INFOGRAFIS

header ads

Menalar Absurditas Marx Law : Gugatan sabun Kanda-Dinda!

 
Sumber : http://heru-afandi.blogspot.com/2012/12/esensi-penting-pengkaderan-organisasi.html


Awalnya saya tertarik membaca tulisan pendek dari Marx Law yang berjudul "Tidak Enaknya Menjadi Dinda" yang saya pikir akan dengan cadas menggugat anak-pinak dari sebuah konsep hierarki dalam bermahasiswa.

Tetapi, setelah menelaah lebih jauh tulisan berjumlah sembilan paragraf itu, kita bisa beternak kecewa dengan ulasan tak menyertai empiris-pragmatis dari apa yang harus digugat dari nama besar Kakanda yang Ia maksud.

Paragraf pertama pada tulisan itu, terkesan paradox. Marx Law meletakkan problem eksistensi Kakanda yang mengada lewat aktivitas suruh-menyuruh, pemanfaatan di sektor kerja-kerja Dinda yang dimultifungsikan. Secara tidak langsung hal ini mengaminkan bahwa letak masalah kehierarkian Kakanda bukan pada persoalan kelas sosial.

Kita bisa menggugat dengan premis : Bagaimana jika Kakandanya baik? Tidak menyuruh-nyuruh? Tidak memultifungsikan? Apakah itu dapat terterima? Jika jawabanya iya, berarti ada yang gagap dalam mengurai sebuah problem. Sebab kapitalisme yang ramahpun tidak menghilangkan penyerapan nilai lebih dari kaum proletar. Selama ada konsep hierarki, maka selama itu ada pemangkasan ruang-ruang demokrasi yang sadar maupun tidak menggeregoti cita-cita kolektif.

Pada paragaraf kedua kita bisa beternak tawa : Ia menyoal kasus dengan asumsi “Sebaik-baiknya". Jika ditelisik lebih vulgar, maka Dinda yang tidak baik adalah Dinda yang tidak menurut sana-sini. Tetapi, tetap mengaminkan  kelas sosial eksistensi Dinda sebagai produk feodalis. Lagi-lagi apa yang gagap disitu adalah pemakluman pada perbedaan kelas yang menjadi reduksi utama dalam cita-cita revolusioner kaum ultra-nasionalis.

Aktivitas gerakan sosial demokratsi tak akan menerima kelas sosial sebagai sub-sub revolusi, tak ada pemakluman atas sebuah konsep penindas.

Pertanyaaanya, apa tawaran Marx Law dalam menggugat konsep hirarkis tersebut? Bergramatika lewat esai tak kredibel? Membangun narasi penggugatan tanpa memasukan pustaka? Membangun gerakan-gerakan yang elitis? Menggugat konsep feodalis tapi menindas di kampus sendiri? Anti penindas yang musiman?

Akui sajalah, kampusmu Orba-is!


Penulis - Anonim

Post a comment

0 Comments