INFOGRAFIS

header ads

Curhatan Mahasiswa Kuli Bangunan

Sumber : https://fr.123rf.com

Biaya kuliah yang terbilang sangat mahal, memaksa saya menempuh berbagai hal. Segala tawaran pekerjaan yang hinggap, asal bisa menghasilkan pundi-pundi rupiah dan halal tentunya, saya rela jalani demi bertahan kuliah dan keberlangsungan hidup. Biaya hidup di Ibu Kota Propinsi (baca: Kendari) sangat mencekik. Apalagi hidup sebatang kara. Tidak ada tumpuan untuk mengadu. Orang tua ada, meski Ibu seorang, tapi berdiam jauh di kampung halaman. Terpisahkan jarak lautan dan beberapa kabupaten. Segala keluh kesah di sini, tak sampai hati kukirim ke kampung halaman. Saya tak sudi menyulut rasa khawatirnyakepada sayaanak tercinta.

Polemik yang sering mengganjal dalam perjalanan hidup saya adalah fulus. Ketika dompet dibiarkan mengalami efek kemarau panjang, saya pun terancam lulus persyaratan penderita busung lapar. Bila musim panceklik itu tiba, mau tak mau teman-teman, saya terpaksa jadikan korban. Korban tujuan pinjam uang dan kadangkala setelah dapat pinjaman, saya khilafpura-pura pikunlupa mengembalikannya. Bukan maksud memultifungsikan teman tapi tiada pilihan lain, saya hanya melakukannya bila waktu kuliah lagi padat-padatnya sehingga tak ada waktu senggang untuk bekerja.

Menjalani perkuliahan berkat modal ekonomi BERDIKARI (Berdiri Di atas Kaki Sendiri), tanpa mengandalkan campur tangan orang tua atau keluarga, mendorong insting bertahan hidup di tanah rantau teruji. Contoh kasusnya sudah terungkap di paragraph dua tadi (Memultifungsikan Teman).  Selain itu, menuntut saya harus lihai memanejemen waktu. Memanfaatkan waktu senggang untuk meraup rupiah sebagai penyambung nafas hidup maupun kuliah. Sebabnya saya kenyang  malang melintang di kancah kerja serabutan.

Saya tak sungkan rutin menerjunkan diri sebagai Buruh Kasar atau Kuli  Bangunan. Kata bosku (Kepala Tukang) istilah gaulnya “Helper”. Bisa juga disebut Asisten Tukang. Tujuan istilah-istilah itu agar terdengar keren di telinga orang. Memang sih, Kuli Bangunan punya banyak istilah keren, tapi bentuk pekerjaannya tetap saja sama, yakni mencampur. Mencampur pasir, semen dan air.

Profesi Kuli Bangunan tak hanya soal mengandalkan kerja otot. Kita ikut dituntut memiliki stok ketabahan hati yang melimpah agar siap menghadapi badai terjangan intruksi para Tukang. Yang maunya dilayani layaknya seorang raja.  Alat atau bahan yang dibutuhkan saat kerja, semua berada di ujung telunjuknya. Kadang-kadang saya merasa dongkol dibuatnya, bila intruksinya sudah berada di titik overdosis. Belum lagi saat mendapat patner kerja, Tukang yang maunya di manja terus menerus (Kayak Siti Badriah saja, ha he). Yang malas bergerak meskipun alat atau bahan yang dibutuhkan lebih dekat dengan dirinya. Sampai-sampai, emosi dalam diri meminta keluar  untuk menyemprot  si Tukang manja tadi. Permintaan berangsur gugur, emosi langsung melempem  karena memikir hari esok. Menuruti emosi, saya tolak. Saya masih ingin kerja. Jika tidak, saya tidak mungkin menyanggupi biaya kuliah dan memenuhi kebutuhan hidup selama di tanah rantau.

Bisikan rasa iri kepada mereka yang kelimpahan rupiah tanpa harus jadi Kuli seperti saya, terkadang menggelantung dalam pikiran.  Sempat membuat motivasi down menghadapi beratnya beban biaya hidup. Biaya mengisi lambung, biaya transportasi kampus, biaya kerja tugas, biaya rokok dan lain-lainnya. Namun semua bisa saya tepis, meski selalu menyapa berulang kali. Bila rasa iri itu kembali menjenguk, ucapan Sultan Sahrir lah yang selalu saya ingat, bahwa “Penderitaan yang kita alami hanyalah sebagian kecil bila dibandingkan dengan penderitaan orang lain yang ada dibelahan dunia. Begitulah bunyinya kalau saya tidak salah ingat. Adapun kalau salah, itulah penafsiran yang akan tetap saya pegang teguh.

Penulis : Syahril Agusandi
Mahasiswa Psikologi UHO 2015 dengan UKT Rp. 3.5000.000 (3,5 jt)/Semester,  
Anggota Marobea Writer`s Club ( Klub Penulis Amatir Desa Marobea, Kecamatan Sawerigadi, Muna Barat)

Post a comment

0 Comments