INFOGRAFIS

header ads

Solidaritas Untuk Agni, Korban Pelecehan Seksual di Dunia Pendidikan

Sumber Gambar : tribunnews.com

Paradigma wanita sebagai objek seksual Nampaknya masih subur dalam dunia pendidikan. Bagaimana tidak beberapa waktu lalu, pelecehan seksual yang dialami salah satu mahasiswi UGM menjadi pemberitaan yang menarik untuk dibahas di kalangan mahasiswa.

Agni (korban kekerasan seksual) adalah representasi betapa dunia kampus sebagai sebuah medium pembentukan moral dan intelektual tidak mampu membentengi hak-hak mahasiswanya, sebab faktanya agni (bukan nama sebenarnya) mendapatkan respon kurang baik dari pihak kampus.

Alih-alih mendapat pembelaan atas masalahnya, malah kampus lebih memilih menutup-nutupi kasus tersebut dengan menganggap kasus tersebut bukan pelanggaran berat. Ia pun sempat mendapat nilai C dari mata kuliah KKN yang kejadian pelecehan seksual tersebut, terjadi pada Juni 2017 saat KKN di Pulau Seram, Maluku. Pelaku merupakan teman (mahasiswa) KKNnya.

Keberanian Agni untuk membelah haknya tersebut mendapat respon kurang baik dari salah satu pejabat UGM yang menganalogikan korban sebagai “ikan asin yang memangcing-mancing kucing”. Sungguh respon yang menjatuhkan martabat perempuan untuk dalih menjaga nama baik kampus.

Bukan yang pertama

Kasus yang dialami Agni adalah rentetan langgengnya penjahat-penjahat kelamin yang berkeliaran di dunia kampus/pendidikan. Menurut Suharti, Direktur Rifka Annisa, Women's Crisis Center Yogyakarta, "Sejak tahun 2000 hingga 2015 ada 214 kasus kekerasan terhadap perempuan yang dilakukan  profesi dosen, guru, maupun staf akademik. Ada 32 kasus pelecehan seksual dan 8 perkosaan. Sebanyak 148 kasus kekerasan terhadap istri, 22 kasus kekerasan dalam pacaran dan 6 kasus dalam rumah tangga."

Dari data tersebut, pelaku tidak hanya dari mahasiswa. Fakta mencengangkan bahwa profesi dosen sebagai tenaga pendidik professional menjadi salah satu biang keladi dari sejarah panjang pelecehan seksual terhadap perempuan.

Sudah menjadi cerita lumrah bahwa akan selalu ada dosen-dosen yang gemar menggoda mahasiswinya dengan bersenjatakan nilai untuk mengiring kepada terpenuhinya obsesi birahi. Ada yang hanya gemar merayu, tetapi tetap saja nilai moral dan maruah sebagai intelektual akan pudar.

Jenis pelecehan juga bermacam-macam: dari pelecehan verbal, diraba-raba, eksploitasi seksual dengan iming-iming nilai, dan perkosaan. Sementara yang berkoresponden dengan kami terdiri dari korban sendiri, teman korban, pacar korban, suami korban, dan pers kampus. Sementara pelakunya dari mayoritas dosen, lalu staf kampus. (tirto.id)

Pencegahan harus sudah dibendung, salah satunya bisa dilakukan dengan membentuk kesadaran politik perempuan terhadap apa yang menjadi hak dan kewajibannya. Kemudian perempuan dalam hal ini mahasiswi harus bersolidaritas bukan hanya soal bedak, tapi bagaimana harkat dan martabat perempuan dapat setara dengan laki-laki.

Penyintas Takut Buka Suara

Dengan keadaan kampus yang mengesampingkan banyaknya kasus pelecehan di dunia kampus, barangkali akan banyak agni lain yang akan menerima nasib yang sama. Dilecehkan, tersintas, kemudian dilupakan tanpa adanya jaminan penyelesaian secara hukum.

Kondisi ini di perparah oleh tidak adanya SOP penanganan kasus kekerasan seksual di lingkungan kampus. Dengan kondisi psikologis perempuan dalam hal ini yang paling banyak mendapatkan posisi sebagai korban, lebih memilih pasrah ketimbang mengadukan ke pihak kampus, sebab tidak adanya jaminan hukum dalam kampus.

Hampir 90% kasus pelecehan/kekerasan terhadap perempuan berujung pada hasil damai : korban rusak, pelaku berkeliaran. Ini mengindikasikan bahwa perempuan cenderung untuk mengalah terhadap penindasan yang diperolehnya dan menjaga identitas diri dari stigma.

Disisi lain masih banyaknya dari kalangan kalangan mahasiswa yang tidak mengetahui jenis-jenis pelecehan seksual. Sebagai contoh, kontak fisik dan non fisik: siulan, main mata, komentar atau ucapan bernuansa seksual, mempertunjukkan materi-materi pornografi dan keinginan seksual, colekan atau sentuhan di bagian tubuh, gerakan atau isyarat yang bersifat seksual. (Komnas Perempuan).

Dilain hal perempuan kurang mempunyai sentimen yang sama jika terjadi pelecehan. Hal-hal yang modis masih menjadi perhatian utama mereka, walaupun tidak semua demikian. Dan kadang jalan yang dipilih pertama-tama adalah merahasiakan masalah tersebut, bukan malah melaporkan dan memposisikan sebagai korban yang harus diproses kasusnya. Lagi-lagi masalah edukasi.

Penindasan Perempuan Di kampus

Penindasan perempuan juga merasuk dalam sector pendidikan. Tahukah bahwa streotif beberapa fakultas tertentu, sering kali jumlah mahasiswa perempuan lebih banyak dan laki-laki lebih sedikit? Ya, tentu kita kan mengarah pada fakultas ekonomi, farmasi, kesmas, kedokteran, ilmu komunikasi dll. Ini ada kaitannya antara relasi pendidikan sebagai aparatur ideologi ekonomi Negara dan industry.

Dalam tatanan Negara yang menganut ideology neoliberal--kemudian termanifestasi dalam hal system praktek ekonominya tentunya memilih pendidikan sebagai pilar utama pemasok tenaga kerja yang terampil dengan beberapa persyaratan, semisal wanita berpenampilan menarik. Dan kebanyakan sector-sektor tersebut merujuk beberapa fakultas yang saya sebutkan di atas.

Tubuh wanita telah menjadi komodifikasi dan tumbuh menjadi masif di era industrialisasi kapitalisme. Wanita dipandang sebagai sumber profit, semisal industry kecantikan, fashion, bentuk tubuh, atau pengiklanan. Dan industry-industry tersebut turut serta mempersiapkan sedini mungkin dengan masuk ke sector pasar mahasiswa.

Alhasil masyarakat kampus yang di dominasi usia 18-25 syarat akan eksistensi diri. Kemudian untuk menjaga itu, berlomba-lombalah membentuk identitas diri dengan sangat artifisial yakni merias diri sebagai bentuk pengakuan dan melatih/membiasakan diri ketika masuk dalam dunia industrial. Syarat yang kemudian membentuk standar dalam status social dalam kampus.

Disisi lain jika melihat kasus Agni, Perempuan dipandang hanya dalam perspektif perempuan tidak lebih adalah hanya persoalan ‘tubuh’ saja. Sejak lama tubuh perempuan telah di konstruksikan untuk sekadar berperan sebagai: alat reproduksi, alat pemuas, hingga alat tukar atas dasar relasi pemilikan yang berpusat pada laki-laki. Dengan kata lain tubuh perempuan dijadikan sasaran tindakan, kontrol, dan objek pemilikan. (Zely Ariane)

Tentunya, kejadian yang menimpa Agni bukan menjadi persoalan Agni dan kaum perempuan saja, tetapi ini adalah masalah bersama sebagaimana apa telah Sukarno katakan “bahwa soal perempuan bukanlah soal buat kaum perempuan saja, tetapi soal masyarakat, soal perempuan dan laki-laki. Dan sungguh, satu soal masyarakat dan negara yang amat penting.” (dalam buku Sarina, hal. 11).

Akhir kata penulis menyeruhkan bersatulah kaum yang tertindas, bersatulah kaum perempuan—rebut kemerdekaanmu—lepaskan tirani!


Penulis : Max Pram

Post a comment

0 Comments