INFOGRAFIS

header ads

Tanda Tanya Untukmu Yang Masih Melawan

Sumber: www.lawan.id

Kampus tak ubahnya sebagai pabrik. Tak henti-henti memproduksi para manusia yang senantiasa berpikir. Olehnya itu, budaya kritis tumbuh subur di dalamnya. Hakikat seorang yang berpikir akan mengekor pada kebenaran. Mengiyakan–yang benar harus dibela–yang salah harus dilawan. Itulah kodrat mahasiswa, seorang yang berpikir dan seorang yang akan melawan.

Langkah kaki negeri ini tak luput dari campur tangan perlawanan mahasiswa. Dua rezim perdana penguasa negeri takhluk. Soekarno penuh karismatik yang diakui dunia. Tapi apa daya, ia tak mampu menyelamatkan kursinya dari amukan protes mahasiswa. Begitupun Soeharto, sang Jenderal 5 bintang–tiga dekade merajut tahta. Senasib dengan pendahulunya, ia dipaksa lengser. Lagi-lagi oleh mahasiswa.

Mahasiswa sudah memberi bukti dapat mengusik maupun menggulingkan penguasa. Tapi bukti-bukti ini adalah peninggalan heroik masa lalu. Mari realistis menilai capaian perlawanan mahasiswa dewasa ini. Tak perlu menyeluruh lingkup Indonesia. Cukup cakupan Universitas Halu Oleo (UHO) saja. Bagaimana kondisi perlawanan mahasiswa UHO kini ?

Perlawanan yang tidak pernah tuntas. Perlawanan yang sarat akan egosentris lembaga baik internal maupun eksternal. Apakah keberhasilan perlawanan mahasiswa terdahulu mengajarkan demikian ? Tentu tidak.

Para panji perlawanan mahasiswa harus membuka kembali lembar sejarah. Mengapa perlawanan mahasiswa terdahulu berhasil ? Itu yang harus dicari tahu. Apakah mereka (mahasiswa masa lalu) tidak pernah tuntas berjuang ? Apakah mereka berjuang sembari merawat egosentris lembaga ?

Kalian sama-sama melawan. Tapi kamu mau diakui sebagai bendera merah, dia bendera hijau. Kalian sama-sama berjuang tapi kamu mau dianggap berbaju hitam dan dia berbaju biru. Yakinkah kalian apa bila berjuang secara demikian, melawan dengan kondisi terkotak-kotak akan membuahkan hasil ? Sekali lagi tidak akan.


Aku berseru: kepada semua mahasiswa yang masih mau melawan. Kenapa sampai hari ini kau melawan ? Apakah perlawananmu hanya formalitas ? Apakah dirimu melawan agar mo dibilang belaka. Ataukah hanya ingin menonjolkan bahwa kamu bendera hitam, dia bendera hijau dan mereka bendera merah di tengah-tengah perlawanan ?

Dengan barisan berbeda kalian lantangkan berjuang untuk rakyat. Aku bertanya: rakyat yang mana ? Apakah benar kalian membela rakyat. Ataukah membela nafsu bertompengkan rakyat ? Kalau toh, kalian sama-sama membela rakyat, kenapa tidak menyatukan barisan ? Bukankah sejarah persatuan menjanjikan kemenangan perjuangan ? Bukankah tanpa persatuan, perjuangan selalu menghadiahkan kekalahan ? Sampai detik ini aku masih bertanya: kalian sebenarnya berjuang untuk siapa ?

Redaksi

Post a comment

0 Comments