INFOGRAFIS

header ads

Masuk dan Keluar Kampus

Sumber Gambar : http://lvt13.staff.ub.ac.id/files/2012/07/Karikatur.jpg


Setiap tahunnya Perguruan Tinggi (PTN & PTS) selalu membuka pintu bagi lulusan SMA-sederajat untuk melanjutkan studi kejenjang berikutnya (perguruan tinggi). Rata-rata perguruan tinggi umumnya membuka tiga jalur pintu masuk, tentunya ini bagian dari menyaring siapa yang layak masuk perguruan tinggi, tidak lupa seberapa kesanggupan duit di kantong dan relasi orang dalam.

Ratusan ribu calon mahasiswa baru (Camaba) biasanya punya niatan sama yaitu meraih batu loncatan kesuksesan yakni dapat berkuliah dan mendapatkan gelar, hanya saja harapan ini biasa kandas seiring makin mahalnya biaya kuliah yang harus ditanggung, baik di PTN apalagi di PTS. Ini baru masalah pertama yang harus dicari solusinya, belum lagi masalah lain-lainnya (mutu pendidikan, transparansi, ruang demokrasi kampus, premanisme, otoriterian, godaan menjadi hedon, dan masih banyak lagi) yang secara bertahap harus diselesaikan.

Setelah sudah resmi menjadi mahasiswa saatnya benar-benar bertarung menyelesaikan masalah di atas, tentu polanya tidak akan sama seperti saat masih diSMA yang ‘nrimo bin manut’ yakni menerima dengan pasrah persoalan tersebut atau pun mencoba menyelesaikan sendiri (nekat), seyogyanya ada pola politis yang lebih serius dalam penyelesaiannya.

Kehidupan kampus memang adalah salah satu proses penempaan untuk menjadi manusia yang utuh (politis, berdikari secara ekonomi, ilmiah, akademik, praktis, dan berkepribadian budaya), ini menurut pengertian saya penempaan beberapa aspek tersebut harus benar-benar dimaksimalkan sebab jika berangkat dari kondisi objektif sekarang hanya berfokus pada aspek akademik saja, kita terjebak pada lingkaran tersebut. Hal tersebut yang mengakibatkan rendahnya produktifitas lulusan perguruan tinggi.

Parahnya masalah tersebut tidak hanya berangkat dari terjebaknya mahasiswa oleh sistem pendidikan yang ada, tetapi ikut dipupuk oleh birokrasi yang tiap hari mencekoki dengan teori-teori yang hanya bermuarah pada hasil berupa skripsi yang kemudian hanya menjadi tumpukan bernilai penambahan titel/gelar dibelakang nama dan sebagai simbol estetik pengetahuan.

Dikotominya nilai akademik dan praktis dalam sebuah ilmu pengetahuan menjadikan lulusan-lulusan perguruan tinggi menjadi kaku bahkan menjadi tidak berguna apa yang didapat semasa dibangku kuliah ketika diterapkan di lingkungan masyarakat, walaupun ada rumpun keilmuan terapan tetapi lagi-lagi masih kaku. Hal ini disebabkan oleh paradigma ilmu pengetahuan yang ditawarkan oleh perguruan tinggi indonesia pada khususnya masih berupa entitas yang  masih sulit diterjemahkan oleh tenaga pendidik, alhasil mutu menjadi tidak karuan dan tidak ada modote mengajar yang kontekstual.

Dari pengkotomian nilai ilmu pengetahuan tersebut ikut menyeret terbentuknya kelas mahasiswa itu sendiri, dari sektor akademik ada mahasiswa taat masuk ruang kelas (identik dengan IPK tinggi), kemudian dari sektor praktis ada mahasiswa organistoris dan mahasiswa yang sedini mungkin terjun dalam lingkungan masyarakat. Barangkali akan sulit menjadikan hal ini ideal sebagaimana hakikat ilmu pengetahuan menyeimbangkan kedua hal tersebut.

Tentunya harus ada upaya yang lebih radikal berupa perbaikan mutu pendidikan, regulasi, serta kontekstualisasi tujuan pendidikan yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Sebab tidak ada cara lain menaikkan martabat sebuah bangsa jika tidak dengan pendidikan itu sendiri.

Penulis                        : MAX PRAM    

Post a comment

0 Comments