INFOGRAFIS

header ads

Adat Istiadat Memudar, Siapa Yang Salah?

Sumber Gambar : indonesia-culturess.blogspot.com


Seiring dengan derasnya arus globalisasi yang luar biasa kuatnya memberi dampak yang menyebabkan adat istiadat mulai memudar. Hal ini bukan rahasia umum lagi bahkan tak sedikit pemikiran para tokoh  yang  menjadi bahan ajang diskusi bagi siswa–siswi sekolah yang termuat dalam buku–buku pelajaran mereka sejak berada di bangku sekolah menengah pertama. Dari situ banyak tokoh yang berharap dan juga menghadirkan solusi terkait masalah ini, mereka mengungkapkan bahwa paling tidak membuat kegiatan–kegiatan dengan tujuan melestarikan budaya, melakukan sosialisasi terkait pentingnya mengenal budaya  negerinya sendiri, lalu mendokumentasikan agar dapat dilirik masyarakat umum.

Namun, hal ini hanya sesaat saja, beberapa saat berlalu semangat ini tak nampak lagi, ada alasan yang menguatkan mereka untuk apa melanjutkan tradisi yang katanya tidak memiliki guna dizaman modern ini. Apabila ada yang berinisiatif untuk mengembangkan atau setidaknya belajar mengenal kebudayaan, ini sudah jarang mendapat tanggapan positif. Komunitas- komunitas kecil yang katanya memiliki visi-misi melestarikan dan manjaga budaya ini mulai sunyi entah kemana, banyak suara- suara bising dari luar mengatakan bahwa hal demikian kampungan, kolot, ketinggalan zaman, dan masih banyak lagi.
   
Kita tak bisa saling menyalahkan mengenai hal ini, ini bukan salah generasi, bukan juga zaman yang perlu disalahkan, karena dimana generasi sekarang mengenal kebudayaan daerahnya sedangkan melihat pengembangan tradisi itu tak pernah, tidak terdapat lagi dongeng–dongeng yang menyebar terkait penceritaan terbentuknya sebuah daerah atau pulau misalnya, tak ada lagi tokoh-tokoh yang menceritakan ini atau sedikitnta mereka yang menjadi saksi atau dalang dalam sejarah masa lalu  ataupun yang termuat dalam buku-buku dengan bukti yang sesuai dan masih ada hingga kini. Olehnya itu bagaimana para generasi punya semangat malanjutkan kebudayaan nenek moyang mereka sementara hal itu saja tak pernah dilihat atau diketahui seperti pepatah tak kenal maka tak sayang.

Saat ini kita berada pada zaman yang semakin cepat perkembangan informasi dengan maraknya fenomena tertentu, akan tergantikan tren lain dengan tren yang lebih baik lagi dan kita tidak bisa menghentikan hal ini, seperti “om telolet om“ atau “kids jaman now” tren-tren seperti inilah yang memberi dampak pada perubahan sosial sehingga dengan keberadaan kita di zaman digitan zaman now ini memaksa kita harus tidak boleh kalah atau tertinggal dengan tren semacam itu, maka apakah salah kalau ada yang punya inisiatif mencampuradukan bahasa sehingga menjadi tren dengan ini keingginan atau cara melestarikan kearifan lokal atau kebudayaan nenek moyang kita tetap lestari.

Alhasil besar harapan mengenai kebudayaan tadi agar lebih ditengok lagi atau setidaknya dapat dikenalkan kembali kepada banyak orang, bukan hanya tujuan dokumentasi saja melainkan semangat jiwa pengembangan budaya agar tetap hidup dimasyarakat karena ini akan menjadi jati diri bagi siapapun yang bangga akannya.


Penulis             : Irham

Post a comment

0 Comments