INFOGRAFIS

header ads

Perempuan Bangkit Bersama Di Hari Pahlawan

Foto: repro buku "Agresi Militer Belanda Memperebutkan Zamrud Sepanjang Khatulistiwa 1945/1949" karya Pierre Heijboer.

Oleh : Sri Destiana, Kartini E-Kom LMND UHO

Sepuluh november yang kita peringati sebagai Hari Pahlawan. Hari yang merupakan hari untuk mengenang perjuangan heroik para Pahlawan.

Hari pahlawan diperingati karena adanya pertempuran hebat pada 10 November 1945 di Surabaya. Pertempuran ini melibatkan dua pihak antara pihak tentara Indonesia dan pasukan Inggris di bawah payung Sekutu. Pertempuran ini juga merupakan ujian pertama bangsa kita pasca mengproklamasikan kemerdekaannya. Sejarah mencatatnya sebagai salah satu pertempuran terbesar dan terberat dalam rekam jejak Revolusi  Nasional, yang pada akhirnya menjadi simbol nasional atas perlawanan Indonesia terhadap kolonialisme.

Sebelum pertempuran meletus, satu hari sebelumnya, tanggal 9 November 1945, Inggris mengeluarkan ultimatum—menghendaki agar semua persenjataan yang ada pada rakyat Surabaya diserahkan ke Inggris—berisi ancaman akan menggempur kota Surabaya apabila rakyat Indonesia tepatnya yang di Surabaya tidak mentaati perintah Inggris tersebut. Namun ultimatum itu tidak diindahkan oleh rakyat Surabaya. Sehingga terjadilah pertempuran di Surabaya yang sangat dahsyat pada tanggal 10 November 1945.

Pertempuran berlangsung selama kurang lebih satu bulan lamanya. Ribuan pejuang dan rakyat biasa yang meregang nyawa kala itu. Namun api semangat perlawanan rakyat Surabaya terus membara, tak gentar menghadapi Inggris. Kota Surabaya kemudian dikenang sebagai Kota Pahlawan dan 10 November diperingati pula setiap tahunnya sebagai Hari Pahlawan.

Beranjak dari sejarah tersebut, para pahlawan yang berjuang, kebanyakan adalah kaum laki-laki. Laki-laki tokoh utama dalam sejarah perjuangan bangsa ini. Tapi kita tidak bisa mengabaikan bahwa kaum perempuan pada saat itu juga memiliki kekuatan yang bisa mengubah sejarah bangsa. Bukan hanya berada di belakang pahlawan laki-laki, tetapi juga menunjukkan bahwa mereka bisa berada di depan sebagai perempuan berpengaruh untuk bangsa.

Diantara tokoh pahlawan perempuan yang terkenal adalah R. A Kartini, yang membuka mata masyarakat mengenai pentingnya pendidikan untuk perempuan. Dan tokoh selanjutnya Rusana Said,yang berjuang untuk mengangkat martabat wanita dan sebagai orator ulung yang ditakuti oleh penjajah Belanda pada masanya. Ada juga Cut Nyak Dien, seorang pahlawan perempuan dari Aceh. Pasca kematian suaminya, ia memimpin rakyat Aceh untuk melawan Belanda.

Belajar dari tokoh-tokoh pahlawan perempuan tadi, perempuan bisa mengetahui bahwa kaum perempuan turut andil dalam sejarah perjuangan Bangsa Indonesia. Sebagai perempuan kita harus mencontoh semangat, kerja keras serta cita-cita mereka, sehingga kita bisa melanjutkan, mewujudkan dan bangkit bersama cita-cita tersebut. Cita-cita yang menghendaki kemerdekaan dari penjajahan bangsa asing.

Untuk itu semua perempuan harus bangkit lewat Hari Pahlawan ini. Bangsa kita kembali dijajah, dijajah secara halus dengan wajah penjajahan gaya baru alias Neoliberalisme.

Ayo bangkit, semua perempuan Indonesia! Sudah bertahun-tahun lamanya perempuan dibelenggu oleh stigma ketertindasan. Perempuan tidak bisa berbuat lebih selain urusan dapur, sumur dan kasur. Perempuan hanya sibuk mengurus make-up, dan selalunya nyaman di belakang laki-laki. Stigma-stigma itu malah memuluskan anggapan kaum perempuan yang amat begitu lemah.

Semua keliru, perempuan bisa ikut bangkit melawan layaknya laki-laki yang masih terus berjuang melawan ketertindasan yang diberi bangsa asing kepada bangsa kita. Perempuan harus terlibat  mewujudkan cita-cita kemerdekaan—keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia—yang belum terwujud hingga kini.

Saya ingin mengatakan bahwa, untuk semua perempuan di dunia dan untuk pupuk kesadaran diri perempuan Indonesia, yakni bangkit dari keterpurukan sehingga perempuan tidak merasa tertindas dari segala aspek yang menjadi masalah.

Post a comment

0 Comments