INFOGRAFIS

header ads

Sudah Sekolah Tinggi Ujung-ujungnya Nganggur


 Lulus Kuliah Langsung Kerja? Ini yang Harus Lo Perhatiin!

"Engkau sarjana muda

Resah mencari kerja

Mengandalkan ijazahmu"


Sedikit petikan syair lagu Iwan Fals yang nampaknya masih sesuai zaman.  Tak perlu berbicara seluruh Indonesia. Cukup melihat fenomena yang ada di sekitar mata. Kita cukup kenyang disuguhi pemandangan kakak-kakak atau senior-senior, teman-teman, tetangga rumah dan orang-orang yang sempat kita kenal lainnya. Di belakang nama mereka tersemat gelar pemberian kampus. Namun apa daya, titel tersebut hanya mengharumkan nama sesaat. Di kala awal hari wisuda. Selang beberapa waktu gelar seakan menjadi beban moral.

"Sudah sarjana, kok nganggur?" Inilah sumber beban moral tersebut. 

Bertahun-tahun melewati proses kampus. Mengorbankan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Namun,  imbalannya sebatas sekadar mempercantik nama. Siapa sangka gelar yang didapat dari hasil pertualangan di kampus, semolek apa pun itu, rupanya tak menjamin masa depan cerah untuk setiap sarjana.

Awalnya menjadi sarjana,  berguna untuk mengangkat derajat keluarga di strata sosial masyarakat. Selainya, bisa mempermudah seseorang mendapat jalan mengisi perut ekonominya. Itu berlaku dulu.  Di kala kampus-kampus di Indonesia masih minim jumlahnya. Yang berminat untuk kuliah juga masih terhitung jari.  Beda dengan sekarang. Kampus tumbuh subur. Begitu pun yang belajar di dalamnya. Membludak beratus-ratus kali lipat.

Setiap kampus berlomba-lomba memproduksi ribuan sarjana tiap tahunnya.  Anehnya, proses produksi ini tak dibarengi jumlah lapangan kerja yang tersedia.  Akhirnya, istilah "Pengangguran Bertitel" bertebar di mana-mana.

Pengangguran intelektual nama lain dari sarjana menganggur.  Sedikit keren dibanding istilah pengangguran biasa yang tidak pernah mengenyam bangku perkuliahan.  Ada terselip kata intelektual. Yang artinya menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) ialah seorang cerdas,  berakal dan berpikir jernih. Namun,  kebanyakan gelar yang melegitimasi keintelektualan para sarjana tak sesuai perilaku penerima gelar tersebut. Mereka tak berdaya ketika dihadapkan pada persoalan kerja. Bahkan sering ditemukan fakta,  teman sebaya mereka yang tidak kuliah, banyak yang sukses di bidang ekonomi. Sehingga bermunculan sangkaan: sekolah tinggi ternyata tak menjamin seorang sukses di masa depan.

Ambil contoh Bob Sadino,  salah satu pengusaha sukses Indonesia. Meski sudah berpulang,  semasa hidupnya beliau dikenal berhasil sukses, tanpa sama sekali menginjak dunia perkuliahan. Untuk skala internasional ada Bill Gates, seorang terkaya di dunia.  Melejit sukses karena miscrosoft karyanya. Tapi sekali lagi Bill Gates, seorang yang tak menyelesaikan proses perkuliahan. Yang lagi familiar, Menteri Susi, seorang tamatan SMP, tapi diangkat Jokowi sebagai salah satu menterinya.

Masih banyak lagi orang-orang sukses di dunia meski tak pernah lulus kuliah. Dan anehnya, mereka-mereka juga mempekerjakan kumpulan karyawan atau bawahan yang lulusan perguruan tinggi. 

"Tidak sarjana tapi menjadi bos para sarjana?" Tentu ini menjadi pukulan telak bagi seorang sarjana tapi menganggur. 

Lantas, apa sebenarnya rahasia sukses Bill Gates, Bob Sadino dan Menteri Susi? Penulis beranggapan rahasianya: pola pikir mereka. Banyak sarjana menganggur akibat tujuan hidupnya hanya sebatas menjadi PNS atau karyaawan swasta. Para sarjana tersebut hanya berkutat pada dua keinginan tadi, karena pola pikir mereka: sukses itu ketika kita berhasil diterima sebagai PNS atau bekerja sebagai karyawan di sebuah perusahaan ternama.

Pada dasarnya, kampus berperan untuk membentuk pola pikir mahasiswa. Pola pikir yang siap menghadapi segala tantangan masyarakat. Percuma lulus kuliah berpredikat pujian, tapi saat sampai di masyarakat pola pikirnya, kalah oleh pola pikir seorang yang putus sekolah. Kalau sudah demikian, kita tak usah heran bila banyak sarjana yang menjadi babu seorang putus sekolah.

Pola pikir dibentuk oleh pengalaman indra. Entah lewat bahan bacaan, pengamatan lingkungan sekitar, mendengar pengalaman orang lain atau aktivitas organisasi. Sebelum meninggalkan dunia kampus, sebaiknya pola pikir setiap mahasiswa sudah harus terbentuk. Pola pikir yang siap menjawab tantangan dunia luar. Yang sering orang sebut sebagai dunia sesungguhnya. Sebab, pola pikir ibarat jalan untuk menemukan tujuan hidup dan bagaimna langkah-langkah menggapai tujuan itu.

Penulis : Marx Law
Tulisan ini pernah dimuat di buletin RISTEK (Risalah Teknik) LPM Urita, Edisi Perdana Oktober 2018.

Post a comment

0 Comments