INFOGRAFIS

header ads

Dibalik Rambut Gondrong Bag. 2

Sumber : Ig. Post @gondrongers


Sudah disinggung ditulisan sebelumnya, demam rambut gondrong dikalangan pemuda Indonesia dimasa orde baru disebabkan oleh budaya Happies yang melanda dunia.  Budaya Happies masuk ke Indonesia melalui musik, tontotonan, dan majalah. Budaya Happies lahir tidak hanya menentang perbedaan dari segi penampilan, tapi secara subtansi para penganutnya menentang keumumam kondisi sosial. Para orang tua yang ditentangnya semena-mena menerobos garis-garis keadilan.

Dalam memberangus gaya rambut gondrong yang melanda kaum pemuda, otoritas orde baru melakukan berbagai macam siasat. Via media cetak, rambut gondrong dicitrakan sebagai pribadi pemerkosa, perampok dan tindakan amoral lainnya. Setelah stigma negatif tentang rambut gondrong terbangun di masyarakat,  sweping rambut gondrong dirintis. Pemerintah lewat pembantu-pembantunya membasmi setiap rambut gondrong yang dijumpai dijalan-jalan. Jadinya para anggota ABRI setiap berpatroli selain membawa senjata tidak lupa ikut membawa gunting (Gunting : Senjata yang paling berbahaya bagi rambut gondrong).

Rambut gondrong diseramkan seperti halnya seramnya PK1 di masa orde baru. Semua pegawai instasi pemerintahan secara pribadi maupun kerabat di lingkungannya dilarang menggondrongkan rambut. Masyarakat agar tidak dipersulit, semua urusan yang bersangkut paut dengan instansi pemerintahan, setiap yang mengurus paling tidak boleh terlihat gondrong. BAKORPERAGON (baca tulisan sebelumnya: Dibalik Rambut Gondrong) dibentuk, setiap artis yang ingin tampil di TVRI (TVRI : stasiun tv pertama dan satu-satunya kala itu) syarat utamanya tidak boleh berpenampilan gondrong.

Rezim orde baru boleh dikata sebagai rezim yang anti rambut gondrong, dan penulis anggap rezim orde baru berhasil menanam dan mewariskan stigma negatif yang diumumkan terhadap rambut gondrong sampai saat ini. Di tataran mahasiswa tersisa mahasiswa teknik yang dikenal gondrong-gondrong. Mahasiswa lain seakan membiarkan diri terhanyut dalam pusaran stigma negatif rambut gondrong. Namun kembali lagi ke hak setiap pribadi manusia, gondrong adalah pilihan. Suka atau tidak suka itu adalah pilihan, setiap orang berhak memilih jalan yang ditempuhnya namun yang terpenting dari semua itu mempertanggungjawabkan jalan yang telah dipilih tadi, termasuk menggondrongkan rambut.

Gondrong adalah sebuah simbol perlawanan, sejak setiap pribadi telah bertekad memanjangkan rambutnya entah dikarenakan alasan apapanpun. Tanpa ia sadari sesungguhnya ia telah melakukan sebuah perlawanan. Melawan untuk tak setuju dengan keumuman. Umumnya rambut gondrong dianggap buruk sebab mencerminkan pribadi yang acuh tak acuh (apatis), tidak memiliki masa depan dan akrab dengan tindak kejahatan. Seorang yang memilih gondrong berhasil melawan stigma negatif tersebut. Namun perlawanan seorang gondrong akan sia-sia jika kegondrongannya tak sedikit pun menunjukan nilai manfaat. Dan cenderung melakukan tindakan-tindakan apa yang telah menjadi ketakutan stigma umum.

Sebaik-sebaiknya gondrong adalah bukan gondrong yang karena disengaja  dan ikut-ikutan namun gondrong yang baik itu adalah gondrong yang dikarenakan ingin memiliki nilai lebih (bukan kelebihan gaya). Semestinya ini lah yang harus menjadi motivasi tertinggi setiap pribadi yang ingin gondrong. Saat seorang memilih gondrong maka ia harus siap bermanfaat, siap melepaskan diri dari keapatisan apabila tidak demikian maka seorang gondrong lebih baik beralih botak saja.

Penulis: LAW

Post a comment

0 Comments