INFOGRAFIS

header ads

Keinginanmu Jadi Artis Jangan Sampai Mencederai Perjuangan Masyarakat Wawonii

Ilustrasi. Sumber: www.rumahdesainminimalis.com

Perjuangan masyarakat Wawonii membela tanah kelahirannya agar tidak terinfeksi ulah tambang telah menyita perhatian khalayak dunia nyata maupun dunia maya. Karenanya, Kendari kembali ke tabiat asli. Tersorot media nasional berkat aksi demontrasi (sebelum era PCC dan kasus korupsi beberapa pejabat daerah Sultra).

Pasca aksi ketiga (1.Saat Jokowi datang, 2. Aksi kubur diri, 3. Bentrok dengan aparat keamanan) yang digelar oleh Front Rakyat Sultra Bela Wawonii (FRSBW) pada 6 Maret 2019, banyak masyarakat Sultra lainnya hingga dari luar Sultra jadi berempati.

Beberapa aktivis pergerakan kenamaan Kota Kendari pun—tidak perlu saya sebut di sini, liat saja nanti pada aksi selanjutnya—yang sebelumnya tidak terlibat, kini berdasarkan info beranda media sosial mereka, menyatakan diri akan terlibat. Entah, ikut dalam barisan FRSBW atau akan membuat barisan perjuangan baru.

Vonis manusia sebagai makhluk sosial tak bisa dielakkan. Apabila melihat penderitaan manusia lainnya, rasa peduli akan tumbuh pada diri setiap manusia normal. Kasus sama, saat menyaksikan perjuangan masyarakat Wawonii yang telah menimbulkan darah dan air mata. Semua akan merasa iba, kecuali para pemegang keperluan yang menghendaki masuknya tambang di pulau berjulukan Pulau Kelapa ini.

Selama perjuangan masyarakat Wawonii berlangsung, kita tidak bisa menutup mata bahwa ada andil mahasiswa yang ikut terlibat. Tersiar kabar, ada beberapa mahasiswa juga menjadi korban sentuhan tangan dari pihak keamanan saat bentrok aksi 6 Maret lalu. Yang lucunya usai bentrok viral, di media sosial kembali beredar upaya beberapa oknum yang menginisiasi pengigiringan isu meninggalkan isu utama. Oknum-oknum ini ramai kampanye untuk membela mahasiswa bagian dari kelompoknya yang teraniaya. Sontak, hal ini sedikit mereduksi tuntutan pokok masyarakat Wawonii—yang telah rela meninggalkan kasur empuk di Wawonii dan memilih melewati malam dengan beralaskan tikar tipis di Kendari demi perjuangan mengusir tambang dari tanah Konawe Kepulauan.

Kota Kondari, selain sebagai ibukota propinsi, kota ini merupakan Kota Pendidikan di Sultra. Tempat bermukimnya gerombolan intelektual muda. Ada yang sibuk sebagai akademisi. Ada  juga yang terjun di perang jalanan sebagai aktivis. Di kubu mahasiswa aktivis terbagi lagi, ada yang idealis dan ada juga yang pro nasi bungkus. Namun di era milenial sekarang, di tengah merajanya kebutuhan bersosial media. Timbul lagi golongan baru dari aktivis, muncul oknum-oknum aktivis yang ingin jadi artis, bahasa sopannya ingin mencari panggung usai viralnya gerak masa. Sebutan pasarnya, adanya oknum-oknum yang mau dianggap sebagai . . . pada setiap gerak masa.

Aktivis Mahasiswa Kota Kendari terpanggil. Beberapa diantaranya intens melakukan konsolidasi masa besar-besaran. Doktrin semester 1, “Agen of Change” dan “Sosial of control” sering digaungkan oleh mereka sebagai alat konsolidasi. Tak lupa, kata-kata puitis perlawanan ikut tercoret di beranda sosial media. Mantap, tajam, lanjutkan perlawanan, panjang umur perjuangkan. Deretan kata yang menjurus ke winto, muncul sebagai respon. Sampai akhirnya kepedulian membela masyarakat Wawonii jadi samar-samar. Menjelma sebagai topeng agar mo dibilang belaka demi memperbaiki harga diri, wujud citra label aktivis kenamaan. Ya, begitulah mereka yang lihai mencuri momen. Para artis jalanan yang mencari panggung agar mau di anggap sebagai . . . .

Muncul kelompok-kelompok baru perlawanan. Terbentuk untuk membela masyarakat Wawonii, katanya. Jadwal pergerakan sudah ditentukan. Tapi tanpa melibatkan FRSBW yang merupakan kelompok penggerak pertama dan sebagian besar masanya adalah masyarakat Wawonii. Lantas timbul pertanyaan, apakah mereka benar-benar berniat membantu perjuangan masyarakat Wawonii? Kalau benar, mengapa harus membuat kotak baru? Bukankah sejarah perjuangan bangsa ini telah memperlihatkan perjuangan yang terkotak-kotak hanya berujung kegagalan? Ataukah ada motif tersembunyi?

Setiap kelompok atau individu baru yang ingin memperjuangkan kepentingan masyarakat Wawonii mestinya meleburkan diri dalam FRSBW. Kenapa? Karena di dalam FRSBW ada barisan masyarakat Wawonii yang sebelum terbentuknya FRSBW, semenjak dari jauh-jauh hari, barisan masyarakat Wawonii ini telah berjuang di tingkat kabupaten. FRSBW juga dikomandoi langsung oleh perwakilan masyarakat Wawonii. Hal ini menandakan bahwa FRSBW tahu betul asbabunnuzul persoalan IUP di Konawe Kepulauan. Beda halnya dengan kelompok lain di luar barisan masyarakat Wawonii, kemungkinan blunder dari persoalan utama tentu ada. Di tambah lagi, seandainya nanti pada aksi yang digelar oleh kelompok baru ini berlangsung tidak tertib, pasti akan mencoreng perjuangan-perjuangan yang sudah dilakukan masyarakat Wawonii.

Peduli boleh, asal benar-benar peduli. Tidak ada maksud lain. Niat menonjolkan diri atau kelompok. Tak perlu menjadi hitam, merah, hijau, biru dan warna-warna lainnya untuk membela masyarakat Wawonii. Lepaskan ego-ego individu. Lepaskan ego-ego kelompok. Bila benar Anda membela mereka. Keinginan Anda mau jadi artis jalanan, tahan dulu, bila benar Anda memang seorang manusia. Karena cukup menjadi seorang manusia lah untuk membela dan membiarkan kelapa hidup subur di Tanah Wawoni.

Penulis: Marx Law  

Post a comment

0 Comments