INFOGRAFIS

header ads

Delusi Budaya dan Potret Sosial

https://supriyadikaranganyar.files.wordpress.com/2013/07/gambar-1-kerukunan.jpg
Berbincang ramai tanpa curiga dan rasa khawatir. Berkunjung di kediaman tetangga tanpa pamrih. Pintu rumah dibiarkan terbuka atas dasar saling percaya yang tinggi. Bahu-membahu membantu yang terkena musibah. Saling berbagi pangan. Jalan beriringan saat membuat kerajinan tangan. Menikmati hasil panen dengan riang bersama. Turut merayakan yang sedang berbahagia tanpa merasa minder sedikitpun. Menolong yang sakit. Ini adalah sedikit dari banyaknya fenomena sosial yang kini kita rindukan di bumi manusia kini.

Perlahan segala bentuk empati mulai terkikis. Simpati pun mulai buram terlihat. Begitu banyak sesama kita yang tinggal sendiri berjuang hanya untuk memperoleh setumpuk karbohidrat. Sementara yang lain punya lebih dari sekedar pengisi perut tapi masih merampas yang bukan milik mereka. Sadar bahwa punya lebih dari sekedar karbohidrat bukan menjadikan mereka untuk berbagi, malah menjadi penguat fisiknya agar dapat mengeksploitasi lebih.

Bukan menuduh atau mendiskriminasikan cakrawala sosial sekarang, tapi silahkan keluar ke jalan sambil tidak menutup mata. Pagar rumah ditinggikan agar selain pemilik rumah tidak dapat melintas dipekaranganya. Pintu dikunci berlapis agar terhalangi pandangan dari lirikan sesama manusia penghuni bumi. Bercerita tentang musibah yang yang menimpa dirinya kepada tetangganya dianggap mengemis dan bermaksud menguras eksistensi kekayaannya. Bekerja tak lagi ramai dikebun apalagi bercengkrama bersama. Setiap mereka adalah bertahan hidup secara sendiri-sendiri di bumi yang sama.

Mereka yang kedinginan disudut-sudut kota karena tak punya tempat berteduh. Mereka yang kelaparan di perkampungan karena tak dapat lapangan pekerjaan untuk menghidupi keluarganya. Mereka yang terjerat oleh mahalnya akses pendidikan. Untuk apa punya pemerintah dan segala kepemerintahan jika hidup masyarakat bumi terus-terusan susah. Yang punya modal besar mencabik pendapatan pedagang bermodal kecil. Kesenjangan antara si kaya dan si miskin semakin jelas rupanya.

Budaya saling sapa-menyapa mengembara tak tahu kemana. Munkin terbatasi oleh dinding besi dan kaca kendaraannya. Perayaan syukuran hanya bisa dihadiri oleh mereka yang mampu memiliki jas mahal. Kini, interaksi masyarakat semakin dingin. Sebab, masing-masing mereka mengucilkan dan dikucilkan satu sama lain karena persoalan perbedaan kelas ekonomi.

Akhirnya kita semua merindukan keriangan bersama itu. Namun kemana tempat mengadu. Masing masing akal sehat telah digerogoti hingga menjadi akal kapitalis. Begitupun juga dengan semua budaya gotong royong yang tumbuh alami. Jika berhak menuduh, siapa yang mesti disalahkan? Siapa yang akan bertanggung jawab tentang kehilangan ini.

Sudahlah. Belajarlah dari senja. Disetiap harinya, ia selalu menitip makna dalam perginya.

Penulis : Esraimta Tarigan

Post a comment

0 Comments