INFOGRAFIS

header ads

Potret Kelam Demokrasi Kita

Kawan Chaol

Pemilihan Umum yang digelar serentak pada tanggal 17 April 2019 lalu untuk memilih Presiden dan Wakil Presiden beserta anggota Legislatif untuk masa jabatan 5 tahun patut dievaluasi oleh pemerintah mengingat banyaknya Penyelenggara Pemilihan Umum dalam hal ini KPPS yang menjadi korban. Alih-alih menghemat anggaran negara malah menjadi duka anak negri. Pahlawan Demokrasi  dan santunan yang diberikan oleh negara kepada korban dan juga keluarga korban tidaklah berarti untuk sebuah tragedi kemanusiaan, sebab kemanusiaan tidak bisa diukur dengan materiil apapun. Untuk itu Pemerintah harus mengevaluasi pemilihan umum yang di gelar secara serentak agar tidak terjadi hal serupa di kemudian hari dan saya juga mengajak seluruh rakyat Indonesia untuk memanjatkan do'a kepada Tuhan Yang Maha Esa agar saudara-saudari kita yang menjadi korban akibat pemilihan umum dapat di terima di sisi-Nya. Amiin

Lanjut daripada itu , Pemilihan Umum yang di gelar secara serentak tidak saja mengorbankan pihak Penyelenggara dalam hal ini KPPS. Akan tetapi, Gelombang itu juga ikut menyeret beberapa rakyat yang terlibat dalam demonstrasi yang digelar pada Tanggal 22 Mei 2019 di depan Kantor BAWASALU RI serta  ikut mengacam Persatuan Nasional Indonesia yang telah dibangun dan diperjuangkan oleh para pendiri bangsa. Sebagaimana manusia sayapun berdo'a kepada Allah SWT semoga korban diterima di Sisi-Nya. Tak lupa pula ucapan belasungkawa atas hilangnya perikemanusiaan di bumi pancasila ini.

Lebih dari itu, para elit politik yang memainkan sebelum dan sesudah perhelatan  Pemilihan Umum 2019 telah membuat rakyat terpolarisasi yg begitu dalam dan rakyat menjadi korban. Pemilihan Umum adalah  pertarungan elit politik dalam mempertahankan dan merebut kekuasaan guna melindungi kepentingan individu/kelompok dan diatasnya ada kepentingan pemilik modal/kapitelisme yang siap menghisap keringat rakyat serta menjadi ancaman bagi pancasila.
Dalam pidatonya pada tanggal 1 Juni 1945 soekarno menganjurkan  Sosio-Nasionalisme menjadi salah satu dasar di bentuknya Negara Indonesia agar kelak kemerdekaan Indonesia tidak saja dinikmati oleh segelintir orang akan tetapi dinikmati seluruh rakyat Indonesia dan selalu menjunjung nilai-nilai kemanusiaan. Soekarno dalam pidatonya juga menganjurkan Sosio-Demokrasi agar kelak Demokrasi Indonesia tidak seperti Demokrasi barat yang hanya dibidang politik ada persamaan tetapi di bidang ekonomi tetap saja rakyat tidak mendapat penghidupan yang layak. Oleh karena itu, soekarno menganjurkan demokrasi indonesia hendaklah demokrasi yang mendatangkan kesejahteraan sosial. Dan hendaklah rakyat indonesia berTuhan atas Tuhannya sendiri dalam wujud saling merhagai antara umat beragama. Itulah ia namakan Pancasila.

Ditengah polarisasi yg diciptakan para elit politik dan jurang yg begitu lebar diciptakannya serta di alam demokrasi liberal ugal-ugalan kini. Saatnya kita kembali membangun semangat persatuan nasiaonal. Marilah kita merenungkan kembali mempelajari kembali serta membumikan pancasila sebagai dasar sebagai falsafah hidup berbangsa dan bernegara. sebab pancasila kini hanya menjadi kata pemanis bibir para pemangku takhta, ia di tinggikan, ia di puja. Tapi ia dikhianati dalam tindakan.

Oleh : Kawan Chaol


Tulisan ini adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi 

Post a comment

0 Comments