INFOGRAFIS

header ads

Yang harus Dilakukan untuk Mempererat Hubungan S1 & D3 Teknik UHO



Maaf beribu maaf saya ucapakan kepada seluruh pembaca setia www.lpmurita.com yang di mana saja berada. Beberapa bulan silam, saya sebagai Prof. Nihil Solution heboh meluncurkan salah satu rubrik baru, yakni Rubrik Tips & Trik. Rubrik ini telah direncanakan akan terbit setiap minggu. Namun nahas, rencana tinggal rencana, saya tidak mau mencari beribu alasan. Hanya satu alasan tepat. Yang sesungguhnya saya tidak ingin umbar. Sebut saja, karena kemalasan saya sebagai Prof. Nihil Solution. Upss, saya kecoplosan. Daripada panjang lebar mendengar paragraf ngawur pembuka tulisan ini, saya memilih men-skip basa-basi yang saya akui memang tidaklah penting.

Tiga, dua, satu. Pembaca yang budiman, di edisi kedua rubrik ini, saya akan mengupas suatu hal yang dianggap tabu sehingga menjadi layak dan patut untuk diperbincangkan. Semua akan dikupas secara tajam, setajam SILET winto-nya aktivis UHO jaman now. “Ngeri kamu dinda.” Sekadar contoh dan saya mohon jangan diikuti, karena ini terlalu kentara ada udang di balik batu. Setelah dicek, ternyata di balik batu itu, yang ada adalah kepiting. Sungguh terlalu, winto-nya.

Kembali ke hal tabu tadi. Jadi saya ingin melempar suatu permasalahan yang melibatkan mahasiswa Fakultas Teknik dan Program Pendidikan Vokasi UHO (yang ada badaknya tekniknya). Kedua kubu ini saling mengklaim bersaudara. Bersaudara tapi terkadang ada udang di balik batu. Eits, salah lagi, ternyata kepiting saat diperiksa. Hanya kedua kubu yang mampu mencerna maksud Prof. Nihil Solution. Yang berada di luar kategori, boleh meng-close link yang menghubungkan anda ke titik akhir kalimat ini. Silahkan. Tapi, kalau ada yang mau lanjut, boleh juga kok. Yang masih mau lanjut, jangan terganggu yah! Anggap saja yang tadi itu sebagai intermeso.

Tuan rumah yang terusir. Saya rasa, kalimat ini cukup tepat untuk melukiskan nasib jurusan D3 Teknik. Pada 2014 silam Program Pendidikan Vokasi resmi lahir di UHO. Ada 4 jurusan D3 Teknik yang termasuk di dalamnya. Padahal, keempat jurusan ini sebelumnya merupakan jurusan-jurusan sesepu di Fakultas Teknik atau sebagai jurusan-jurusan yang lebih dulu lahir daripada berbagai jurusan yang sekarang ini mencaplok identitas Fakultas Teknik di UHO. Tidak usahlah saya detail menyebut nama jurusan yang terlibat.

Terpisahnya D3 Teknik dari Fakultas Teknik sesungguhnya bukanlah suatu hal yang merugikan secara keilmuan. Ini sangatlah baik demi memfokuskan peningkatan mutu jurusan kategori Vokasi di Sulawesi Tenggara. Yang barangkali selama terhimpun dalam Fakultas Teknik, ia diperlakukan sama dengan S1 Teknik alias D3 ikut-ikutan S1, lebih banyak teori ketimbang praktiknya. Mestinya kan harus terbalik. D3 harus lebih banyak praktik ketimbang teori. Isu yang beredar di mahasiswa sih begitu. Makanya jangan heran jurusan D3 Elektro sekarang ini, KP-nya berbulan-bulan berbeda dengan dulu yang lamanya serupa durasi waktu KP mahasiswa jurusan S1 Elektro.
   
Di sudut lain, mekarnya Program Pendidikan Vokasi turut menguntungkan birokrasi. Kesempatan menduduki jabatan elit tertentu terbuka lebar. Terus Masalahnya di mana ?

Nah, yang jadi masalah di mahasiswa S1 dan D3 Tekniknya. Asbabunnuzulnya begini. Sebelum negara api menyerang S1 dan D3 pisah, dua kubu ini terangkul dalam 1 fakultas seperti yang sudah dijelaskan dari tadi. Tidak sekadar sampai di situ saja, mahasiswa S1 dan D3 Teknik yang paling menonjol itu, harmonisasi sosial antarsesama mahasiswa tekniknya. Mereka terbingkai dalam satu kesatuan yang utuh dan terajut dalam Keluarga Besar Mahasiswa (KBM) Teknik. Tapi semenjak Vokasi lahir, di sini masalahnya. Ada yang mengklaim KBM Teknik itu tetap terdiri dari D3 dan S1. Ada juga yang bilang KBM Teknik itu hanya S1 karena Vokasi juga sudah punya KBM sendiri—KBM Vokasi. Ujung-ujungnya ego eksistensi yang diperdebatkan. Untungnya permainan ego ini menjangkit di momen-momen tertentu saja. Di antaranya, ketika momen PEMIRA UHO dan di beberapa aksi front yang melibatkan Kelembagaan Mahasiswa Fakultas Teknik dan Program Pendidikan Vokasi.

Kenyataan yang selama ini coba dipungkiri oleh kebanyakan mahasiswa S1 Teknik. Mereka kekeh beranggapan S1 dan D3 Teknik tetaplah satu meski wilayah administrasinya telah berbeda. Ekspektasi ini sah-sah saja, tapi akan terasa konyol bila tanpa dibarengi itikad prilaku hari-hari yang menghendaki demikian. Yang harus disadari sesadar-sadarnya oleh mahasiswa S1 dan D3 Teknik, mereka tidaklah sesatu seperti dulu. Dan yang terasa paling memilukan dari kedua belah pihak, secara diam-diam merindukan kenangan indah di masa lalu.

Masa lalu adalah masa orang-orang terdahulu. Masa kini adalah masa orang-orang saat ini. Simpul-simpul persatuan yang mengikat S1 dan D3 dalam sejarah tidak semuanya akan efektif apabila diterapkan di masa kini karena masanya telah berbeda. Karena ada beberapa bagian simpul yang menurut zaman harus berganti. Memang ada bagian simpul yang masih relevan.  Akan tetapi dalam praktik keseharian terurai oleh bagian simpul yang ditolak zaman.

Maka dari itu, di kesempatan yang cukup menegangkan ini, saya selaku  Prof. Nihil Solution merasa berpeluang besar untuk dibenci sebagian besar mahasiswa Teknik, termasuk  senior alumninya juga barangkali. Karena telah lancang menorehkan suatu risalah yang cukup tabu untuk diangkat. Baik, saya akan mulai merunut satu per satu.

1.    Nama Angkatan
Salah satu simpul yang membantu merekatkan hubungan sosial antarsesama mahasiswa Teknik adalah adanya nama angkatan di setiap angkatannya. Selepas angkatan 2013, nama angkatan yang melabeli setiap angkatan baru, hanya mewadahai kubu S1 saja, tidak menjangkau D3. Uniknya meskipun demikian, hubungan internal tiap angkatan antar S1 dan D3 tetap terjalin baik. Nampak jelas, mantra “S1 dan D3 adalah saudara” masih cukup mujarab. Buktinya baru-baru ini, ada satu momen kegiatan yang penyelenggaranya mengatasnamakan satu angkatan BARET 16 tetapi yang terlibat sebagai penyelenggara tidak hanya bagian dari anggkatan S1. Bagian dari D3 turut terlibat aktif. Sampai kapan coba, kejanggalan ini dipelihara. Untuk itu yang merasa berwenang  baik di S1 dan D3, perlu mendudukan bersama hal ini. Bila menginginkan memori indah yang selalu dibesarkan para pendahulu dan terkadang bikin panas kuping. Nama angkatan harus mencakup S1 dan D3, agar ketika dalam suatu kegiatan ada terselip penyebutan nama angkatan yang D3 (leting angkatan) tidak merasa lain-lain.

2.    Himne Teknik
Himne Teknik, lagu kebesaran mahasiswa Teknik. Tapi saya menganggap lagu ini ikut berperan kuat merenggangkan hubungan S1 dan D3. Kenapa ? Karena ada potongan liriknya yang meniadakan keberadaan D3. Saya merekomendasikan lirik lagu ini harus dirubah atau kalau ada potensi membuat lagu baru, tambah lebih bagus. Takut karena tak punya landasan ? masih ingat dengan lagu Mars Slank Teknik dan Halo-halo Bandung Teknik.

3.    Sikap Politik Bersama
Di setiap momen PEMIRA UHO dalam 2 tahun terakhir, sikap politik S1 dan D3 faktanya selalu berbeda. Masing-masing mempertaruhkan kepentingan sendiri. Bukan karena tiada kesepakatan. Tetapi yang menjadi soal, di antara kedua bela pihak tidak ada yang mencoba lebih dulu membangun komunikasi demi tercapainya kesepakatan bersama. Kedua lembaga  tertinggi baik Teknik maupun Vokasi kompak menunggu bola. Yang cukup memalukan pada momen PEMIRA 2018, kedua kubu akhirnya mendapat bola liar. Sayangnya, bola ini datang dari ketidaksengajaan operan pihak lain dari luar Teknik dan Vokasi.

4.    Komunikasi
Kuliah di gedung yang sama. Ngopi di kantin yang sama. Komunikasi antar mahasiswa S1 dan D3 secara individu atau angkatan masih terjalin baik. Tapi tidak, untuk secara kelembagaan BEM. Entah karena hal apa? Salah satu penghalang, saya menduga karena latar angkatan. Pengurus BEM Vokasi selalunya 1 tingkat di bawah pengurus BEM Teknik. Masih ada ego angkatan ceritanya. Seyogianya, baik itu mahasiswa S1 maupun D3 bila berhadapan mengatasnamakan lembaga, tidak ada namanya Senior atau Junior. Kedua lembaga harus profesional bersikap. Posisi harus setara, tidak ada yang meninggikan dan tidak ada pula yang merendahkan. Seandainya komunikasi antar lembaga sudah terjalin baik , masalah-masalah yang termuat dan tidak termuat pada poin 1-3  tentu akan terselesaikan. Dalam tanda kutip komunikasi harus berlandaskan asas keadilan.



Demikianlah ketabuan yang dapat saya tawarkan, semoga bermanfaat dan dapat  menghibur. Tulisan ini dilindungi oleh undang-undang. Jangan asal copy paste tanpa mencantumkan link sumbernya. Tapi jika ingin dibagikan ke media sosial anda, itulah yang saya harapkan.

Penulis : Prof. Nihil Solution

Tulisan ini adalah edisi kedua untuk rubrik Tips & Trik. Yang berisi kiat-kiat untuk mengatasi segala permasalahan yang melanda mahasiswa lingkup UHO. Jika anda tertarik berbagi tips & trik atau mau membantah risalah ini, silahkan menulis dan jangan lupa kirim ke email redaksi kami: redaksilpmurita@gmail.com.

Post a comment

0 Comments