INFOGRAFIS

header ads

Tingkah Maya Orang Kendari Kalau Datang Gempa

Ilustrasi. Sumber : www.bmkg.go.id

Sampai tulisan ini dibuat pada dini hari (28/02/2019), dalam kurun waktu 7 jam Kota Kendari dilanda 2 kali gempa (27/02/2019). Gempa pertama terjadi pukul 17:19 WITA. Babak selanjutnya terjadi pada pukul 23:17 WITA. Untungnya kedua gempa sama-sama kategori berkekuatan kecil. Meski begitu, di Kendari hebohnya minta ampun. Namanya juga, fenomena yang jarang terjadi. Sensasinya itu hae ona bisa jadi bahan status berjamaah di medsos. Apa pun suasananya, selama itu masuk kriteria layak, kesempatan tidak boleh disia-siakan. Perasaan boleh panik, tetapi kepanikan tidak boleh menghalangi jemari buat update status, walau efek getarannya belum hilang sekali pun.

Berkat informasi terpaksa dari tim pengamat dadakan yang kredibilitasnya perlu diragukan, LPM Urita coba menghimpun beragam tingkah para pelaku dunia maya Kota Kendari. Kehebohan apa saja yang terjadi dalam hitungan detik pascagempa, ditinjau dari redaksi status medsos masing-masing. Kuatkan mental. Jangan sampai Anda masuk dalam hitungan. Bila benar, itu berarti Anda dalam jangkauan radar tim pengamat kami. Bila tidak masuk, HP anda pasti HP komunikator alias HP yang kesasar jaman karena tidak bisa dibuatkan status. Nampaknya, sudah banyak pembaca yang tidak sabaran menunggu. Langsung saja kalau begitu.

1.    Bakulumba pasang status gempa
Musibah Palu telah memberi sup terapi paling membekas bagi warga Sulawesi, termasuk warga Kendari. Efisiensi kepekaan masyarakat kota yang dijuluki kota bertakwa ini terhadap gempa meninggi. Banyak relawan tanpa upah yang berlomba-lomba menjadi dewa informasi. Relawan-relawan ini penuh keikhlasan dan sangat cekatan  saat menebar informasi ke khalayak ramai, bahwa di Kendari baru saja terjadi gempa. Kalimat sederhananya, orang-orang bakulumba pasang status gempa di medsos.

Atas stimulus apa ? sampai pengamatan terkahir berlangsung, tim kami belum bisa memastikan motif sebenarnya yang melatari orang-orang kategori bakulumba ini. Tetapi, apa yang mereka tunjukkan telah membantu kinerja BMKG yang kadang lelet merilis pengumuman bencananya. Munculnya status-status :“gempa” berjamaah di medsos, menyebabkan meningkatnya animo kewaspadaan masyarakat sekitar akan datangnya gempa susulan. Yang dikhawatirkan berkekuatan lebih besar. Beruntung gempa susulan yang telah dinanti-nanti rupanya masih suka PHP. Mungkin karena kota ini memang kota bertakwa, ya ?

2.    Sirik  tapi tidak tahu diri
Barangkali sudah menjadi fitrah manusia, ada saja orang-orang yang kurang kerjaan, sirik kepada orang-orang yang bikin status: “gempa” di medsos. Kalau hanya dipendam di hati atau diucap, memang sah-sah saja. Bukanlah suatu problem. Yang membuat adanya indikasi benih-benih kurangajar, kita bela-belakan heran kepada status:”gempa” orang-orang, tapi kita sendiri juga ujung-ujungnya buat status: “gempa” di medsos. Bukankah ini-mi yang disebut munafik. Walaupun isi statusnya: mengherankan orang-orang buat status: “gempa”, tetap saja orang di luar Kendari atau yang ada di Kendari tapi tidak merasakan getaran gempa tersebut, mereka akan menangkap satu benang merah informasi, “oh, di Kendari lagi gempa.” Tanpa peduli apa pun model kalimat status yang dilihatnya.

Makanya, lain kali kalau merasa sirik kepada statusnya orang, kreatif sedikit lah. Coba itu kata gempanya jangan dicantumkan agar tim kami tidak memasukan anda dalam daftar.

3.    Berdoa di medsos
Anggapan Tuhan yang ada di mana-mana menjadi dasar kuat, bagi orang-orang berkategori mengaku beragama dalam hal memanjatkan doa di beragam tempat. Doa tak melulu harus dipanjatkan di tempat ibadah belaka. Karena Tuhan pasti mendengar setiap doa yang tertuju padaNya. Terkabulkan atau tidak, itu masa bodoh, yang terpenting berdoa dulu. Di era kemajuan digital seperti sekarang ini, terkadang masalah doa, banyak orang cenderung intens berdoa di medsos ketimbang di tempat ibadah. Barangkali di mata manusia yang hidup di era milenial, doa juga perlu didigitalisasi  agar cepat sampai ke Tuhan.

Apa lagi saat terjadi gempa, tim kami menemukan fakta, banyak doa dadakan yang terpampang di status medsos. “Tuhan yang mana coba ini ana-ana milenial tuju. Dia main medsos juga kah itu Tuhan kasian, sampai-sampai banyak doa yang tahambur di medsos.” Suara hati tim kami saat melihat jejeran status doa di medsos karena gempa kemarin.    

4.    Tersadarkan statusnya orang
Kecilnya kekuatan gempa yang melanda Kendari, menimbulkan tidak semua masyarakat yang bermukim di dalamnya ikut merasakan getaran. Masyarakat kategori ini termasuk masyarakat kategori kurang peka dengan getaran kecil.  Poin positifnya, ia tidak akan diguncang kepanikan sehingga aktivitasnya tidak terganggu. Karena sekarang era milenial, hampir semua orang bersosial media, masyarakat kurang peka ini akan tersadarkan oleh gelombang status teman-teman medsosnya. Saat membuka medsos, “Gempa paleng di tadi,” beginilah gambaran responnya.

Di sinilah letak kegunaan status: ”gempa” orang-orang. Biar dibaca oleh mereka-mereka yang kurang peka. Anda paham, orang-orang sirik. Eits, status orang sirik sama saja paleng. Ikut membantu yang kurang peka.

Silahkan dipilih! Anda masuk kategori mana.

Redaksi

Post a comment

0 Comments