var uri = window.location.toString(); if (uri.indexOf("%3D","%3D") > 0) { var clean_uri = uri.substring(0, uri.indexOf("%3D")); window.history.replaceState({}, document.title, clean_uri); } var uri = window.location.toString(); if (uri.indexOf("%3D%3D","%3D%3D") > 0) { var clean_uri = uri.substring(0, uri.indexOf("%3D%3D")); window.history.replaceState({}, document.title, clean_uri); } var uri = window.location.toString(); if (uri.indexOf("&m=1","&m=1") > 0) { var clean_uri = uri.substring(0, uri.indexOf("&m=1")); window.history.replaceState({}, document.title, clean_uri); } var uri = window.location.toString(); if (uri.indexOf("?m=1","?m=1") > 0) { var clean_uri = uri.substring(0, uri.indexOf("?m=1")); window.history.replaceState({}, document.title, clean_uri); } Bagaimana Music Menjadi Pembentuk Kelompok Social Mahasiswa Bagian 1 (pengantar)

INFOGRAFIS

header ads

Bagaimana Music Menjadi Pembentuk Kelompok Social Mahasiswa Bagian 1 (pengantar)

Ilustrasi band anak muda. dokumen gelatikrecordindonesia.blogspot.com

Selalu ada yang mewakili perasaan atau sentiment terhadap sesuatu. Termasuk bait-bait dalam sebuah lagu. Lagu dalam pengertiannya adalah syair yang diberi nada. Dalam istilah lain lagu adalah kidung, secara harafiah kedua istilah ini tidak memiliki perbedaan secara signifikan, keduanya merujuk pada satu kata yaitu syair.

Lagu atau kidung adalah sarana lain bercerita akan sebuah pemikiran dari pencipta lagu. Jika, dilain hal cerita cenderung kita dapati sebuah narasi yang panjang dan terdapat dialog. Maka, dalam lagu kita mendapati sebuah kisah yang diceritakan dengan nada-nada. Nada-nada menjadi penanda sebuah syair/kisah.

Tidak jarang, banyak orang yang hanya mendengarkan nada lagu tertentu, mereka sudah langsung dapat mendeskripsikan sebuah pesan syair. Bahkan penulis secara pribadi menjadikan lagu sebagai penanda sebuah peristiwa atau pengalaman tertentu. Interpretasinya adalah lagu sebagai salah satu yang dapat menghadirkan rindu ataupun tentang gambaran obsesi tertentu.

Nah, jika lagu adalah bentuk ekspresi dari penikmat lagu atau musik. Apakah dalam ekspresi yang berbeda kita akan memilih musik yang berbeda pula? Tetapi dalam hal lain akan kita temui pengalaman seseorang yang hanya fanatik pada satu aliran saja. Atau hal tersebut dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan?

Dalam tulisan kali ini, kita akan fokus pada lingkup sosial mahasiswa. Pernahkah kita coba mungungkap alasan-alasan tentang kecenderungan terhadap lagu atau music tertentu? Penulis pikir penting mengungkap hal tersebut, sebab menurut penulis ketika mengidolakan musisi tertentu kita akan cenderung dijadikan sebagai patron atau pihak yang bisa menjawab kegelisahan kita melalui karyanya.

Salah satu editor CD Baby DIY Musician, Chris Robley pernah membuat statmen tentang perhatiannya terhadap bagaimana generasi milenial dalam merespon music, “berhenti mencemari milenial, mereka menyukai musik lebih dari yang pernah anda lakukan.”

Dewasa ini musik tidak hanya sekedar nilai seni, akan tetapi sudah sudah sangat rekat dengan bisnis. Eksistensi sebuah karya harus melalui nilai-nilai bisnis, bahkan perhitungan utama sebuah karya musik tidak lagi memprioritaskan sebuah nilai seni, tetapi soal bisnislah jadi prioritas. Ironisnya dalam pendidikan musik kita masih dalam tataran bisa bermain musik, tidak dengan persepsi musiknya.

Inilah kemudian yang mempengaruhi bagaimana kita memilih sebuah musik. Hitungan pasar dan pemuda sebagai sasaran pasar menjadi dominasi alasan musisi berkarya. Lagi lagi bisnis yang melatar belakangi. Sadar atau tidak pemuda dalam hal ini mahasiswa adalah sasaran empuk target konsumen pasar musik.

Disisi lain dalam rentan usia mahasiswa adalah masa pencarian dan keambiguan atas kegelisahannya dalam bersikap, turut mendinamiskan selerah musiknya. Hal tersebut menjadikan lagu sebagai mediasi terhadap ekspresi-penyokong eksisitensi diri. Lebih dini penulis katakan bahwa sebagian banyak dari musik-musik yang mereka dengarkan menjadi penuntun dalam menemukan ciri diri.

Post a comment

0 Comments