INFOGRAFIS

header ads

Dibalik Rambut Gondrong

Sumber: http://readbung.blogspot.co.id/
                     

Rambut gondrong identik dengan identitas orang-orang yang berlatar premanisme, penjahat dalam sinetron atau anak-anak jalanan yang tidak pernah menyentuh bangku pendidikan. Satu hal pasti, rambut gondrong mencerminkan sebuah gaya rambut yang melepaskan diri dari belenggu toleransi keumuman. Umumnya hanya perempuanlah yang memilik hak penuh untuk menggondrongkan rambutnya. Laki-laki bersahabat dengan gaya rambut cepak atau rata sisir dan biasa disebut juga cukuran tentara. Terlebih bagi para siswa yang sedang menempuh pendidikan di jenjang SD hingga SMA, jangankan gondrong, memanjangkan rambut sekitar 3 centi saja akan menjadikan siswa bak seorang buron. Buronan yang senantiasa dipaksa main kucing-kucingan dengan guru pengawas sekolah sehingga dalam pikirannya akan terus terhantui bayang-bayang guru lengkap dengan gunting di tangan dan siap selalu menyergap para siswa berambut panjang.

Beda cerita di masa kuliah, rambut gondrong sangat lekat dengan gaya rambut mahasiswa Teknik. Kita akan banyak menjumpai banyak mahasiswa teknik yang menggondrongkan rambutnya. Ada banyak anekdot yang menyatakan alasan semua ini. Ada yang bilang anak teknik banyak yang gondrong sebab terlalu banyak tugas kuliah yang dipikulnya sehingga membuatnya lupa mengurus rambut dan tidak sempat ke tukang cukur (Gondrong Yang Tidak disengaja). Ada juga yang mengatakan anak teknik banyak yang gondrong sebab para pendahulunya banyak yang gongdrong pula (Gondrong Yang Ikut-ikutan). Dan satu lagi ada yang menggondrongkan rambutnya demi momotivasi diri untuk punya nilai lebih dibanding mahasiswa non gondrong maupun gondrong-gondrong yang ada di luar mahasiswa teknik (Gondrong Yang Berfilosofi).

Apapun alasannya, perihal menggondrongkan rambut itu hak setiap orang. Selama masih bisa dipertanggungjawabkan dan siap melawan keumuman serta punya cukup rupiah untuk membeli shampo, menggondrongkan rambut, penulis pikir sah-sah saja. Seandainya banyak yang gondrong, tentunya akan menguntungkan para penjual shampo, soalnya shamponya laku terus. Dan kalau pun tidak mampu membeli shampo, seorang gondrong akan berjasa sebab membantu pemerintah melestarikan salah satu spesias serangga yang sebenarnya tidak terancam punah, rambut gondrong yang tidak di shampoo akan menjadi Suaka Margasatwa yang dibangun tanpa biaya dari APBN tapi khusus untuk menampung kutu rambut. “Ngeri kamu gondrong.” Ungkap Si rambut cepak sembari menahan tawa.

Selepas tergulingnya Soekarno  dari kekuasaan, tampuk pimpinan NKRI jatuh ke tangan Soeharto atau biasa disebut masa orde baru. Di saat orde baru inilah, rambut gondrong secara gamblang dianggap sebagai ancaman negara dengan alasan rambut gondrong adalah produk budaya luar. Tak tanggung-tanggung demi memberantas rambut gondrong  badan khusus dibentuk, badan tersebut bernama “Badan Koordinasi Pemberantasan Rambut Gondrong (BAKORPERAGON).” Seandainya badan ini masih ada hingga sekarang, tentunya akan menjadi musuh bersama Mahasiswa Teknik dan Para Penjual Sampo. Untung Badan ini tidak bertahan sampai tahun 1998, hanya ada ditahun 70-an. Para pembaca bisa bayangkan, seandainya BAKORPERAGON bertahan sampai di detik-detik terakhir kemunduran Soeharto. Sejarah reformasi tentunya akan berubah, sudah pasti Mahasiswa Teknik dan Penjual Shampo turut ikut demo tapi bukan untuk menggulingkan Soerharto melainkan demi untuk membubarkan BAKORPERAGON ini. He He !

Aria Wiratma Yudihistira menuturkan era 1960-an didunia Barat khususnya Amerika Utara dan Eropa Barat berkembang suatu gerakan budaya dari kalangan anak-anak muda yang dikenal sebagai youth counter-culture (Yudihistira, 2010:39). Salah satu produk gerakan budaya ini yakni budaya Happies. Para penganutnya untuk terlihat berbeda dengan yang lain, mereka memilih menggondrongkan rambut. Di masa orde baru budaya inipun meracuni para pemuda Indonesia. Aria Wiratma Yudihistira menambahkan penganut Happies menyebut diri mereka generasi atau anak-anak bunga (flower generation). Bunga adalah simbol kaum Happies. Bagi mereka bunga itu adalah indah karena bagian dari alam. Bunga melambangkan kedamaian dan tidak akan membuat orang lain terluka. Begitupula dengan mereka anak-anak dari generasi bunga. Mereka adalah anak-anak muda yang idealis dan mau berpikir, yang percaya akan cinta, keindahan, kebebasan, kebersamaan, serta saling membantu satu sama lain. Dengan keyakinan tersebut mereka berkehendak mengubah dunia (Yudihistira, 2010:43).

Berkat uraian di atas, Aria Wiratma Yudihistira mengisyaratkan bahwa rambut gondrong bukan sekedar untuk terlihat beda dari mereka-mereka yang berambut ala tentara dan juga mereke-mereka yang tidak berambut seperti Boboho. Lebih dari itu Aria Wiratma Yudihistira menyisipkan sebuah gambaran, rambut gondrong itu sebuah identitas yang cinta kedamaian. Kedamaian tidak akan tercipta selama masih ada penghisaban manusia atas manusia, Si Miskin kelaparan didepan mata Si Kaya, Sang Penguasa menyiksa rakyat lewat kebijakannya. Sederhananya rambut Gondrong itu bukan sekedar untuk gaya-gayaan, berfoto dengan latar sana-sini kemudian di upload di semua akun media sosial yang dimiliki. Akan tetapi dengan berani penulis katakan Rambut Gondrong itu adalah sebuah identitas perlawanan. 

Jika kamu Mahasiswa, Ingin Gondrong ?
Ecamkan itu !
Jika kamu mahasiswa dan Gondrong. Malas turun ke jalan karena takut, karena acuh tak acuh.sibuk game online.
Ko cukur itu ko pu gondrong !” Ungkap kembali si rambut cepak dengan nada mengejek.

Penulis : LAW
Referensi :
Yudihistira, Aria Wiratma, “Dilarang Gondrong: Praktik Kekuasaan  Orde Baru Terhadap Anak Muda Awal 1970an,” Serpong: Marjin Kiri, 2010

Post a comment

0 Comments