INFOGRAFIS

header ads

Ironi Masuknya Pabrik Gula Di Muna Barat


Beberapa waktu lalu banyak media online lokal memuat aksi penolakan masyarakat terhadap masuknya perusahaan pabrik gula (sering juga disebut Perusahaan Tebu) di Muna Barat (MUBAR). Persoalan ini telah sampai di telinga DPRD propinsi Sulawesi Tenggara (SULTRA). Hingga sekarang belum berujung pada titik temu. Pemerintah MUBAR  dan masyarakat pemilik lahan yang akan ditanami tebu oleh perusahaan seolah sedang berbagi peran. Ada pihak yang setuju (pro) dan ada juga pihak yang tidak setuju (contra).


Aksi penolakan pabrik gula di suatu daerah bukanlah hal baru. Telah terjadi di berbagai penjuru Indonesia. Setiap kehadirannya ibarat dua sisi mata pisau. Kadang membawa manfaat, kadang pula membawa petaka. Menolak atau menerimanya tidak boleh dilakukan secara tutup mata. Harus ada pertimbangan mempuni agar tidak terjadi efek yang berat sebelah. Masyarakat dan perusahaan harus sama-sama diuntungkan, tidak boleh perusahaan semata yang meraup untung. Atau parahnya, masyarakat merugi dibalik deal tersembunyi antara perusahaan dan pemerintah.


Hadirnya pabrik gula dari sisi positif akan memberi dampak di segi ekonomi. Masyarakat akan mendapat harga atas lahannya. Selain itu, lapangan kerja baru banyak tercipta. Apa lagi, kalau misal mantan pemilik lahan menjadi prioritas yang diterima sebagai pekerja perusahaan pabrik gula tersebut. Tentunya masyarakat akan mendapat untung double. Sudah mendapat harga atas lahannya ia juga diterima sebagai pekerja perusahaan.


Tapi ada sisi negatif yang tak boleh luput dipertimbangkan. Diantaranya : (1) Kehilangan/Kemerosotan Alat Produksi Masyarakat. (2) Latar Pendidikan Masyarakat (3) Ancaman Dampak Lingkungan. 


1. Kehilangan/Kemerosotan Alat Produksi Masyarakat
Masyarakat MUBAR secara turun temurun mayoritas memanfaatkan lahan sebagai alat produksi pertanian pribadi. Ketika sebagian atau seluruh lahan masyarakat direnggut perusahaan, pastinya lahan pertanian masyarakat menyempit dan bisa jadi ludes (ketiadaan lahan pertanian). Lahan yang sempit akan menghasilkan produksi sedikit. Ketiadaan lahan dan sedikitnya hasil produksi nantinya akan memuluskan jalan mantan pemilik lahan untuk menggantungkan nasib ke perusahaan.


2. Latar Pendidikan Masyarakat
Ketika masyarakat berniat mencoba mengadu peruntungan di perusahaan, ia akan dihadang oleh latar pendidikannya. Bila pendidikannya tinggi besar kemungkinan mendapat jatah tenaga kerja terampil/ahli. Sebaliknya masyarakat berpendidikan rendah otomatis mendapat jabatan buru kasar. Itupun kalau perusahaan menerima. "Menjadi kuli dan penonton di atas bekas tanah sendiri." Sungguh kalimat yang menggelikan telinga.


3. Ancaman Dampak Lingkungan
Terdapat beberapa titik mata air di sebagian area yang diincar oleh perusahaan tebu di MUBAR. Beberapa mata air ini merupakan sumber air yang hari-hari di manfaatkan masyarakat. Bila area tetap dialihkan sebagai lahan tebu perusahaan, beberapa titik mata air tadi bisa jadi terancam kering. 

Namun yang sering jadi kasus umum, banyak perusahaan tebu di Indonesia membuang sembarang limbahnya di sungai. Akibatnya sungai tercemar. Sehingga membunuh sebagian besar biota sungai. Air sungai yang tercemar juga berbahaya bila di manfaatkan masyarakat.


Secara history perusahaan pabrik gula selalunya memelihara watak kapital. Dalam prakteknya, sebuah perusahaan berwatak kapital sangat nafsu mencari untung besar namun dengan modal sekecil-kecilnya. Tak jarang demi mewujudkannya, perusahaan kerap kali gemar menerobos regulasi-regulasi yang berlaku. Dampak sosial dan lingkungan masyarakat dicueki. Persetan, mau masyarakat dan lingkungan jadi korban. Hal ini dikarenakan perusahaan berwatak kapital hanya tahu cari untung, untung dan untung. 


Menurut Om Karl Marx, perusahaan berwatak kapital juga  demi memaksimalkan keuntungan dan mengurangi kerugian maka perusahaan tersebut dalam keadaan untung maupun rugi harus melakukan efisiensi. Saat rugi, untuk mengurangi kerugian opsi yang dapat dilakukan perusahaan yakni : (1) melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap sebagian pekerjanya. (2) Menerapkan upah murah ke pekerjanya. Saat untung, perusahaan berwatak kapital tetap akan melakukan PHK. Kenapa ?


Perusahaan yang gila untung, untuk menggandakan keuntungan. Tenaga kurang  terampil diganti oleh tenaga kerja terampil. Kalau begitu kan, yang kurang terampil tinggal diikutkan training


Teknologi setiap tahun semakin berkembang. Atas alasan kecepatan dan ketelitian. Perusahaan lebih memilih mesin ketimbang memilih banyak pekerja manusia. Memang mesin masih membutuhkan manusia sebagai operatornya, tapi sedikit yang dibutuhkan. Namun dunia kedepannya akan memasuki revolusi industri 4.0. Disaat revolusi industri 4.0 terjadi, mesin-mesin bekerja  tanpa membutuhkan lagi seorang operator.


Setiap manusia normal pasti berencana beranak cucu. Penulis yakin masyarakat pemilik lahan yang tengah dilanda badai rayuan perusahaan dan pemerintah adalah manusia-manusia normal. Manusia yang tidak mau mewariskan dosa anak cucunya. Manusia yang inginkan anak cucunya hidup di lingkungan sehat. Manusia yang ingin mewariskan anak cucunya tanah. Tanah untuk rumah dan sebagai alat produksi (berkebun).


Pemandangan saudara kita di Jawa telah memberi bukti. Banyak masyarakat Jawa tanahnya telah direnggut oleh perusahaan tebu sejak berpuluh-puluh tahun lalu. Akhirnya mereka melahirkan anak cucu tanpa tanah. Tak ada tanah untuk rumah. Tak ada tanah untuk bertani. Terlantar dan makanpun susah. Bisa dapat tanah gratis, tapi syaratnya harus terusir dari tanah Jawa (Ikut Program Transmigrasi).


Pada dasarnnya, coretan ini sekedar ramalan. Ramalan beda tipis dengan takhayul. Lagian Orang Muna doyan meyakini takhayul. Jadi "Sudah percaya saja," kata Abdur Juara 2 SUCI 4.

Penulis : LAW

Post a comment

0 Comments