INFOGRAFIS

header ads

Komersialisasi Pendidikan dan Polemik UKT di UHO



Pengurus BEM F. TEKNIK UHO - Yusuf Bonte 

        


Uang Kuliah Tunggal (UKT) adalah pembayaran biaya pendidikan tinggi yang dibebankan kepada mahasiswa dalam waktu satu semester dengan dihilangkanya segala sumbangan pembayaran pendidikan (biaya akademik) di suatu universitas yang nominalnya disesuaikan berdasarkan rekapitulasi kebutuhan di tiap-tiap jurusan.

Kebijakan tentang uang kuliah tunggal mulai ditetapkan pada tahun 2013, berdasarkan Surat Keputusan Dirjen Dikti Nomor 97/E/2013. Instruksi untuk pendidikan tinggi yang dimuat dalam surat keputusan tersebut adalah menetapkan tarif uang kuliah tunggal (UKT) bagi mahasiswa S1 reguler tahun 2013/2014. Tak butuh waktu lama, beberapa kampus kemudian langsung menetapkan kebijakan UKT pada tahun akademik sebelumnya, seperti di Universitas Halu Oleo kendari.

Penetapan UKT kemudian melahirkan Peraturan Menteri (permen) No. 73 Tahun 2013 tentang aturan main UKT dan BKT yang kemudian aturan ini selalu berganti/berubah untuk mengatur regulasi pada tahun-tahun berikutnya. Permen No. 39 Tahun 2017 diikuti dengan penetapan SK KEMENRISTEK DIKTI No. 91/M/KPT/2018 tentang Biaya Kuliah Tunggal pada Pendidikan Tinggi Negeri di lingkungan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi pada konsideran menimbang poin A, peraturan tersebut secara jelas dan terang menyatakan bahwa untuk melaksanakan ketentuan pasal 4 Peraturan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Nomor 39 Tahun 2017 tentang Biaya Kuliah Tunggal dan Uang Kuliah Tunggal pada Perguruan Tinggi Negeri di Lingkungan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, perlu menetapkan Biaya Kuliah Tunggal  dan Uang Kuliah Tunggal.

Berdasarkan penjelasan di atas terkait kebijakan uang kuliah tunggal, saat ini di Universitas Halu Oleo menetapan nominal UKT yang sangat mahal, tidak disesuaikan berdasarkan kemampuan ekonomi orang tua mahasiswa, inilah yang oleh masyarakat dinilai sangat mencekik. Hal ini juga berwujud sebagai benteng penghalang untuk generesi muda yang ingin melanjutkan pendidikan. Padahal berdasarkan UUD NKRI Tahun 1945 alinea ke-4 secara jelas diterangkan cita-cita kemerdekaan yang amat mulia yaitu untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

Beberapa mahasiswa Universitas Halu Oleo yang masuk pada tahun 2018 melalui jalur Seleksi Nasional Masuk Perdidikan Tinggi Negeri harus mengeluarkan sedekah pendidikan yang disebut UKT sebesar Rp3.000.000,00 dengan kemampuan ekonomi penghasilan orang tua berkisar Rp300.000,00 – Rp500.000,00 perbulanya yang profesi sebagai petani. Faktanya, rakyat berteriak dengan penentuan nilai UKT yang fantastis.

Tidak
hanya itu, penerapan UKT mahasiswa oleh UHO hampir setiap tahunnya ditemukan berbeda dengan nominal UKT yang diterbitkan oleh KEMENRISTEKDIKTI. Penetapan yang tercantum dalam SK, tertera jelas bahwa ada pengelompokan untuk pembayaran UKT tersebut dengan melihat kemampuan pendapatan ekonomi orang tua mahasiswa. Untuk mahasiswa yang lulus di Universitas Halu Oleo, nominal di setiap kelompok UKT itu dinaikan bahkan ditingkatkan sampai dua kali lipat. Semisal mahasiswa yang dalam pengumumanya masuk dalam kelompok 3, semestinya dalam peraturan KEMENRISTEK DIKTI itu dikenakan biaya UKT sebesar Rp1.500.000,00 akan tetapi setelah kita melihat penetapan di UHO untuk kelompok 3 berubah menjadi Rp3.000.000,00.

Problematika UKT masih berlanjut hingga saat ini. Penetapan UKT yang terlampau tinggi itu mengundang perhatian dari berbagai kalangan, tidak terkecuali pihak mahasiswa itu sendiri. Terlebih kami sebagai mahasiswa Teknik Universitas Halu Oleo.

Itulah yang menjadi latarbelakang kami mahasiswa melakukan protes. Mulai dari bobroknya sistem yang diterapkan oleh Universitas Halu Oleo. Kesewenang-wenangan birokrat kapitalis kampus menetapkan regulasi UKT di UHO yang tidak mempertimbangkan kondisi penanggung mahasiswa atau orang tua dari mahasiswa itu sendiri. Dan kami sangat memahami bahwa hasil dari sebuah perjuangan tidak bisa didapatkan secara cepat dan instan. Perlawanan ini akan terus berlanjut.


Penulis : Yusuf Bonte sebagai Menteri Pergerakan, Kajian dan Strategi BEM Fakultas Teknik UHO
Editor : Esraimta Tarigan

Post a comment

0 Comments