INFOGRAFIS

header ads

Randi dan Yusuf, Apakah Kematian yang Sia-sia?

Mahasiswa demonstrasi (ilustrasi.dok)

Indonesia bergolak di tahun 2019. Berbagai persoalan telah menampar negeri. Mulai dari ihwal Papua, kebakaran hutan, harga-harga yang mencengkik, hutang luar negeri membengkak, dan berbagai macam persoalan lain yang semakin mendiskreditkan arti sebuah kemerdekaan suatu bangsa.

Namun, satu di antara semua persoalan, yang paling menyedot perhatian adalah ulah para wakil rakyat yang duduk di Senayan. Rentetan kejutan di ujung napas kedudukan mereka lahir. Undang-undang KPK dan RKHUP, dua di antaranya yang mengajak rakyat untuk menumpahkan aspirasi penolakan di jalan-jalan.

Jakarta memanas. Imam Nahrawi ditangkap. Anak STM ikut berpraktik di jalanan--menemani para mahasiswa. Di Yogyakarta ada Gejayan yang memanggil. Di Kendari pun demikian.

Tanggal 26 September 2019. Tanggal ini terkenang sebagai "September Berdarah". berakronim "Sedarah". Peristilahan, sebagai buntut dari aksi protes mahasiswa di Kantor DPRD Propinsi Sulawesi Tenggara yang berujung bentrok. Beberapa korban jiwa berjatuhan. Randi dan Yusuf meregang nyawa. Mereka mati akibat ditembak. Pembuktian belum sempat menvonis polisi adalah pelakunya. Masih sementara penyelidikan. Kendari berduka. Tidak lama, menyusul Indonesia berduka.

Ya, 2 nyawa melayang untuk menebus protes rakyat atas peraturan hasil buah pikiran mereka. Mereka yang katanya sebagai perwakilan rakyat. Namun, keberpihakan mereka, tak tahu entah kepada rakyat yang mana.

Undang-undang yang dilahirkan nyeleneh. Beberapa pasal RKHUP ditentang. Beruntung masih ditunda. Belum disahkan. Sebagian kekhawatiran rakyat  bisa sementara teredam. Satu hal lagi, KPK terkesan mau dilemahkan. Koruptor dibela. Mahasiswa terpecah. Ada yang membela dan ada yang mencaci perlawanan. Sekaligus ada yang mendukung para musuh rakyat. Mahasiswa kehilangan harta terakhir: idealisme. Mahasiswa pun ada yang sudi jadi hewan peliharaan pemilik kuasa.

Kembali pada soal Randi dan Yusuf. Kepergian mereka sangat menyulut duka. Begitu pun kemarahan. Kapolda berganti. Markas Polda terus dikunjungi aspirasi. Hingga kini, penembak yang menghilangkan 2 nyawa mahasiswa UHO tersebut masih misteri.

Desakan untuk mengusut tuntas kasus kematian Randi dan Yusuf tak berhenti  ramai. Mahasiswa yang awalnya pro pemerintah (mendukung pelemahan KPK) sekali pun ikut menuntut. Entah sekadar berani melawan Polri atau sekaligus mau melawan kebijakan pemerintah. Hanya Tuhan dan perkumpulan mereka sendiri yang tahu.

Nyawa Randi dan Yusuf telah hilang. Namun, apa yang menjadi tuntutan mereka berdua, yang sampai mengorbankan nyawa mereka sendiri belumlah terkabulkan. Hingga kini, Perpu untuk menggugurkan Undang-undang KPK belumlah terbit. RKUHP pun masih menunggu persetujuan.


Entah apa yang merasuki para pelaku gerakan di Kota Kendari. Apa yang yang telah diperjuangkan Randi dan Yusuf seakan terlupa. Seakan memubazirkan nyawa yang telah dikorbankan oleh Randi dan Yusuf. Isu utama ditinggalkan.

Mengawal pengusutan kasus Randi dan Yusuf adalah sebuah kewajiban. Demikian pula meneruskan perjuangan mereka. Tidak boleh tersisihkan. Sebab mereka berdua tidak sekadar kehilangan senior karena ditangkap KPK belaka, tapi nyawa. Sekali lagi nyawa. Atau memang kita benar, hanya sekadar banci yang bergaya hero ?

Oleh : Marx Law

Post a comment

0 Comments