INFOGRAFIS

header ads

Ketika 'Nama Kartini' Digugat Oleh Perempuan

Illustrasi perempuan menggugat. Sumber gambar ANTARA Foto.

Kartini memang sudah sangat sering digugat bahkan oleh kaumnya sendiri. Di jaman yang milenial ini, di mana informasi  sudah sampai di dinding-dinding kamar kita, Kartini bukan hanya saja sebagai pikiran tetapi namanya masih saja menjadi buah bibir, ia dipuja dan digugat.

Belum lama ini, artikel yang berjudul "Saya Bukan Kartini" membuatku cukup tercengang ketika membacanya. Saya bisa melihat si penulis mencoba memuntahkan segala kebencian dan protesnya atas sebutan 'Kartini' yang entah 'Setan' mana telah melekatkannya tepat di depan namanya itu.

Sebagai kepekaan sesama manusia, saya sepakat dengannya yang mengeluarkan protes keras dari penyebutan nama 'Kartini' di depan namanya. Alasannya bisa saja Pertama, si penulis tidak diberikan nama 'Kartini' oleh kedua orang tuanya, terlebih di depan namanya aslinya, kedua, sebutan 'Kartini' tidak atau mungkin belum mendapatkan persetujuan darinya. Jadi kelihatannya itu sebagai pemaksaan penyebutan nama yang sepihak, dan ketiga, ia tidak mengetahui alasan kuat apa sehingga dirinya bersama kawan perempuannya yang lain diberi sebutan sama. Mungkin hanya untuk gagah-gagahan, bisa jadi begitu.


"Jadi sebenarnya saya tidak suka, ya. saya tidak ingin ada nama orang lain didepan nama saya. Apa lagi nama Kartini. Bukan saya membenci tapi tidak suka saja. Saya hanya tau siapa itu Kartini, tapi tidak mengenal Kartini, dan dia juga tidak mengenal saya. Karna tau belum tentu kenal. Mengapa bukan Kartini saja dibelakang nama saya, kan sama saja."


Potongan tulisannya ini mengisyaratkan, betapa tidak nyamannya ia terhadap sebutan itu. Dirinya pun mengaku 'Tidak Mengenal' siapa itu Kartini namun hanya sekedar tahu, bisa saja hanya mengetahui namanya tapi tidak dengan perjuangannya. Ya, seumpama buku, ia hanya mengetahui judul bukunya tapi tidak mengatahui apa isi buku itu, seumpama Film, ia hanya mengetahui judulnya pula tanpa mengetahui alur ceritanya. Begitulah kira-kira saya memberi penilaian.

KENAL di sini menurut pemahaman saya adalah si penulis belum benar-benar mengetahui alur ataupun isi pemikiran Kartini yang mencoba melepaskan kaumnya (bukan pribadinya) dari belenggu Feodalistik, dalam hal ini Kartini sebenarnya perempuan pertama yang menelanjangi sistem Feodal. Si penulis juga mungkin belum mengenal di mana Kartini tidak hanya sekedar menulis surat untuk sahabatnya Stella seperti seorang perempuan curhat kepada pasangannya.

Surat-surat Kartini terhadap sahabatnya Stella sebenarnya adalah kegelisahan, protes, terhadap adat budayanya yang Patriarki itu sehingga mengekang perempuan secara keseluruhan dengan embel budaya PINGIT (salah satunya) untuk mengurung setiap perempuan dewasa yang sudah siap dipersunting oleh pria manapun tanpa bisa memilih, ia hanya bisa menerima, bukankah Kartini dipaksa menjadi Istri nomor empat. Terlebih Kartini hanyalah anak dari percampuran antara bangsawan (Ayahnya : Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, Bupati Jepara) dan rakyat biasa (Ibunya: M. A. Ngasirah).

Bahkan, Kartini bisa disebut Pribumi dengan pemikiran moderen pertama di Nusantara, ia lah yang memperkenalkan rasa Nasionalisme atau Kebangsaan karena mampu merasai apa yang dirasakan kaumnya, bukan hanya kepada kaum perempuan atasan (kelas bangsawan) tapi juga pada perempuan biasa (rakyat jelata).

Bukankah ia juga berhasil melepaskan belenggu itu dengan menyebut dirinya 'Kartini Saja' tanpa ada embel-embel 'Raden Ajeng' di depan namanya. Sastrawan besar Indonesia, Pramoedya Ananta Toer dengan kecermatannya berhasil membongkar pemikiran Kartini bahkan menyusun Biografinya dengan diberi judul "Panggil Aku Kartini Saja". Itulah tanda kebesaran seorang keturunan bangsawan yang rela melepaskan tahtanya hanya untuk bisa duduk sama rata dan sama rasa dengan rakyat kebanyakan.

Mungkin sayapun salah dalam menilai ini semua, namun dapat saya menerka bahwa lekatnya sebutan 'Kartini' pada si penulis dan kawannya yang lain hanyalah untuk berharap dan menitip bahwa setiap perempuan di Indonesia haruslah dapat mewarisi Api Perjuangan Kartini, seperti yang menjadi amanat Bung Karno "Warisi Apinya, Bukan Abunya".

Pada akhirnya, kitapun harus memberi pemakluman kepada si penulis yang mungkin hingga kini masih belum bisa menerima dengan penyebutan 'Kartini' yang diselipkan di depan nama aslinya.

Harum atau busuknya bunga hanya dapat diketahui dengan menghirup aromanya.

Penulis : Marhaeni (Seorang Perempuan dari Kalangan Biasa)

Post a comment

0 Comments