INFOGRAFIS

header ads

Negeri Kaya SDA, Sudahkah Makmur?

Sumber Gambar : taher's historia - Blogger


Sang penguasa negeri ini seakan lelap dalam tidur nyenyaknya sementara kaum miskin kota, desa, pelosok negeri, menjerit  ditengah gelak tawa wakil rakyat yang asyik berkelakar, lesuh di antara bentangan sawah luas yang entah kemana hasilnya akan dipasarkan setelah panen, meratap rangkul erat anak sulungnya yang tak mampu membayar mahar untuk bersanding dengan ilmu pengetahuan dipendidikan tinggi.

Makin hari makin susah saja, si Mbok di kampung dilanda dilema antara menyisihkan sisa rupiah keluarga untuk mengatasi persoalan pangan dirumah atau mengikhlaskan untuk disisipkan ke rekening anaknya yang sedang menyelami ilmu pengetahuan di tanah rantau. Bersabar dalam menghadapi segala bentuk tantangan  hidup guna mempersembahkan anaknya untuk duduk dipendidikan tinggi yang kemudian mengabdi pada keluarga dan tanah air. Dengan polosnya ia meratap.Sekiranya negara mampu berdikari dalam mengelola SDA yang ada di hamparan Nusantara ini dengan baik mungkin kemakmuran akan merambat sampai pada pelosok negeri dan keresahan si Mbok bisa teratasi.

Indonesia tanah air kita, tanah kita untuk asing dan air kita beli. Begitu ungkap mereka yang jujur dan resah dengan pencapaian penguasa negeri sampai saat ini. Negeri yang begitu masyhur akan kekayaan alamnya, dikelola secara bijak oleh penguasanya dengan cara membiarkan si Asing menggarap tanpa ampun dan pamrih ataupun membagi hasil keuntungannya pada sang Tuan Rumah. Pemerintah terlalu mengistimewakan investor maupun pengusaha asing. Terbukti melalui UU Penanaman Modal Asing (PMA) dimana para kapitalis asing dengan mudah dapat mengeksploitasi sumber daya alam Indonesia.

Sepertinya bunyi pasal 33 UUD 1945 ayat 3 berganti redaksi, “Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran pihak Asing dan Kerabat bermodal.” Ini bukan lelucon ataupun redaksi asli, tapi gambaran yang mendekati tepat untuk negeri ini.

Sekelumit persoalan di atas bermaksudkan bahwa seharusnya dengan kekayaan alam yang berlimpah mampu menyulut kemakmuran bukan kesengsaraan, akses pendidikan menjadi murah bukan bertambah susah, dan kesejahteraan bukan sumber derita.


Penulis             : ET MULTATULI

Post a comment

0 Comments