INFOGRAFIS

header ads

Rambut Gondrong dan Orde Baru

Pria berambut gondrong. Sumber gambar lindawahyuni25.blogspot.com


Sejarah lahirnya Orde Baru (Orba) ditandai dengan jatuhnya rezim Soekarno dan digantikan oleh Soeharto. Pergantian rezim ini juga mempengaruhi perubahan sistem politik, ekonomi, sosial di Indonesia.

Salah satu contoh perubahan di bidang ekonomi adalah dikeluarkannya Undang-undang Penanaman Modal Asing (PMA) No. 1/1967 yang juga menjadi tanda telah dilakukannya kebijakan pintu terbuka yang mempermudah modal asing masuk ke Indonesia.

Masuknya modal asing juga membawa konsekuensi turut masuknya budaya-budaya asing (barat) ke Indonesia. Hal inilah yang menjadi ketakutan pemerintah Orde Baru saat itu, dikarenakan pada periode 1960an di dunia Barat berkembang suatu gerakan dari kalangan anak-anak muda yang dikenal sebagai kelompok Hippies.

Hippies adalah salah satu kelompok counter culture (budaya tandingan) yang secara radikal menolak kebudayaan dominan dalam masyarakat. Hippies identik dengan perlawanan dan pembangkangan kaum muda terhadap tatanan sosial yang berlaku yang dinilai konservatif bagi mereka.

Kelompok Hippies dapat dilihat dari penampilan mereka yang menunjukan simbolisasi dari kedekatannya pada alam, seperti penampilan eksentrik, rambut panjang (gondrong) dan lain-lain.

Pelarangan dan pemberantasan rambut gondrong merupakan salah satu kebijakan dan kegiatan pemerintah Orde Baru pada kurun waktu 1966-1973. Hal ini untuk mencegah terpengaruhnya anak-anak muda akan budaya barat yang membuat mereka onverschillig (acuh tak acuh).

Pelarangan dan pemberantasan rambut gondrong ini dilakukan secara tersitematis mulai dari sekolah maupun kampus, razia di jalanan dan lain-lain. Bahkan Gubernur Sumatera Utara, Marah Halim membentuk Badan Koordinasi Pemberantasan Rambut Gondrong (Bakorperagon) yang mempunyai tugas membasmi tatacara pemelihataan rambut yang tidak sesuai dengan kepribadian dan kebudayaan bangsa.

Rambut gondrong yang dekat dengan budaya hippies dianggap dapat membuat anak-anak muda menjadi susah diatur dan sering berontak. Karena menimbulkan ancaman yang dapat merusak generasi muda maka rambut gondrong dan hippies dilarang pada masa Orde Baru. Tetapi perlu diketahui bahwa pengaruh budaya barat masuk lewat media televisi, radio, majalah luar negeri. Dan pada saat massa orde baru hal seperti ini hanya bisa diakses oleh kalangan anak muda menengah keatas saja.

Hal ini menimbulkan kekhawatiran orang-orang tua dari kalangan menengah ke atas (pejabat, pengusaha, politisi), melihat perilaku anak-anaknya yang jauh dari kesan sebagai kalangan elit terhormat, dibuktikan dengan banyaknya anak-anak muda dari kalangan atas yang terlibat kasus kenakalan remaja.

Jadi kekhawatiran Orde Baru terhadap rambut gondrong dan budaya barat timbul karena adanya kekhawatiran orang-orang tua (kalangan atas) terhadap anak-anak mereka saja bukan pada kalangan muda keseluruhan. Karena anak-anak muda (kalangan atas) diarahkan menuju tongkat estafet untuk mewarisi kedudukan yang mereka pegang saat itu.

Mempertahankan kepribadian dan kebudayaan bangsa juga menjadi alasan kenapa rambut gondrong itu dilarang. Hal ini sebenarnya menunjukan bahwa rendahnya kesadaran penguasa (Pemerintah) akan sejarah Indonesia, sebab menurut Sir Thomas Stamford Raffles dalam bukunya Sejarah Pulau Jawa (The History Of Java), Raffles menyebutkan bahwa "Para pria dan wanita rambut nya tidak ada yang dipotong, tetapi dibiarkan panjang alami. Bahkan di kalangan para petinggi, rambut panjang terurai merupakan sebuah kehormatan". Dari sini jelas bahwa pernyataan yang mengatakan rambut gondrong tidak sesuai dengan tradisi Indonesia (baca: Jawa), sudah tentu tidak sesuai dengan sejarah itu sendiri.

Kebijakan ekonomi terbuka (liberal) lewat UU.PMA No. 1/1967, juga ikut mempengaruhi masuknya budaya asing (Barat) di Indonesia. Hippies yang identik dengan rambut gondrong dan perlawanan anak-anak muda di dunia Barat dinilai sebagai ancaman yang dapat mempengaruhi generasi muda Indonesia. Ketakutan ini menimbulkan dikeluarkannya kebijakan dan tindakan memberantas rambut gondrong di Indonesia pada massa awal Orde Baru.

Pelarangan dan pemberantasan rambut gondrong sebenarnya dapat dilihat hanya sebagai usaha sebagian kelompok orang tua saja dalam hal ini kalangan atas untuk melindungi anak-anak mereka agar tidak terpengaruh guna mewariskan kedudukan yang sedang mereka kuasai.

Pelarangan rambut gondrong dengan beralasan dapat mempengaruhi budaya dan tradisi di Indonesia adalah menjadi wujud bahwa rendahnya kesadaran pemerintah (penguasa) akan sejarah itu sendiri. Rambut gondrong yang mendapat perhatian khusus dari pemerintah juga menunjukan bagaimana Orde baru dengan mudah mencampuradukan hal yang sifatnya privat dan publik.

Persolan rambut gondrong adalah persoalan kebebasan individu selain itu pada dasarnya rambut gondrong adalah persoalan selera, bukan persoalan yang mengganggu ketentraman umum. Dan dalam masalah selera, bila selera umum yang dianggap hukum yang sah untuk menindak selera yang khusus, maka yang terjadi adalah bukan lagi demokrasi, melainkan semacam diktatur kolektif.


Penulis : LDR
Referensi : Yudihistira, Aria Wiratma, "Dilarang Gondrong : Praktik Kekuasaan Orde Baru Terhadap Anak Muda Awal 1970an," Serpong : Marjin Kiri, 2010

Post a comment

0 Comments