var uri = window.location.toString(); if (uri.indexOf("%3D","%3D") > 0) { var clean_uri = uri.substring(0, uri.indexOf("%3D")); window.history.replaceState({}, document.title, clean_uri); } var uri = window.location.toString(); if (uri.indexOf("%3D%3D","%3D%3D") > 0) { var clean_uri = uri.substring(0, uri.indexOf("%3D%3D")); window.history.replaceState({}, document.title, clean_uri); } var uri = window.location.toString(); if (uri.indexOf("&m=1","&m=1") > 0) { var clean_uri = uri.substring(0, uri.indexOf("&m=1")); window.history.replaceState({}, document.title, clean_uri); } var uri = window.location.toString(); if (uri.indexOf("?m=1","?m=1") > 0) { var clean_uri = uri.substring(0, uri.indexOf("?m=1")); window.history.replaceState({}, document.title, clean_uri); } Review Buku : Gus Dur Jejak Bijak Sang Guru Bangsa

INFOGRAFIS

header ads

Review Buku : Gus Dur Jejak Bijak Sang Guru Bangsa



Judul         : Gus Dur Jejak Bijak Sang Guru Bangsa
Penulis      : Anom Whani Wicaksana
Penerbit    : C-Klik Media, 2018, Cetakan II
ISBN           : 978-602-5448-32-4
Ketebalan : V+163 halaman

Lewat buku ini, penulisnya secara ringkas menghadirkan sosok Gus Dur dari masa kecil, masa-masa di pesantren, masa di Kairo dan Baghdag, hingga masa sewaktu Gus Dur pulang ke Indonesia dan diangkat sebagai pemimpin NU, lalu menjadi presiden Indonesia ke IV dan saat dilengserkan oleh MPR RI sebagai presiden.

Pada halaman 5, ada salah satu fakta yang cukup mengejutkan. Ayah Gus Dur, K.H. Wahid Hasyim selain dikenal sebagai tokoh NU, ia juga merupakan sebagai tokoh agamais nasional semasa hidupnya, karena pernah menjadi ketua pertama Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyuimi) dan Menteri Agama Indonesia. Olehnya itu, ayah Gus Dur sering dikunjungi tokoh-tokoh nasional lainnya dan  Gus Dur menjadi sebagai pembuka pintu tamu-tamu ayahnya tersebut. Dari sekian tamu ayahnya, ada sosok Tan Malaka (tokoh sosialis) yang diingat Gus Dur sering berkunjung setiap jam setengah delapan malam. Hal ini menandakan perbedaan ideologi (agama vs sosialis) bukan jurang pemisah yang menghalangi untuk saling bersilaturahmi.

Buku ini memang bisa menjadi oase ditengah menyeruaknya suhu panas politik identitas di Indonesia. Meskipun ayah Gus Dur tercatat dalam sejarah sebagai tokoh yang memperjuangkan Islam sebagai dasar negara Indonesia pada detik-detik kemerdekaan. Namun Gus Dur terkenal sebagai Bapak Pluralisme. Pembela keberagaman dan kaum-kaum minoritas. Karena menurut Gus Dur “ Tidak penting apa pun agama dan sukumu. Kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak akan tanya apa agamamu.”

Selain itu, Gus Dur dianggap sebagai sosok yang penuh kontroversi. Tidak heran, semasa menjabat presiden Gus Dur kerap melakukan banyak hal yang tidak terduga. Seperti, menetapkan Hari Imlek sebagai hari libur nasional sehingga ia juga dikenal sebagai Bapak Tionghoa Indonesia, mengupayakan hubungan diplomatik dengan pemerintahan Israil, meminta maaf kepada korban-korban yang dicap PKI oleh orde baru, dan yang paling kontroversi, yaitu Gus Dur mewacanakan pencabutan Tap MPR No. XXV/MPRS/1966 yang berisi tentang larangan paham Marxisme/Leninisme di Indonesia.

Setelah membaca buku ini, kita akan tahu salah satu penyebab sikap kontroversi Gus Dur, yakni karena ia adalah seorang kutu buku. Sejak kecil Gus Dur gemar membaca buku. Meskipun lahir dan besar di lingkungan pesantren. Konsumsi bacaan Gus Dur tidak hanya sebatas buku-buku agama, namun buku-buku pemikiran barat, filsuf-filsuf Yunani hingga buku-buku Karl Marx, semua dilahap oleh Gus Dur. Bahkan saat penglihatan Gus Dur pun tidak  lagi berfungsi normal, ia meminta salah satu anaknya untuk dibacakan buku yang diinginkannya.

Gus Dur hanyalah seorang manusia biasa. Seorang kolumnis. Seorang penggila sepakbola. Seorang yang suka humor. Seorang yang pernah tinggal kelas. Pada hal. 131 buku ini juga tertulis, “ Gus Dur bukanlah seorang politisi, bukan seorang seniman, bukan seorang budayawan, bukan seorang agamawan, bukan seorang feminis, dan juga bukan seorang pemikir, tapi Gus Dur adalah semuanya.”

Yang terpenting dari semua itu, segera beli dan baca buku ini. Tersedia di Gramedia Kendari dengan harga Rp47.000.

Penulis : Marx Law

Post a comment

0 Comments