INFOGRAFIS

header ads

Saya Bukan Kartini

Sumber gambar dok. Pribadi penulis

Sebelum saya berceloteh panjang lebar, saya ingin memperkenalkan nama saya dulu guna mempertegas judul.
Ok! Nama saya Sri Destiana, kerap dipanggil Sri, saya anggota dari salah satu  organisasi mahasiswa di Kota Kendari.

Dalam organisasi ini sebenarnya mempunyai nama panggilan khusus Kartini didepan nama anggota untuk perempuan. Jadi nama saya ditambahkan menjadi Kartini Sri. Entah atas dasar apa perempuan yang berada di organisasi tersebut disapa dengan sapaan Kartini.

Sapaan Kartini pada awalnya saya tidak keberatan tapi lama-lama kelamaan untuk apa sebenarnya? Mungkin sebagai penanda bahwa kami perempuan. What! Tidak masuk akal. Apa masih kurang, kami cantik pake banget untuk menandakan bahwa kami perempuan, memiliki payudara, memiliki rahim, sampai harus memiliki sapaan Kartini didepan nama kami.
Saya juga tidak tau tujuannya apa, dipanggil dengan sapaan Kartini.

Jadi sebenarnya saya tidak suka, ya. saya tidak ingin ada nama orang lain didepan nama saya.  Apa lagi nama Kartini. Bukan saya membenci tapi tidak suka saja. Saya hanya tau siapa itu Kartini, tapi tidak mengenal Kartini, dan dia juga tidak mengenal saya. Karna tau belum tentu kenal. Mengapa bukan Kartini saja dibelakang nama saya, kan sama saja.

Hal yang lainnya kawan-kawan tidak pernah bertanya apakah kami menyukai atau tidak dengan sapaan tersebut.

Kalau hanya untuk menjadi pengingat agar tidak lupa dengan cita-cita Kartini, saya pikir tidak akan lupa. Atau agar kami bisa bangkit dengan mengingat bahwa ada nama kartini didepan nama kami, saya rasa tidak perlu.

Saya tidak ingin menjadi seorang kartini yang dulu hidupnya terkekang atau seperti dia yang harus menjadi  soft women, perfect wowen and elegant women. Saya ingin bangkit melalui diri saya sendiri, nama saya sendiri, dikenal dengan Sri bukan Kartini Sri. Saya juga ingin perempuan yang lain bangkit degan kekuatan, hati, pemikiran dan kecerdasan mereka sendiri. Bukan dengan terus mengingat nama tersebut baru akan bangkit. Saya juga tidak mau bangkit dengan masih terbayang-bayang cita-cita Kartini. Tapi saya ingin dengan cita-cita saya sendiri.

Untuk itu seseorang tidak perlu dikenal dan terkenal dengan cita-cita dan semangat orang lain. Tapi dengan cita-cita dan semangat mereka sendiri.

Penulis : Sri Destiana (Mahasiswa Sastra Inggris UHO)

Post a comment

0 Comments