INFOGRAFIS

header ads

Ketua BEM UHO Angkat Bicara Soal Kasus Terbunuhnya Yusuf Kardawi dan Randi

Foto : Randi dan M. Yusuf Kardawi

LPM Urita, Kendari - Kasus Meninggalnya dua mahasiswa Universitas Halu Oleo (UHO) saat aksi penolakan Rancangan Undang-undang (RUU) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), RKUHP, dan beberapa RUU yang dianggap bermasalah pada 26 September 2019 lalu, dianggap masih belum mencapai perkembangan berarti.

Tiga bulan lebih telah berlalu, serta dua kali pengembalian berkas kasus Randi oleh Kejaksaan Tinggi kepada Kepolisian Daerah Sulawesi Tenggara (Polda Sultra). Kemudian kasus Yusuf yang mengalami kemandekan pada tahap penyelidikan. Namun hal tersebut belum mampu menghilangkan rasa dahaga dikalangan mahasiswa.

Fandi Priyono, Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UHO menganggap kepolisian tidak serius dalam menangani kasus meninggalnya dua orang mahasiswa UHO. Hal ini terkait pengembalian berkas perkara yang kedua kalinya oleh jaksa kepada pihak Polda Sultra.

"Karena adanya beberapa petunjuk di P19 yang belum terpenuhi menurut saya ini adalah kejadian yang lucu, kenapa kemudian saya katakan demikian, bagaimana mungkin tim penyidik sekelas Polda Sultra melakukan hal yang sama? Bukannya dilengkapi, ini malah di setor lagi dengan kondisi tidak lengkap, kan lucu," ungkap Fandy melalui rilis persnya, Sabtu (18/1/2020).

Foto : Ketua BEM UHO

Mahasiswa Fakultas Teknik UHO ini turut menyesalkan terkait alpanya kasus terbunuhnya Yusuf dan Randi dalam penyampaian Kapolri Idham Azis saat melakukan kunjungan kerja di Markas Kepolisian Daerah (Mapolda) Sultra beberapa hari yang lalu.


“Saya sangat menyayangkan dalam kunjungan tersebut Kapolri hanya menunjukan sikap kepedulian terhadap lingkungan dan menyinggung soal pengamanan Pilkada serentak 2020," sesalnya.

Fandy berpandangan dalam penyampaian Idham Aziz saat kunjungan kerja di Mapolda hanyalah sebuat pencitraan semata. Terlebih lagi, kata Fandy pernyataan-pernyataan di media dari pihak Polda Sultra yang terkesan menunjukan ketidakmampuannya dalam menangani kasus ini. 

"Publik tentu berharap bahwa Polda Sultra betul-betul serius lebih dari sebuah pernyataan semata dalam menangani kasus ini, jangan sampai hanya karena sekelompok orang maruah Polda Sultra tergadaikan, integritas dan maruah Polda Sultra terlalu mahal untuk itu, publik masih menaruh keyakinan kepada pihak Polda Sultra untuk menyelesaikan kasus tersebut secepatnya. Tidak hanya itu kita berharap ada transparansi progres dari pada kusus ini," Jelasnya.

Selain itu, Ketua BEM UHO yang belum lama dilantik ini mengatakan tidak akan pernah berhenti apalagi melupakan kasus meninggalnya dua mahasiswa UHO, sampai kasus tersebut terselesaikan.

"Ini soal HAM, nyawa 2 mahasiswa yang dipaksa minggat dari raganya," tutup Fandy.

Laporan : Redaksi

Post a comment

0 Comments