INFOGRAFIS

header ads

Hasil Seleksi CPNS dan Kualitas Pendidikan Kita

La Ode Ali Wardanah.

Selama dua pekan akhir-akhir ini, status media sosial sampai media mainstream banyak menyuguhkan tentang hasil tes seleksi CPNS yang hasilnya tidak diduga-duga, mengapa? Dari ribuan peserta yang mengikuti seleksi CPNS yang lulus tidak mencapai 1 persen dari formasi yang ada, salah satunya di Kabupaten Muna Sulawesi Tenggra (Sultra), dari 560 peserta seleksi hanya 5 orang saja yang lolos, belum lagi daerah lain di Bumi Anoa ini yang hasilnya sungguh mengecewakan banyak orang.

Sebagai contoh di beberapa daerah di Sultra seperti Kota Kendari, dari jumlah peserta yang mengikuti seleksi CPNS dengan sistem CAT sebanyak 3.872 yang dinyatakan lulus hanya 67 orang, belum lagi Kabupaten Buton Selatan dengan jumlah peserta sebanyak 4.374 yang berhasil lulus hanya sebanyak 42 orang saja. Sementara untuk Kabupaten Konawe Kepulauan, dari jumlah peserta ujian sebanyak 985 hanya 14 saja yang lulus. Ironis bukan?

Saya pikir, hasil kelulusan CPNS yang sangat mengecewakan ini bukan hanya saja berada dan dirasakan oleh masyarakat Sultra, tetapi dirasakan pula di seluruh bagian daerah lain yang ada di Indonesia.

Pertanyaan yang timbul adalah sesulit apakah soal-soal tes CPNS ini, hingga para lulusan Universitas ternamapun tidak bisa menjawab soal-soal itu? Apa IQ masyarakat Sultra di bawah rata-rata, ataukah soal-soal tes CPNS ini tidak pernah diajarkan di bangku pendidikan? Miris memang.

Memang tidak lain persoalannya sudah pasti di dunia pendidikan bangsa ini, kalau kita melihat sistem pendidikan di Indonesia saat ini lebih mengedapakan Profit atau keuntungab ketimbang kualitas. Percuma kampus-kampus yang ada di Sultra mengeluarkan ribuan sarjana dan diploma setiap tahunnya jika kualitasnya tidak dapat bersaing.

Menurut saya, dunia pendidikan saat ini sudah menjadi lahan basah bagi kaum kapitalistik atau pemodal, di mana dunia pendidikan dijadikan tempt untuk meraup keuntungan yang sebesar-besarnya. Coba kita analisa pendidikan saat ini sudah melenceng dari cita-cita kemerdekaan sebagaimana tercantum dalam Preambule UUD 1945: Memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa.

Dapat kita katakan bahwa sistem pendidikan di Indonesia saat ini gagal total dan hanya bisa melahirkan manusia robot. Bagaimana tidak, Sumber Daya Manusianya saja tidak dapat bersaing. Jadi, jangan heran jika hasil tes CPNS dari sekian ribu orang yang daftar, hanya puluhan saj yang dapat lulus seleksi.

Maka dari itu untuk menangani persoalan pendidikan bangsa ini adalah harus kembalih pada cita-cita kemerdekaan,yakni pendidikan yang gratis, ilmiah dan demokratis agar dapat menciptakan manusia yang benar-benar berguna bagi bangsanya. Jangan hanya mengutamakan profit yang sebesar-besarnya.

Penulis : La Ode Ali Wardanah, Ketua Eksekutif Wilayah Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi Sulawesi Tenggara (EW LMND Sultra)

Post a comment

0 Comments