INFOGRAFIS

header ads

Lulus SMMPTN UHO, Uang Pangkal Siap Menghadang



Maksud hati mengubah nasib keluarga, apalah daya jalan rumit telah menjegalku. Aku lahir dan dibesarkan dari keluarga petani. Namun aku tak mau mewarisi profesi para pendahulu keluarga sebagai petani. Selepas melewati masa seragam putih abu-abu. Aku mengadu peruntungan, mengadu nasib dengan mencoba mendaftarkan diri di salah satu perguruan tinggi negeri. Tiga kali tes pernah kucoba, pertama Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN), aku gagal. Kedua Seleksi Bersama Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN), aku kembali gagal. Tak kunjung putus asa, aku kembali ikut tes di Seleksi Mandiri Masuk  Perguruan Tinggi Negeri (SMMPTN) dan akhirnya lulus.

Bahagia rasanya, langkah pertama untuk mengubah nasib telah kucapai. Sontak aku mengirim kebahagian ini ke kampung halaman. Memberi kabar ayah ibu bahwa anak kesangannya, telah lulusditerima menjadi mahasiswa. Nada bahagia terdengar dari mereka selepas ku memberi kabar. Via telepon aku bercakap dengan mereka dan di akhir perbincangan aku turut meyampaikan kelulusanku harus di tebus dengan membayar dua pungutan. Sontak mereka menanyakan jumlah pungutan tersebut.

Aku menjawab mereka: yang pertama aku harus menebus uang pangkal sebesar Rp.5.000.000, dan yang kedua uang kuliah tunggal Rp.1.750.000. Entah kenapa telepon terputus seketika, tak lama berselangberdering kembaliorang tuaku kembali menghubungi, sebelum melanjutkan perbincangan aku sudah menduga, terputusnya telepon tadi bukan karena jaringan yang bermasalah. Akan tetapi kantung rupiah merekalah yang bermasalah, sebab tak bisa menyanggupi dua pungutan kampus yang sesaat lagi mencengkik kabar bahagia, aku sekeluarga rasakan.

Perbincangan dilanjutkan, sesuai dugaan orang tuaku tak bisa menyanggupi dua pungutan kampus tadi. Kemudian mereka meneruskan.
 “ Nak ! Untuk membayar biaya UKT mu, kami menyanggupi. Itupun kami harus mengutang sana sini. Nak ! Besar harapan kami, agar engkau bisa melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi. Kami pasti akan bangga, akan cerita sana sini, mengabarkan ke seluruh penjuru kampung bahwa anak kami telah diterima kuliah. Semangat kami untuk menggarap lahan pertanian demi membiayaimu akan bertambah 2 x lipat. Impian tinggal impian, Tadi kami begitu sangat bahagia mendengar berita kelulusanmu. Namun kabar bahagia itu telah menjelma menjadi jarum-jarum yang menusuk-nusuk hati kami nak.”

Obrolan terhenti, kali ini aku sengaja memutuskannya. Aku tak kuat lagi mendengar lebih jauh tanggapan sedih orang tua ku. Betapa naifnya aku, aku lupa diri, tegasku. Aku melupakan kondisi keluarga. Biaya perjalananku ke ibu kota propinsi saja adalah hasil ngutang dari tetangga rumah di kampung. Sungguh begitu naifnya, pikirku kembali. Mestinya tak usah saja aku memberi tahu mereka tentang kelulusan di SMMPTN.

Kebahagian telah menjadi boomerang kesakitan, Aku begitu putus asa. Terkadang aku menghujat kekejaman Tuhan yang serasa tak memberi keadilan. Ku dengar kabar, sebelumnya Pungutan uang Pangkal belum dikenakan kepada calon mahasiswa baru. Mengapa Tuhan ? Mengapa nanti saat aku yang mendaftar SMMPTN, uang pakal dikenakan ?

Semua kusalahkan. Dasar birokrasi rakus, makiku. Penjahat kau pemerintah, Marahku. Aku hilang kendali, Tenaga kuhabiskan untuk mengharmonikan perasaan bahagia,tangis dan marah. Aku lelah hingga perasaan kantuk mendatangi, aku terlelap sepanjang malam dalam kekecewaan. Paginya aku terbangun, ku kemasi barang-barang seraya bergumam, aku harus pulang hari ini. Tak ada guna bertahan di kota ini. Jika bertahan perasaan akan semakin sakit. Sedikit langkah lagi impian untuk melanjutkan sekolah di perguruan tinggi tercapai. Namun Uang Pangkal sialan telah menggagalkannya. Kupamiti teman akrab yang telah menampungku, kugerakan kaki menuju pelabuhan. Ku keluarkan sisa rupiah isi kantong demi memperoleh tiket kapal yang akan mengantarkanku ke kampung halaman. Kumasuki kapal namun tetap saja suara berisik mesin ditambah baling-baling kapal yang memecah lautan tak mampu mengalihkan kesedihan.

Perjalanan pulang masih teriringi kesedihan. Aku jernihkan pikiran meskipun perasaan tak rela masih mengrajai hati. Kuyakinkan diri, aku akan lebih berguna jika membatu ayah ibu mengurus ladang di kampung. Selamat tinggal impian, tutupku dalam hati.

Dalam coretan ini, aku bukanlah aku yang mewakili diriku. Aku adalah mereka, para korban atas kejamnya liberalisasi pendidikan. Mereka yang tak mampu lanjut kuliah sebab mahalnya uang pangkal. Mereka yang impiannya telah dimangsa oleh singa penguasa penentu kebijakan. SPP disulap menjadi UKT, Uang Kuliah Tunggal yang menunggalkan biaya kuliah mahasiswa. Namun hadirnya pungutan Uang Pangkal telah menyadarkan kita. UKT telah menghianati ketunggalannya. Wahhhh Dasar. Di negeri ini memang benar-benar “Orang Miskin Dilarang Sekolah”.

Penulis : LAW

Post a comment

0 Comments