangguran Indonesia ? Membludaknya jumlah sarjana nganggur di Indonesia membuktikan bahwa banyak sarjana  yang tidak siap menghadapi dunia masyarakat sehingga tidak mampu mengaplikasikan ilmu-ilmu yang diperolehnya di kampus ke masyarakat.

Berbahagialah mereka yang wisuda pada tanggal 25-26 April 2018. Sebab kata sarjana telah melekat di akhir nama mereka. Namun tanpa disadari beban kehidupan yang sesunggunya (bukan lagi tugas kuliah) ikut pula melekat dipundak mereka. Seorang sarjana disaat berhasil dan gagal pun tetap akan jadi materi gosip para tetangga rumahnya. Bersiaplah untuk menjadi bahan pergunjingan. Bagi mereka yang benar-benar belajar selama bermahasiswa tentunya akan cakap menjawab segala tantangan kehidupan di masyarakat. Dan bersyukurlah bagi mereka yang belum wisuda sebab waktu untuk belajar di kampus masih ada. Masih ada penangguhan untuk mempersiapkan diri agar kedepannya pasca wisuda tidak termasuk dalam kategori sampah-sampah intelektual.

Penulis : LAW

Post a comment

0 Comments