INFOGRAFIS

header ads

Tantangan Seorang Sarjana di Kampung

Sumber : https://basugen69.wordpress.com/2010/05/20/kisah-sarjana-muda/

LPM Urita, Kendari - Beberapa bulan lalu kampus terbesar di Bumi Anoa ini, kembali menelurkan ribuan sarjana. Jumlah yang tidak sedikit. Terlebih, dalam setahun dapat berlangsung 3-4 kali pergelaran wisuda. Belum lagi, ribuan sarjana yang dihasilkan oleh kampus lain dan masih di Bumi Anoa. Begitu pun para sarjana yang diproduksi di luar Bumi Anoa, sehingga jumlah sarjana kian membludak di daerah ini.

Yang jadi persoalan besar  ketika terjadi surplus sarjana dalam suatu daerah, yakni ketersediaan lapangan kerja. Banyak sarjana kewalahan menyelesaikan persoalan ini. Akhirnya sarjana menganggur membanjir.

Betapa beruntung kalau ada seorang sarjana yang bisa langsung diterima lamarannya di perusahaan ketika usai wisuda. Atau menerima nasib mujur, berhasil lolos pada seleksi CPNS. Yang tersial tidak kedua-duanya, sehingga memilih pulang dan menetap di kampung halaman. Lalu mencoba membaur dan belajar beradaptasi dalam lingkungan masyarakat.

Kepulangan seorang sarjana di kampung halaman, tidak bisa dimungkiri diikuti pula rasa kebanggaan keluarga. Namun, bagi masyarakat awam dalam kampung, sekadar kebanggaan belumlah afdal. Menjadi seorang sarjana mutlak harus mendapat pekerjaan yang layak. Itulah anggapan mereka yang awam.

Sering kali bagi para sarjana baru yang tergerus hukum masyarakat, terbebani. Terkungkung oleh gelar dan tak mau melawan kekeliruan anggapan awam itu. Keinginan membaur akhirnya sirna terhapus oleh beban gelar yang tidak bisa mewujudkan ekspektasi tinggi yang keliru tadi.

Banyak sarjana yang mengurung diri di rumah. Dan bingung mau berbuat apa. Kalau pun ada seorang sarjana yang mampu membaur, ia harus mementalkan berbagai pergunjingan yang senantiasa menghujam.

Tidak diterima di perusahaan dan tidak lolos jadi PNS, seolah adalah akhir. Padahal seorang sarjana adalah mereka manusia pilihan. Yang memiliki kesempatan untuk mengenyam pendidikan tinggi. Tidak seperti para tani, para nelayan, dan para buruh, yang untung-untung mengenyam sekolah di bangku SD. Tapi, terkadang para sarjana menyia-nyiakan label intelektual yang tersemat pada diri mereka.

Seorang sarjana telah melalui kesempatan belajar lebih, selama masih menjadi mahasiswa. Mestinya dapat melakukan sesuatu hal yang lebih pula di masyarakat. Seperti misal, menciptakan sebuah terobosan baru yang nantinya berguna untuk masyarakat. Karena ketika kita mampu bermanfaat bagi masyarakat, masyarakat tidak akan pernah mempersoalkan, Engkau seorang PNS ? Apakah seorang direktur ? atau bukan.

Oleh : Marx Law

Post a comment

0 Comments