INFOGRAFIS

header ads

Marx Law Menjawab Absurditas Tidak Enaknya Menjadi Dinda


Sumber : https://kavling10.com/2018/08/jangan-menunduk/

LPM Urita, Kendari - Terima kasih banyak atas kritikan dari salah satu pembaca tulisan saya: "Tidak Enaknya Menjadi Dinda", yang diterbitkan oleh LPM Urita 19 Januari lalu. Semestinya iklim seperti inilah yang perlu dilestarikan, demi menumbuh kembangkangkan tradisi literasi mahasiswa di UHO.   Tapi mau bagaimana lagi, memang di UHO selalu memilih jalan yang berbeda.

Baik. Terkait tulisan balasan yang diuraikan oleh pembaca yang sayangnya tidak mau memperkenalkan diri, di kesempatan ini saya mencoba untuk mengorek kembali tulisan saya yang  telah terbit itu.

Kanda dan Dinda, Kakak dan Adik, Senior dan Junior. Saya sama sekali tiada maksud untuk mendiskreditkan praktik peristilahan Kanda-Dinda yang sudah berkembang lama di ranah mahasiswa. Karena pada dasarnya semua sama saja. Sekadar pelafalan yang berbeda. Tulisan saya waktu itu, sekadar membuka secuil tabir penyimpangan praktik Kanda-Dinda/Kaka-Adik/Senior-Junior yang berlangsung dalam dunia gerakan mahasiswa.

Kekeliruan terbesar saya, terletak pada pragraf pembuka tulisan saya: "Tidak Enaknya Menjadi Dinda". Di bagian ini saya menyadari begitu rapuh. Sebab terlalu mengeneralisir eksistensi seorang Kanda. Ada premis yang kurang. Pada pembuka tulisan saya itu, seolah keberadaan semua Kanda/Kakak/Senior dikonotasikan buruk. Saya lalai, lupa memagari sebenarnya Kanda/Kakak/Senior spesies mana yang saya maksud.

Kelalaian saya berlanjut  di pembukaan paragraf 2. Kalimat, "Sebaik-baiknya Dinda . . .", saya kembali kurang memagari eksisistensi Dinda yang saya maksud. Padahal,  Kanda dan Dinda yang coba saya ulas pada paragraf 1, 2 adalah para Kanda yang tukang memanfaatkan Dinda (tidak semua Kanda), dan para Dinda yang sering dimanfaatkan oleh Kanda ( tidak semua Dinda). Semuanya dalam konteks gerakan.

Tata bahasa yang saya pakai untuk merangkai paragraf 1, 2 saya anggap memang kurang pas. Gagal mengantar maksud saya ke semua pembaca. Kelalaian saya akhirnya menyesatkan daya tangkap pembaca. Sehingga pembaca tidak berhasil masuk ke gerbang isi tulisan saya, yang saya letakkan di akhir paragraf 2.

Pun dengan si Anonim. Dari ulasannya terkesan ia terjebak pada pengantar tulisan saya, dan sekadar mengkritik pengantar itu. Pada tulisan sanggahannya, ia sama sekali tidak menyenggol isi tulisan saya. Saya begitu kecewa, tapi saya tetap angkat topi atas upaya si Anonim yang telah menanggapi tulisan saya. Setidaknya ini lebih berarti ketimbang mereka-mereka yang cuma tahu berkomentar kecut di bawah meja.

Pada dasarnya tulisan  saya ini: "Tidak Enaknya Menjadi Dinda", merupakan sebuah refleksi atas penyakit internal kekuatan gerakan mahasiswa. Lebih tepatnya musuh dalam selimut gerakan mahasiswa. Ya, mereka-mereka itu yang lihai menjual gerakan mahasiswa dengan memanfaatkan para Dinda dalam bergerak. Saya tidak menyebut tempat kejadian. Yang pastinya terjadi di suatu tempat di negeri ini. Kondisi demikianlah yang menjadi pijakan tulisan saya.

Terus si Anonim mempertanyakan soal tawaran konsep saya terhadap kontradiksi yang saya hadirkan dalam tulisan saya itu. Pertanyaan si Anonim saya anggap sebuah pertanyaan retoris. Si Anonim perlu membaca tulisan saya sampai tuntas--sampai paragraf 10 bukan 9, karena tawaran itu saya tempatkan di paragraf 10.

Lanjut, mengenai gaya ulasan saya. Saya cuma ingin bilang: saya bagian dari kaum kromo. Dalam bernarasi pun memakai gaya yang bisa dijangkau oleh kaum kromo. Sebab, saya pengagum tulisan-tulisan Phutut EA, penyuka tulisan-tulisan Agus Mulyadi, suka juga mengonsumsi esai-esai Muhidin M. Dahlan, pun dengan kumpulan catatan Dahlan Iskan--saya sangat menikmatinya. Barangkali dalam menulis, saya terpengaruh oleh mereka itu.

Saya pun berkesimpulan menulis memang begitu sederhana. Tidak perlu diperumit dengan pilihan diksi yang wah-wah. Tidak perlu gila pustaka. Yang terpenting: menulislah.

Jika tulisan saya dianggap tidak kredibel, itu bukan soal. Toh, yang menilai pun belum tentu kredibel.


Penulis : Marx Law

Post a comment

0 Comments