INFOGRAFIS

header ads

Tolong Jangan Jadikan Isu UKT sebagai Ladang THR

Sumber Gambar : https://uangteman.com
Tinggal menghitung hari bulan ramadhan akan usai dan akan ditutup dengan perayaan Idul Fitri. Para pegawai senyum sembringa Tujangan Hari Raya (THR) telah dicairkan oleh pemerintah. Enak benar jadi Pegawai ya . . . ! Menjelang Idul Fitri biasanya pengeluaran umat muslim meningkat drastis.Bagi masyarakat kelas ekonomi atas tentunya takkan terlalu besar merasakan efek. Lain halnya bagi kalangan ekonomi kebawah plus anak mereka terdaftar sebagai calon mahasiswa baru di Universitas Halu Oleo. Apes sungguh apes, masyarakat ekonomi ke bawah lagi-lagi akan ketiban sial kuadrat.

Besaran UKT MABA jalur SNMPTN UHO telah diumumkan, birokrat kampus ikut senyum sembringa. Rupanya bulan ini, kantung mereka tidak sekedar akan diisi oleh Tunjangan Hari Raya melainkan juga akan diisi oleh hasil panen Raya. Bukan Padi atau jagung yang dipanen, malahan uang hasil tani, nelayan, kaki lima yang akan dipanen oleh birokrat kampus. Dasar Birokrat kampus watak kompeni, Tukang kuras kantung si Miskin.

Kebutuhan pokok melambung tinggi si Miskin semakin susah penuhi kebutuhan dasarnya. Anak-anaknya konsisten menagih baju lebaran baru, namun si Miskin mengabaiakan tagihan baju lebaran anak-anaknya, masih ada anaknya paling kakak yang sementara berada di ibu kota propinsi mengurus pengakuan sebagai warga baru UHO. Kabar buruk menghampiri si Miskin, watak kampus semakin Kapital serasa Negara sudah lepas tangan. Anak pertama Si Miskin untuk di Akui  sebagai warga baru UHO harus mebayar Mahar bernama UKT yang begitu tinggi. Sontak Si Miskin dilema, baju lembaran anak semakin gugur dari pertimbangan. Namun masih ada dua pertimbangan lagi, Si Miskin terjebak di antara dua pertimbangan antara melanjutkan Sekolah anak atau melanjutkan hidup keluarga. Sementara isi kantung Si Miskin hanya dapat memenuhi salah satunya.

Seandainya mahar masuk UHO terjangkau tentunya Si Miskin akan mengupayakan anak pertamanya agar di akui sebagai warga UHO meskipun nantinya banyak menguras Kantong Si Miskin. Sebab Si Miskin sudah berkomitmen dalam hati untuk  mengubah  nasib keluarga, anak pertama tahun ini harus masuk kuliah. Si Miskin siap merelakan diri memakan nasi garam demi menyisikan sebagaian besar hasil keringatnya untuk keperluan kuliah Anak pertama. Lagi-lagi Si Miskin harus gigit jari, Mahar masuk UHO terlampau tinggi, tidak seperti uang panai yang di bayar hanya sekali, mahar masuk UHO harus di bayar setiap 6 bulan sekali sampai anak pertamanya dapat menyelesaikan kuliahnya. Si Miskin tidak bisa menyanggupinya, sebab tidak akan ada sisa untuk membeli beras dan garam jika menyanggupi mahar tersebut.

Si miskin semakin dilema sembari bergumul dalam hati,

“ seandainya Anak Pertamaku bisa lolos bidik misi tentunya saya takkan sedilema ini,saya pasti akan tersenyum sembringa bak para pegawai yang ketiban THR dadakan. Tuhan mengapa Nasib anak ku tak seperti nasib anak tetanggaku ? padahal tatanggaku, ekonominya bisa dikatakan mampu.”Keluh Si Miskin.

Si Miskin semakin larut dalam pergumulannya

“Betapa beruntung tetanggaku, anaknya lolos bidikmisi sebab punya orang dalam di UHO Jika saja tidak, tentu akan senasib dengan anakku. Tapi meskipun tidak masuk,tetap dia takkan sepusing diriku, dia masih mampu kok membiayai kuliah anaknya. Dia kan orang mampu.” Keluh kembali Si Miskin dengan nada iri.

Nasib Si Miskin, bisa saja serupa dengan nasib orang tua pembaca sekalian, bisa kerabat dekat kita, keluarga teman kita, satu kampung kita, satu tanah pijakan kita, sempat disaksikan oleh mata kepala kita. Yang pastinya sebagai makhluk sosial yang dibekali Tuhan oleh rasa saling peduli antar sesama. Si Miskin adalah representasi orang tua calon mahasiswa kurang mampu UHO 2018 yang dibebani mahar UKT yang tinggi. Dilingkungannya telah tertanam stigma, untuk memperoleh nasib beruntung di UHO harus ada praktek Nepotisme. Dengan kata lain harus ada orang dalam untuk memperoleh keringanan biaya kuliah di UHO.

Sudah tersiar berita pihak BEM UHO telah menyediakan form pengaduan bagi mahasiswa baru untuk komplain UKT. Tak tanggung-tanggung BEM dan MPM UHO secara bersama-sama mengundang seluruh  pimpinan kelembagaan kampus dari Tingkat jurusan hingga Universitas untuk melakukan Hearing dengan pihak birokrasi kampus. Semoga hal ini dapat menjadi cahaya pengharapan bagi Si Miskin,jika pihak-pihak yang melakukan hearing berhasil menurunkan biaya mahar UKT sesuai kemampuan Ekonomi orang tua calon MABA. Tentunya Anak Pertama Si Miskin dapat menyanggupi syarat mahar pengakuan sebagai mahasiswa UHO.

Kepada para Penguasa kelembagaan kampus, semoga saja upayamu hari ini benar-benar berpihak pada Si Miskin. Tidak ada embel-embel lain, bukan sekedar menunjukan eksistensi, bukan sekedar menggertak birokrat demi memperoleh syarat bermain mata. Bukan sekedar jalan pintas demi mendapatkan amplop THR dari Birokrat. Sebab berkaca dari peristiwa masa lampau yang berulang-ulang, stigma jual beli perjuangan anatara pelaku perjuangan dan birokrat kampus sudah menggumpal dalam ingatan kebanyakan mahasiswa UHO.

Bulan ramadhan bulan suci,semoga sesuci perjuangan para penguasa kelembagaan  kampus hari ini.Perjuangan suci hanya dapat diprakarsai orang suci yang jauh dari kemunafikan, yang rela terasingkan. Berjuang atas dorongan sebuah idealisme keberpihakan pada yang benar. Sebab Tan Malaka pernah berucap “ Idelaisme adalah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki seorang Pemuda.”

Penulis : Pena Hitam

Post a comment

0 Comments