INFOGRAFIS

header ads

Menikmati Namun di Mana Belas Kasih

  • Sumber gambar : republika

Seperti yang telah diketahui bahwa pendidikan sangat berperan penting dalam memajukan dan mengembangkan kehidupan Bangsa dan Bernegara. Sekarang tidaklah susah untuk melanjutkan Pendidikan ke Perguruan Tinggi karena di setiap Daerah sudah ada Universitas Negeri maupun Swasta, tapi bagaimana untuk orang yang tidak mampu namun ingin melanjutkan Pendidikan ke Perguruan Tinggi “apakah bisa?” Pertanyaan-pertanyaan yang sering keluar dari mulut rakyat yang tidak mampu (Miskin) jawabannya “bisa!”. Karena banyak macam Beasiswa yang ditawarkan Universitas seluruh Indonesia.

Beasiswa menjadi sebuah penolong dan pembantu untuk orang yang ingin melanjutkan pendidikan setinggi-tingginya namun terbatas Ekonomi dan salah satu beasiswa yang sangat menarik dan menjanjikan yaitu Beasiswa BIDIK MISI, Salah satu beasiswa yang selalu di idam-idamkan semua kalangan tanpa adanya belas kasih. Sangat menarik untuk di bahas, Pada tahun 2010 Pemerintah memberikan kemudahan dan bantuan untuk orang yang tidak mampu (Miskin) dengan mengeluarkan yang namanya Beasiswa BIDIK MISI. Wujud bantuannya adalah digratiskannya biaya kuliah selama 4 tahun selain itu penerima BIDIK MISI juga mendapat uang saku sebesar Rp. 650.000 per bulan, dicairkan tiap 6 bulan sekali totalnya Rp. 3.900.000

Sanggat membantu bukan? apakah Beasiswa BIDIK MISI yang kita tahu sekarang ini hanya dinikmati oleh orang yang tidak mampu(Miskin)? Jawaban-ya “tidak,” karena sekarang banyak orang yang dari keluarga berkecukupan, berduit yang bahkan bergelimang harta ikut menikmati keberadaan BIDIK MISI.

Melihat apa yang dilakukan kaum Borjuis (masyarakat dari golongan menengah ke atas) tentu saja membuat perasaan kita sedih, marah tapi kita harus benci dan marah pada siapa? apakah dengan orang-orang Petinggi atau dengan orang yang memanfaatkan keberadaan BIDIK MISI? bingung.

Pada tahun 2016, tepat 2 tahun lalu saya mulai melangkahkan kaki masuk ke dalam dunia Kampus. Satu semester telah terlalui dan di situlah saya tersadarkan bahwa dalam kampus pun ada yang namanya penindasan (bukan penindasan antara Mahasiswa dan Dosen) tapi penindasan pengambilan hak yang seharusnya bukan menjadi hak mereka kaum Borjuis (masyarakat dari golongan menengah ke atas) ada seorang kawan yang berkata “Bidik Misi sudah cair,” seperti itulah bahasanya dengan raut muka yang bahagia dan senang, lantas saya langsung bertanya kamu BIDIK MISI? “iya,” SPP gratis dan dapat uang per semester? “iya,” bingung dan heran karena yang saya tahu Ekonomi keluarganya bisa dibilang Ekonomi Kelas Atas.

Tidak lama kemudian saya ditawarkan makan gratis saya pun langsung mengiyakan dengan perkataan mentang-mentang BIDIK MISI sudah cair, kami pun tertawa sambil memulai langkah kaki kami menuju kantin. Mendengar perkataan dan melihat apa yang di perbuat kaum Borjuis (masyarakat dari golongan menengah ke atas) terhadap yang bukan hak mereka membuat perasaan saya sedih tapi saya harus berbuat apa, saya hanya ikut menikmati yang bukan hak kami.

Beberapa hari berlalu, tiba-tiba timbul pertanyaan penting yang harus saya pertanyakan karena yang saya tauh dan bahkan semua Mahasiswa mengetahui ini terkecuali yang pura-pura tidak mau tahu karena keserakahan diri yang tidak pernah puas, bahwa untuk mendapatkan bantuan BIDIK MISI harus ada beberapa Syarat dan yang terpenting adalah slip gaji orang tua dan foto rumah, seharusnya kaum borjuis (Masyarakat dari golongan menengah ke atas) tidak bisa masuk BIDIK MISI.

Lagi-lagi saya bertanya ke kaum borjuis (masyarakat dari golongan menengah ke atas) kok bisa? dan saya mendapat jawaban yang paling konyol, foto yang dikumpul bukan foto rumahnya, melainkan foto rumah salah satu warga Miskin yang ada dikampungnya yang menurut dia layak dikasihani.

Kalau kasihan seharusnya jangan mengambil hak orang lain, benar-benar perbuatan yang tidak memikirkan kalangan bawah(miskin), hal yang sangat menyebalkan. Ke mana sebenarnya pihak-pihak yang diberikan tanggung jawab untuk memeriksa prosedur dan survei ke calon penerima BIDIK MISI, misalnya anak ini berasal dari keluarga tidak mampu? Benarkah rumahnya memprihatinkan? Slip gajinya sudah benar atau tidak?Pertanyaan-pertanyaan macam itu harusnya terjawab dengan jelas jika survei dilaksanakan dengan benar.

Sepertinya semua hanya andai-andai, banyak kampus yang tidak melaksanakan aturan ini secara serius terutama di kampus saya tercinta dan terkasih banyak sekali yang masuk BIDIK MISI bukan dari kalangan bawah melainkan dari kalangan mampu. Terkadang timbul rasa heran sebenarnya yang bisa masuk BIDIK MISI dari kalangan mampu ini mau dibilang takdir, kelalaian petugas pemeriksa, atau adanya orang dalam, berbicara tentang yang namanya orang dalam tidak akan pernah habis, adanya orang dalam memang sangat menguntungkan bagi segelintir orang saja bagaimana yang tidak punya orang dalam dan miskin, dan pada akhirnya banyak bantuan BIDIK MISI yang salah sasaran.

Berbahagialah mahasiswa-mahasiswa dari kaum borjuis( masyarakat dari golongan menengah ke atas) yang bisa masuk BIDIK MISI di tambah lagi uang saku hampir jutaan dalam sebulan. Serakah, rakus dan tidak pernah puas, saat BIDIK MISI cair yang ada di Pikiran kalian cair lagi mau ke mana, beli apa, pokonya untuk bersenang senang memuaskan diri tanpa kalian berpikir.

Beasiswa BIDIK MISI sekarang menjadi hak semua kalangan bukan hanya untuk kalangan yang tidak mampu (miskin) yang tingi semakin ke atas dan yang rendah semakin ke bawah. Banyak cara untuk mendapatkan Beasiswa tanpa harus berpura pura menjadi miskin.

Marilah kitasama-sama sadar dan meru-bah diri untuk tidak mengambil hak orang lain dan untuk kepentingan kita bersama sebagai penerus bangsa. MERDEKA!


Penulis : Hilda (Mahasiswi Fakultas Ekonomi dan Bisnis UHO)

Post a comment

0 Comments